KOLOM: Selamat Tinggal Tahun Penuh Kejutan!

Tahun 2016 menjadi tahun penuh kejutan di dunia sepak bola. Simak ulasan Asep Ginanjar soal ini.

Diterbitkan 30 Desember 2016, 08:12 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Bukan hanya di negara-negara lain, tahun anomali juga berlaku di Indonesia. Tepatnya di ajang Piala AFF. Timnas Indonesia yang semula diragukan berprestasi karena menghadapi banyak kendala, justru sanggup melaju ke partai puncak walaupun akhirnya harus mengakui kekalahan agregat 3-2 dari Thailand.

Sepanjang turnamen, hanya sang juara yang mengalahkan Indonesia. Sekali di penyisihan grup, sekali di partai final. Namun, Indonesia juga satu-satunya tim yang sanggup menang atas sang juara, yakni pada final pertama dengan skor 2-1.

Kejutan Lanjutan

Kejutan-kejutan itu membuktikan ungkapan Der Ball ist Rund. Karena bentuknya yang bulat, bola bisa bergulir ke segala arah dengan kemungkinan yang sama. Tak ada yang mustahil. Prestasi bukan hanya milik tim-tim besar dengan tradisi kuat, melainkan juga bisa direngkuh tim-tim semenjana.

Rentetan kejutan sepanjang 2016 pun membuktikan bahwa kesuksesan tak hanya ditentukan oleh faktor-faktor teknis semata. Faktor-faktor nonteknis, terutama luck dan motivasi juga ikut menentukan.

Asa melihat kejutan serupa berlanjut pada tahun depan tetap besar. Thomas Berthold, eks defender timnas Jerman, di laman Deutsche Welle terang-terangan ingin melihat kejutan besar di Bundesliga. "Semoga Bayern gagal menjadi juara lagi walaupun alternatifnya cuma RB Leipzig!" harap dia.

Di Prancis, harapan melihat juara baru juga terbilang kuat. Kebosanan melanda karena Paris Saint-German selalu menjadi yang terbaik dalam empat musim terakhir. Geliat Nice membuat harapan itu sangat beralasan. Setidaknya, dalam empat dekade terakhir, lebih dari 50 persen Champion d'automne bisa mengakhiri kompetisi sebagai kampiun.

Ekspresi para pemain RB Leipzig usai kalah 0-3 dari Bayern Munich pada lanjutan Bundesliga Jerman di Stadion Allianz-Arena, (21/12/2016). Bayern menang 3-0.  (REUTERS/Michael Dalder)

Rolland Courbis, pelatih kawakan Prancis yang pernah menangani Olympique Marseille, Girondins Bordeaux, dan HSC Montpellier, adalah salah satu yang mengharapkan hal itu. "Tanpa cedera pemain, tak lagi berpartisipasi di Eropa, sonder berlaga di Coupe de France lagi, mengapa tidak?" ujar dia di Radio RMC.

Pelatih Toulouse, Pascal Dupraz, sependapat dengan Courbis. Usai timnya kalah 0-3 dari Nice, awal Desember lalu, dia berkata, "Nice membuat saya berpikir tentang Leicester musim lalu. Mereka punya kedinamisan, kesegaran, fondasi teknik yang baik, dan pemain-pemain pilar oke. Saya melihat Nice membuat banyak kemajuan."

Kiprah Nice memang mengingatkan pada Leicester. Namun, langkah mereka tampaknya akan lebih berat. Meski menguasai klasemen dalam 13 pekan, anak-anak asuh Lucien Favre belum menunjukkan konsistensi performa. Itu yang membuat mereka kini hanya unggul dua poin dari AS Monaco yang jauh lebih produktif. Armada Leonardo Jardim bisa saja membuyarkan impian Dante dkk. membuat dongeng indah seperti The Foxes.

Tantangan Berat

Bila menengok ke belakang, tahun penuh kejutan memang tak muncul secara beruntun. Ambil contoh 2004. Ketika itu, Yunani juara Euro, FC Porto dan Monaco bertemu di final Liga Champions, dan SV Werder Bremen juara Bundesliga.

Tahun berikutnya, kejutan serupa tak muncul. Jikapun dipaksakan, mungkin yang terbilang mengejutkan adalah keberhasilan Liverpool menjuarai Liga Champions lewat adu penalti walaupun sempat tertinggal 0-3 dari AC Milan pada babak pertama.

Itu karena tim-tim besar dengan tradisi juara biasanya melakukan pembenahan serius setelah musim penuh kejutan. Mereka terlecut untuk mencegah hal serupa terulang. Mereka tak sudi kehilangan muka dua kali.

Musim ini, gejala itu sudah terlihat di Premier League. Papan atas saat ini kembali dikuasai tim-tim besar. Adapun Leicester, sang juara bertahan, kembali ke khitah sebagai tim semenjana. Walau lolos dari fase grup Liga Champions, The Foxes terseok-seok di papan bawah.

Pau Norbert Cebrian Devis (paling kanan), asisten wasit El Clasico, 3 Desember 2016. (Marca).

Di Italia dan Spanyol, klub-klub tradisional juga masih dominan. Sulit berharap muncul juara baru di Serie A dan La Liga. Di Italia, sepertinya Juventus lagi-lagi akan merebut Scudetto keenam secara beruntun. Di Spanyol, gelar juara tampaknya bakal tetap jadi milik Madrid atau Barcelona.

Meski demikian, kejutan bukan tak mungkin muncul. Kans terbesar ada di Prancis dan Jerman. Namun, melihat gelagat yang ada, sepertinya gelar juara akan tetap jadi milik tim-tim besar, bukan mereka yang semenjana. Bayern di Bundesliga serta Monaco atau PSG di Ligue 1 tak akan membiarkan klub semenjana meraja.

Di Liga Champions, walaupun banyak klub semenjana yang lolos dari fase grup, kans juara tetap milik para langganan. Madrid, Barcelona, dan Bayern tetap jadi favorit juara. Jikapun muncul juara baru, sangat mungkin itu adalah Juventus yang menunjukkan performa apik di ajang ini dalam beberapa musim terakhir.

*Penulis adalah pengamat sepak bola dan komentator. Tanggapi kolom ini @seppginz.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Defri SaefullahTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan
  • liputan6
    Perayaan Tahun Baru adalah momen global yang ditandai dengan berbagai tradisi dan kebiasaan unik di seluruh dunia, seringkali melibatkan refleksi, harapan baru, dan kebersamaan.
    Tahun Baru
  • RB Leipzig ialah sebuah klub sepak bola yang berasal dari Jerman
    RB Leipzig ialah sebuah klub sepak bola yang berasal dari Jerman
    RB Leipzig
  • Leicester City berhasil membuat kejutan di Liga Primer Inggris setelah musim 2015-2016 membawa trofi Liga Primer Inggris Pertamanya
    Leicester City berhasil membuat kejutan di Liga Primer Inggris setelah musim 2015-2016 membawa trofi Liga Primer Inggris Pertamanya
    Leicester City
  • kolom bola