KOLOM: Buaian Mimpi Napoli

Napoli sedang melambung tinggi di serie A, bisakah jadi juara? Simak ulasannya di sini.

Diterbitkan 06 Oktober 2017, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Tujuh giornata berlalu di Serie A, Napoli mengemas hasil menakjubkan. Klub arahan Maurizio Sarri tersebut selalu menang. Itu prestasi istimewa. Baru musim ini Napoli sanggup membukukan hal itu. Sebelumnya, prestasi terbaik mereka adalah sempurna dalam lima giornata saja pada 1987-88.

Tak hanya itu, I Partenopei juga menunjukkan ketajaman luar biasa. Sebanyak 25 gol berhasil dijejalkan ke gawang lawan. Jika dibandingkan dengan hasil klub-klub lain di lima liga besar Eropa dalam tujuh pekan awal, merekalah yang tersubur. Barcelona hanya mencetak 23 gol, Manchester City pun hanya membuat 22 gol.

Adakah ini pertanda Napoli tak akan teradang untuk merebut Scudetto yang tak ubahnya impian lama bagi mereka? Banyak orang optimistis akan hal itu. Apalagi mereka yang sudah jenuh melihat Juventus merengkuh Scudetto dalam enam musim ke belakang.

Bagi Napoli, Scudetto memang baru sebatas mimpi belakangan ini. Mereka terakhir kali merebutnya pada 1989-90 bersama Il Dio, Diego Armando Maradona. Setelah itu, prestasi terbaik I Partenopei hanyalah runner-up. Itu diraih pada 2012-13 dan 2015-16.

Kini, impian itu kian nyata. Modal yang ada pun terbilang memadai. Dalam sembilan musim terakhir, tak pernah mereka terlempar dari 6-besar. Lalu, sejak Maurizio Sarri datang dari Empoli, I Partenopei selalu bercokol di 3-besar.

Musim ini, kepercayaan diri bisa lebih meningkat lagi. Hasil sempurna dalam tujuh giornata biasanya berujung Scudetto. Dalam tujuh kesempatan terdahulu, hanya ada dua anomali. Artinya, dengan modal itu, kans Napoli juara mencapai 71,43 persen.

Kiper Napoli Pepe Reina merayakan kemenangan Napoli atas AS Roma pada laga Serie A di Olimpico, Roma, Sabtu (4/3/2017). (AFP/Filippo Monteforte)

Jikapun ada yang cukup mengganjal, hanya Juventus dan AC Milan yang juara dengan modal itu. I Bianconeri dalam empat kesempatan, I Rossoneri dalam dua kesempatan. Adapun Inter Milan dan AS Roma gigit jari. Bahkan, I Giallorossi menelan pil pahit itu saat mengawali musim dengan sepuluh kemenangan beruntun pada 2013-14. Bagaimana dengan Napoli?

 

 

 

 

Tanpa Beban

Itu pula rupanya yang membuat Sarri tak terlalu semangat berbicara soal Scudetto. Usai timnya membukukan rekor kemenangan dalam tujuh giornata awal, dia malah menyanjung sang pesaing berat, Juventus. Menurut dia, I Bianconeri saat ini adalah yang terbaik dalam enam tahun terakhir.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Sarri pun menandaskan, urusan Scudetto bukan melulu tergantung performa timnya, melainkan juga penampilan 19 klub lain yang berkiprah di Serie A. Dalam beberapa tahun terakhir, kata dia, banyak orang yang meramalkan mereka juara. Namun, faktanya, selalu Juventus yang merengkuh Scudetto. Sarri rupanya ingin menjauhkan anak-anak asuhnya dari beban ekspektasi berlebihan. Dia tak ingin Hamsik dkk. terlena oleh sanjungan puja-puji hingga lupa menjejak bumi. Padahal, seperti yang dialami Roma dan Inter, awal baik bukan jaminan untuk meraih akhir yang juga baik. Lagi pula, Napoli belum benar-benar teruji. Dalam tujuh giornata awal, Lazio adalah satu-satunya klub besar yang dihadapi. Mereka memang menang, tapi itu tak terlepas dari kondisi I Biancoceleste yang belum oke. Andai bertemu pada giornata ke-6 atau 7, hasilnya bisa saja berbeda. Hal yang paling berbahaya memang buaian puja-puji. Tak terkecuali dari mantan bintang I Partenopi macam Antonio Careca dan Jose Altafini. Keduanya yakin Napoli akan mengakhiri paceklik Scudetto. Alasannya, I Partenopei adalah tim dengan permainan terbaik saat ini. Pujian atas performa Hamsik cs. Juga dilontarkan Cafu, mantan penggawa AS Roma, dan mahaguru sepak bola Italia, Arrigo Sacchi. Cafu menilai Napoli saat ini selalu menampilan sesuatu yang lebih baik dari Juventus. Adapun Sacchi menyebut I Partenopei sebagai tim paling harmonis di Italia saat ini. Puja-puji semacam ini sudah terbukti melenakan. Dua musim lalu, Napoli tetap saja gagal juara meskipun sang petahana sempat mengawali musim dengan buruk dan secara statistik tak mungkin lagi mempertahankan Scudetto. Sarri tak mau ini terulang. Maka dari itu, dia sebisa mungkin mengenyahkan ekspektasi berlebihan dari pundak para pemainnya.

Halaman
Show All
Liputan6.com, Defri SaefullahTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan