Ovrebo Akui Bersalah

Tom Henning Ovrebo mengaku melakukan sejumlah kesalahan di laga kontroversial leg kedua semifinal Liga Champions antara Chelsea dan Barcelona di Stamford Bridge, 6 Mei 2009.

Diterbitkan 18 April 2012, 16:50 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Liputan6.com, Oslo: Tom Henning Ovrebo, wasit yang memimpin jalannya laga kontroversial leg kedua semifinal Liga Champions musim 2008-2009 antara Chelsea dan Barcelona yang berlangsung di Stamford Bridge, 6 Mei 2009, mengakui jika dirinya telah melakukan sejumlah kesalahan di laga tersebut yang membuat The Blues gagal melangkahkan kakinya ke babak final.

Pengakuan wasit kelahiran Oslo, Norwegia, berusia 45 tahun itu, dilontarkan menjelang bertemunya kembali kedua tim elite Eropa tersebut di leg pertama semifinal Liga Champions musim ini yang akan berlangsung nanti malam di Stamford Bridge.

Tiga tahun lalu, Ovrebo menjadi “musuh” Chelsea menyusul keputusannya yang dinilai kontroversial tak mau memberikan hadiah penalti kepada tuan rumah yang saat itu masih ditangani manajer asal Belanda Guus Hiddink. Walhasil, Barca yang mencetak gol telat lewat tendangan spektakuler Andres Iniesta di injury time lolos dengan keunggulan gol tandang.

Seusai pertandingan berakhir, Ovrebo pun menjadi sasaran kemarahan Michael Ballack dan Didier Drogba. Pun demikian dengan pendukung Chelsea yang kemudian melontarkan ancaman pembunuhan. Ovrebo mengakui jika sampai saat ini ia masih menerima pesan ancaman tersebut. Lebih jauh, Ovrebo mengakui jika di laga kontroversial tersebut ia tidak menerapkan aturan pertandingan sebagaimana mestinya.

“Saya masih menerima ancaman pembunuhan itu, tapi seketika itu saya tepikan. Saya tidak menanggapinya dengan serius, meskipun kadang saya heran dan ingin mengetahui sosok pengirimnya. Baru saja kemarin saya mendapat email dari seorang fans Chelsea yang ingin membunuh saya dan keluarga saya,” ujar Ovrebo yang sehari-hari bekerja sebagai psikolog itu.

“Setiap orang yang tahu dengan aturan pertandingan tentunya tahu jika seharusnya di laga tersebut saya membuat keputusan yang berbeda. Tapi, itulah kehidupan seorang wasit. Namun, anehnya, saat itu saya benar-benar merasa puas dapat bersikap tenang dalam menangani situasi yang begitu panas,” ujarnya. “Di lapangan saya telah melakukan yang terbaik yang dapat saya lakukan. Jadi, saya berpikir saya tidak perlu meminta maaf. Sebab, kesalahan sepertri itu adalah bagian dari pertandingan,” tegas Ovrebo.

Menyusul insiden pasca-pertandingan, UEFA menjatuhkan skorsing lima partai kepada Drogba dan tiga laga bagi Jose Bosingwa. Ovrebo mengakui jika ia tidak menaruh dendam terhadap striker andalan Pantai Gading tersebut.

“Laga yang benar-benar menantang yang ditandai dengan insiden kemarahan seusai peluit akhir berbunyi. Sejumlah pemain terlalu emosial dan bertindak buruk, tapi tidak ada satu pun yang terbunuh. Penting artinya untuk memandang dari prospektif yang sebenarnya. Hal itu yang membantu saya. Jika saya mampu mengatasi teriakan Drogba, maka saya dapat mengatasi hal-hal lainnya. Padahal, saya pikir ia (Drogba) adalah sosok yang baik, beneran,” tandas Ovrebo.

Malam nanti Chelsea berkesempatan membalaskan dendamnya terhadap Barcelona. Salah satu faktor penting di laga tersebut adalah sikap fair yang ditunjukkan pengadil di lapangan. Tiga tahun lalu beban itu berada di pundak Ovrebo. Kali ini, beban itu bakal disematkan pada wasit muda asal Jerman yang juga bekerja sebagai pengacara: Felix Brych.(MEG/Soccernet)

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Prediksi Portugal vs Uzbekistan: Polemik Cristiano Ronaldo

Tim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan