6 Skandal Pengaturan Skor yang Mengguncang Sepak Bola Dunia

Ada pihak yang merusak esensi dari sepak bola demi keuntungan sendiri dengan mengatur alur atau hasil pertandingan.

Diterbitkan 07 Juni 2019, 19:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Jakarta - Status sepak bola sebagai cabang olahraga paling populer di dunia tidak terbantahkan. Pecinta antusias menunggu hasil pertandingan yang tidak bisa ditebak. 

 

Namun, ada pihak yang merusak esensi dari sepak bola demi keuntungan sendiri dengan mengatur alur atau hasil pertandingan.

Berbagai penangkapan yang dilakukan di Spanyol berkaitan dengan dugaan pengaturan skor yang terjadi di divisi kedua (Segunda Division) dan beberapa pertandingan divisi teratas (La Liga) mengingatkan kembali mengenai berbagai kasus lainnya yang pernah terjadi di dunia.

Walau sudah jelas melanggar peraturan, pengaturan skor tetap menjadi salah satu noda dalam sejarah sepak bola dunia, tak terkecuali di Indonesia. Berikut adalah lima skandal pengaturan skor dalam dunia sepak bola internasional.

Jerman Barat Vs Austria (1982)

Umumnya pertandingan terakhir dalam fase grup sebuah turnamen diadakan secara bersamaan, tetapi hal ini belum terjadi pada Piala Dunia 1982 yang diadakan di Spanyol. Pertandingan yang mendapatkan sorotan saat itu adalah laga antara Jerman Barat dan Austria.

Saat itu Jerman Barat dan Austria berhadapan dalam laga terakhir dan memahami bahwa kemenangan 1-0 untuk Jerman Barat akan membuat kedua tim lolos dan menyebabkan Aljazair tersingkir.

Kurang dari sepuluh menit pada babak pertama, Jerman Barat langsung mendapatkan keunggulan yang akan membuat mereka dan Austria lolos. Pada akhirnya kedua tim hanya memberikan umpan satu sama lain hingga akhir pertandingan. Momen ini disebut "Laga Memalukan di Gijon" dan menyebabkan FIFA membuat peraturan baru dengan menyelenggarakan setiap laga terakhir fase grup pada waktu bersamaan.

Marseille Vs Valenciennes (1993)

Olympique Marseille di Prancis sedang berada pada puncak kesuksesan mereka pada 1993 setelah mendapatkan gelar juara Champions League pertama dan juga titel Ligue 1 untuk empat kali secara beruntun. Namun pada tahun itu juga mereka terlibat dalam kasus yang menodai sejarah mereka.

Bernard Tapie yang saat itu berposisi sebagai pemilik Marseille terbukti telah memberikan sogokan kepada Valenciennes untuk mengalah agar timnya dapat menghindari cedera jelang laga final Champions League.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Kasus itu membuat Marseille terdegradasi ke Ligue 2 dan Tapie dilarang untuk terlibat dalam dunia sepak bola dalam sisa hidupnya.

Halaman
Show All
Ario Yosia, Harley IkhsanTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan