Timnas Indonesia: Ledakan Pemain Muda di SEA Games 1991 Bakal Terulang pada 2019?

Timnas Indonesia meraih medali emas SEA Games 1991 dari sepak bola. Tim Garuda Muda kini berpeluang mengulangi sejarah 28 tahun silam di SEA Games 2019.

Diterbitkan 09 Desember 2019, 11:35 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Jakarta - Timnas Indonesia meraih medali emas SEA Games 1991 di Filipina dari cabang olahraga sepak bola. Kala itu, Tim Garuda diperkuat sejumlah pemain muda berbakat.

Timnas Indonesia memboyong 18 pemain ke SEA Games 1991. Dari 18 nama, ada 10 pemain muda yang memiliki masa depan cerah, mulai Sudirman, Rochy Putiray, Widodo Cahyono Putro, hingga Peri Sandria.

Pelatih Tim Garuda saat itu, Anatoli Fyodorich Polosin, memadukan pemain muda tersebut dengan beberapa pemain senior macam Robby Darwis, Hanafing, Eddy Harto, dan juga sang kapten, Ferril Raymond Hattu.

Kombinasi pemain junior dan senior itu terbukti berjalan baik. Di bawah tempaan keras Polosin, Timnas Indonesia tampil impresif di SEA Games edisi ke-16 tersebut.

Meski lebih mengandalkan permainan fisik ketimbang menerapkan gaya penampilan indah, Tim Garuda mampu tampil gemilang. Timnas Indonesia tak sekalipun menelan kekalahan, dan berhasil meraih medali emas SEA Games 1991.

Setelah mengalahkan Malaysia (2-0), Vietnam (1-0), Timnas Indonesia yang lebih banyak menurunkan pemain lapis kedua pada pertandingan ketiga kontra Filipina. Indonesia pun tertinggal 0-1 dari Filipina pada paruh pertama.

Kendati begitu, Tim Merah-Putih mampu bangkit pada paruh kedua. Suntikan semangat yang diberikan Polosin di ruang ganti mampu membawa dampak positif.

Bola hasil penalti Raymond Hattu dan gol dari striker muda Rocky Putiray, membawa Timnas Indonesia berbalik unggul dan mengunci kemenangan 2-1 atas Filipina. Indonesia pun melenggang ke semifinal sebagai juara Grup B dengan nilai sembilan dari tiga pertandingan.

Pada fase semifinal, Tim Garuda menghadapi lawan yang tak kalah sengit. Robby Darwis dkk. bersua Singapura di Rizal Memorial Stadium, Manila, 2 Desember 1991.

Duel pun berjalan sengit sejak menit awal. Singapura yang kala itu diperkuat Fandi Ahmad dan V. Sundrammorthy, mampu merepotkan barisan belakang Timnas Indonesia.

Skor 0-0 bertahan selama 120 menit, dan penentuan pemenang harus dilakukan lewat adu penalti. Pada babak tos-tosan, Timnas Indonesia mampu memetik kemenangan dengan skor 4-2, dan berhak lolos ke final.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Pada partai puncak Timnas Indonesia berjumpa tim kuat di Asia Tenggara, Thailand. Menghadapi Thailand di Stadion Rizal Memorial, Tim Garuda tak diunggulkan, baik oleh publik sendiri ataupun media-media luar. Pasalnya, anak asuh Anatoli Polosin itu lebih mengandalkan kekuatan fisik ketimbang permainan cantik. Selain itu, Timnas Indonesia juga menghadapi Thailand, yang mengincar gelar keempat di SEA Games. "Sejauh yang saya lihat di media-media, waktu itu kami memang tidak diunggulkan," ujar Sudirman, libero Timnas Indonesia saat itu. "Hasil uji coba kami jelek, main bola saat itu juga tidak cantik, dan tidak punya pola permainan yang bagus. Kami hanya punya mental pemenang," lanjut Sudirman yang ketika SEA Games 1991 masih berusia 22 tahun. Berstatus underdog, Timnas Indonesia mampu tampil mengejutkan. Bermain tak kenal lelah, pemain Indonesia mampu merepotkan Timnas Thailand. Skor 0-0 bertahan hingga babak extra time dan laga berlanjut ke adu penalti. Eksekutor pertama kedua tim, Raymond Hattu dan Attapon Busbakom, menjalankan tugas dengan baik dan membuat skor menjadi 1-1. Thailand kemudian unggul 2-1 setelah tendangan Maman Suryaman mampu ditepis. Kedudukan berubah menjadi 3-2 untuk Thailand setelah eksekutor ketiga dari kedua tim sama-sama berhasil mengeksekusi penalti. Yusuf Ekodono lantas mengawali kebangkitan Tim Garuda setelah mengelabui kiper Thailand, Chaiyong. Kiper Timnas Indonesia, Eddy Harto, kemudian menjadi penentu setelah menahan tembakan Suksok. Tekanan adu penalti makin terasa setelah Widodo C. Putro dan Ranachai Busbakom gagal membobol gawang lawan. Namun, Timnas Indonesia akhirnya membalikkan keadaan setelah bola sepakan 12 pas Sudirman tak mampu dihalau kiper lawan. Setelah itu, Eddy Harto yang waktu itu berusia 29 tahun, memastikan kemenangan 4-3 untuk Tim Garuda, setelah memblok eksekusi Pairot. Timnas Indonesia menang dan berpesta setelah memastikan medali emas kedua sepanjang sejarah partisipasi di pesta olahraga se-Asia Tenggara itu. Sebelumnya, Indonesia meraih medali emas SEA Games 1987 di Jakarta. "Masih bisa saya rasakan bagaimana tegangnya kami waktu itu. Terpenting, Indonesia tak hanya bisa menang di Jakarta," ujar Eddy Harto beberapa waktu lalu.

Halaman
Show All
Rizki Hidayat, Bogi Triyadi, Aning JatiTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan