KOLOM: Menggugat Marquee Player di Liga 1

Apakah Marquee Player di Liga 1 benar-benar spesial? Simak ulasan Asep Ginanjar di kolom ini.

Diterbitkan 14 April 2017, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta #ligabarusemangatbaru, tagar itu berseliweran di linimasa sejak peluncuran Gojek Traveloka Liga 1, Senin (10/04/2017), di Hotel Fairmont, Jakarta. Sebuah tagar yang terkesan biasa, namun punya makna tak biasa. Ada harapan sekaligus tekad besar terselip di sana. Harapan akan sebuah kompetisi baru yang lebih meriah, menarik, dan tentu saja wah.

Akhir pekan ini, kick off Liga 1 akan dilakukan di Stadion Gelora Bandung Lautan Api. Dua juara Piala Presiden, Persib Bandung (juara 2015) dan Arema Cronus (juara 2017), akan berjibaku menunjukkan semangat dan napas kompetisi baru itu. Pertemuan dua juara Piala Presiden ini tentu menjadi pembuka yang sangat menarik.

Ada banyak hal baru di kompetisi yang operatornya juga baru dan namanya pun mengandung kata "baru", PT Liga Indonesia Baru (LIB). Salah satunya tentu soal keberadaan marquee player, pemain dengan kriteria khusus yang ditetapkan PSSI. Dia harus tampil di salah satu dari tiga edisi terakhir Piala Dunia. Kalaupun tidak, dia haruslah punya pengalaman berlaga di kompetisi teratas di Inggris, Italia, Spanyol, Jerman, Belanda, Prancis atau Portugal dalam delapan musim terakhir.

Dalam laga perdana nanti, aksi marquee player juga akan jadi sajian tersendiri. Persib punya Michael Essien yang secara resmi terdaftar sebagai marquee player. Selain itu, ada Carlton Cole yang juga memenuhi kriteria karena sempat membela West Ham United di Premier League pada kurun delapan tahun terakhir.

Pemain anyar Persib Bandung, Michael Essien. (Liputan6.com/Kukuh Saokani)

Marquee player sebetulnya bukan perkara anyar di kancah sepak bola Indonesia. Di gelaran Liga Primer Indonesia (LPI) pada 2011, klub-klub juga diperbolehkan memiliki marquee player. Lee Hendrie dan Amaral adalah dua di antaranya. Namun, LPI kala itu adalah breakaway league, kompetisi yang tak diakui PSSI. Kini, aturan soal marquee player berlaku di kompetisi resmi.

Keberadaan pemain berkriteria marquee player yang sekarang dipakai PSSI pun bukan hal baru. Roger Milla, Maboang Kessack, Pierre Njanka, Jules Onana, Mario Kempes, Ivan Bosnjak, Eric Djemba-Djemba, dan Marcus Bent pernah mewarnai jagat sepak bola negeri ini walau hanya berstatus pemain asing biasa.

Meski begitu, Essien cs. tetaplah fenomena yang tak bisa dinafikan begitu saja. Mereka bahkan barometer bagi Liga 1. Sebagai marquee player, mereka diharapkan bisa mendongkrak pamor kompetisi, memperelok permainan, dan meningkatkan finansial klub. Gagal memenuhi harapan itu, berarti Liga 1 pun bisa dikatakan gagal dalam mengejawantahkan tagar #ligabarusemangatbaru.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Bagi awam, ketika mendengar marquee player, secara otomatis yang terbayang adalah sosok David Beckham di Major League Soccer (MLS) dan Alessandro Del Piero di Indian Super League (ISL). Mereka bukan hanya pemain brilian, melainkan selebritas lapangan hijau. Mereka punya pengaruh besar di dalam dan luar lapangan. Meski datang ke liga semenjana saat beranjak tua dan di ujung karier, pesona mereka masih luar biasa.Sejatinya, marquee player memang harus seperti itu. Hanya sosok superstar yang bisa menaikkan kualitas kompetisi. Hanya sosok selebritas pula yang bisa mendongkrak popularitas liga. Marquee player dibayar mahal untuk menjadi katalisator dua hal itu.Bila ditelaah, ISL mengusung konsep marquee player yang sama dengan di Liga 1 musim ini. Namun, sejak diberlakukan pada 2014, nama-nama yang direkrut sebagai marquee player tetaplah berkategori superstar pada masa jayanya. Dari nama-nama yang pernah dan sedang beredar saat ini, sosok yang bisa dikatakan bukan superstar mungkin Aaron Hughes dan Joan Capdevilla. Namun, tetap saja, nama keduanya tidaklah asing di telinga. Itu karena All Indian Football Federation (AIFF) menegaskan, pemain asing yang tidak pernah berlaga di turnamen internasional (Piala Dunia, Piala Eropa, Copa America, Piala Afrika, Piala Asia) bisa saja menjadi marquee player asalkan pernah membela klub bereputasi internasional di kompetisi yang juga bereputasi internasional dan berstatus penggawa timnas negaranya. Jadi, andai hanya pernah membela Paderborn di Bundesliga atau Evian di Ligue 1, kecil kemungkinan seorang pemain jadi marquee player.Beda halnya dengan di Liga 1 musim ini. Peter Odemwingie yang direkrut Madura United, Shane Smeltz (PBFC), Jose Coelho (Persela), Wiljan Pluim (PSM) jelas tak setara dengan para marquee player ISL. Coelho dan Pluim bahkan belum pernah membela timnas masing-masing. Satu-satunya pemain yang bisa dikatakan marquee player adalah Essien yang pada masa emasnya memang termasuk salah satu bintang dunia.Odemwingie bolehlah dikenal publik. Namun, itu karena dia pernah berkiprah di Premier League yang selama bertahun-tahun selalu ditayangkan stasiun televisi di negeri ini. Namun, dia tidak pernah menjadi bintang di klub besar. Striker asal Nigeria tersebut hanya berkiprah di klub-klub semenjana: West Bromwich Albion, Cardiff City, dan Stoke City. Di timnas Nigeria pun namanya kalah besar dari Nwankwo Kanu, Obafemi Martins atau Julius Aghahowa. Kasarnya, dari deretan marquee player Liga 1 saat ini, mayoritas tergolong "not so special". Lalu, apa yang bisa dituntut dari marquee player seperti ini? Rasanya sulit berharap banyak. Apalagi sampai membayangkan Liga 1 dikenal di seantero Planet Bumi berkat mereka.Memang benar, Indonesia berbeda dengan Amerika Serikat, India, dan Australia. Kultur sepak bola di negeri ini jauh lebih besar dan kuat walaupun prestasinya begitu-begitu saja. Indonesia tak butuh Beckham dan Del Piero untuk menyedot penonton memenuhi stadion pada hari pertandingan. Namun, fungsi marquee player bukan hanya itu. Dia juga sosok yang jadi wajah liga di pelataran dunia. Lagi pula, bila tidak istimewa, apa bedanya marquee player dengan pemain asing biasa?

Halaman
Show All
Defri SaefullahTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan