Sukses

Polemik PB Djarum-KPAI, Susy Susanti: Membina Atlet Tidak Bisa Bim Salabim

 

Liputan6.com, Jakarta - Susy Susanti menyangkal ada eksploitasi anak dalam audisi umum beasiswa bulu tangkis PB Djarum. Susy mengaku oleh orangtuanya sejak umur enam tahun sudah diikutkan dalam pertandingan-pertandingan. Dia juga sempat dipanggil klub-klub besar seperti Djarum dan Jaya Raya.

"Kalau eksploitasi anak, kita bisa tanyakan kepada para orangtua. Mungkin saya salah satunya," kata legenda bulu tangkis Indonesia itu dalam jumpa pers di GOR Satria, Purwokerto, Senin (9/9/2019).

"Tidak ada eksploitasi. Itu keinginan. Keinginan orangtua dan keinginan anaknya," ucap peraih medali emas Olimpiade 1992 di Barcelona itu.

Pernyataan Susy ini terkait tudingan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) kepada PB Djarum. Lembaga ini menuding ada pemanfaatan anak-anak untuk mempromosikan produk Djarum yang identik dengan rokok, dalam audisi tersebut.

Susy yang terlibat dalam audisi umum di Purwokerto sebagai pemandu bakat, menegaskan membina pemain tak bisa dilakukan dengan singkat. "Juara-juara yang lahir itu tidak mungkin pada saat usia18 tahun baru belajar, langsung instan, bin salabim langsung menjadi juara dunia. Tidak mungkin, butuh waktu berpuluh-puluh tahun," katanya.

Juara dunia bulu tangkis 1993 tersebut menekankan olahraga tidak seperti kontes-kontes idol. "Olahraga berbeda dengan idol. Olahraga itu kemampuan, di mana setiap hari kita berlatih, bekerja keras, dididik bagaimana kita mesti kuat, rajin, disiplin, dan semuanya itu harus dilalui dengan keahlian masing-masing," ucap Susy soal polemik antara PB Djarum dan KPAI.

"Tidak dalam hitungan satu-dua hari, nangis-nangis dikit, SMS banyak, langsung jadi juara. Jadi harus dibedakan. Bulu tangkis itu membuat karakter anak itu menjadi mandiri, sportif."

 

 

2 dari 3 halaman

Korban Eksploitasi

Susy mengatakan, jika memang audisi PB Djarum diindikasikan ada eksploitasi, tolong tunjukkan dimananya. "Jika diindikasi audisi ini ada eksploitasi, berarti saya, Kevin (Sanjaya Sukamuljo), Hendra / Ahsan, Butet / Owi itu adalah hasil eksploitasi," ucapnya.

"Tapi apakah hasilnya itu negatif atau positif? Ternyata kita mengibarkan Merah Putih. Dan yang mengibarkan Merah Putih dan mengumandangkan Indonesia Raya, itu hanya presiden dan atlet."

"Jadi kalau eksploitasi, kita kembalikan ke masyarakat. Apakah masyarakat merasa bahwa kalau kita memberikan prestasi kepada bangsa, apakah itu eksploitasi? Tidak. Jadi saya rasa agak keliru, ternyata eksploitasi itu justru kita menghasilan suatu prestasi. Ini pembinaan," tambah Susy.

3 dari 3 halaman

Belum Bisa Seperti Tiongkok

Susy menambahkan bahwa Indonesia belum bisa seperti di Tiongkok, di mana semua pembinaan atlet ditanggung oleh negara.

"Semua anak-anak kecil dikumpulkan pemerintah lalu dibiayai pemerinta. Mereka dilatih. Semuanya jadi anak bangsa, anaknya pemerintah dan dijamin sampai selesai, pensiun. Sementara di Indonesia, saat kita latihan, kita biaya sendiri," ujarnya.

Loading
Artikel Selanjutnya
Drama KPAI vs PB Djarum Usai, Audisi Bulu Tangkis Berlanjut Tanpa Cantumkan Brand Rokok
Artikel Selanjutnya
Polemik Berakhir, KPAI Ucapkan Terima Kasih ke PB Djarum