KOLOM: Hattrick Sevilla dan 'Penyakit' Emery

Simak ulasan Asep Ginanjar soal sukses Sevilla cetak sejarah di Liga Europa.

Diterbitkan 20 Mei 2016, 08:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Sejarah demi sejarah terus tercipta di kancah sepak bola pada 2016 ini. Leicester City juara Liga Inggris untuk kali pertama, Bayern Muenchen mencetak rekor juara empat kali beruntun di Bundesliga 1, Gianluigi Buffon mematahkan rekor clean sheet di Serie-A. Lalu, Kamis (19/5/2016) dinihari WIB, giliran Sevilla dan pelatih Unai Emery yang membuat cerita besar.

Baca Juga

  • Hanya Mourinho yang Bisa Kembalikan Kejayaan MU
  • Hajar Liverpool, Sevilla Hattrick Juara Liga Europa
  • Sergio Van Dijk Ungkap Alasannya Tinggalkan Persib

Di Stadion St. Jakob Park, Basel, Sevilla mengalahkan Liverpool dalam laga final Liga Europa 2015-16. Kemenangan itu menjadikan mereka sebagai klub pertama yang mencetak hattrick juara Liga Europa.

Seperti timnya, Emery menjadi pelatih pertama yang menjuarai Liga Europa tiga kali beruntun. Giovanni Trapattoni juga memang tiga kali menjuarai ajang ini. Namun, pelatih asal Italia tersebut tak meraihnya secara berturut-turut.

Keberhasilan Sevilla dan Emery tersebut memastikan dua trofi kejuaraan antarklub Eropa tetap berada di Spanyol untuk tiga tahun beruntun. Itu karena final Liga Champions pada 28 Mei nanti mempertemukan sesama klub Spanyol, Real Madrid dan Atletico Madrid.

Meski bersejarah, pencapaian Sevilla tak lantas jadi kisah yang demikian menghebohkan. Itu karena kesuksesan mereka hanya di Liga Europa. Bagaimanapun, ini adalah kasta kedua di kancah Eropa. Belakangan, ajang ini pun jadi tempat klub-klub yang gagal di fase awal Liga Champions. Musim ini, anak-anak asuh Emery juga menyandang predikat itu.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Apalagi Sevilla bukanlah Barcelona dan Real Madrid yang kaya-raya dan punya banyak fans di pelbagai penjuru dunia. Bahkan Raja Spanyol Felipe VI tak sudi hadir di Basel. Presiden Sevilla, Jose Castro, tak kuasa menahan kekecewaan karena tahun lalu pun sang raja tak mau menyaksikan laga final mereka menghadapi Dnipro Dnipropetrovsk di Warsawa, Polandia. "Saya menghomati hal itu. Tapi, orang-orang juga tidaklah buta. Mereka melihat Yang Mulia hadir di dua laga semifinal Liga Champions, namun tak mau menyaksikan kami di Warsawa pada tahun lalu," ucap Castro dengan getir seraya menengarai mereka tak mendapat perhatian karena berasal dari Andalusia. Selalu Ditinggal BintangPadahal, karena bukan siapa-siapa itulah keberhasilan Sevilla jadi istimewa. Los Rojiblancos memang bukan Leicester yang diisi pemain-pemain buangan dan musim lalu terseok-seok di zona degradasi. Namun, Uchesco, julukan lain Sevilla, memiliki garis nasib yang tak kalah miris. Setiap tahun, Sevilla harus menyusun ulang tim dengan mendatangkan pemain-pemain yang berada di bawah radar. Itu karena pemain yang mencuat selalu saja dicomot klub-klub lain, baik klub asal Spanyol maupun dari belahan Eropa lain. Dalam tiga musim terakhir saja, sejak kedatangan Emery, Sevilla harus rela melepas Geoffrey Kondogbia ke AS Monaco, Jesus Navas dan Alvaro Negredo (Manchester City), Gary Medel (Cardiff City), Ivan Rakitic dan Aleix Vidal (Barcelona), Federico Fazio (Tottenham Hotspur), Alberto Moreno (Liverpool), serta Carlos Bacca (AC Milan). Untungnya, Sevilla punya direktur sepak bola ulung dalam diri Ramon Rodriguez Verdejo "Monchi". Kejelian dan lobi-lobinya membuat Los Rojiblancos selalu mampu menghadirkan para pemain oke sebagai pengganti para bintang yang pergi. Pembelian Monchi sangat jarang yang gagal. Banyak di antaranya yang lantas dijual dengan harga lebih mahal. Kemampuan inilah yang membuat Real Madrid begitu ingin melabuhkannya ke Santiago Bernabeu. Namun, Monchi bergeming. Dia tetap teguh bertahan di Ramon Sanchez Pizjuan, tempatnya mengabdi sebagai direktur sepak bola sejak 1 Juli 2000.Pembelian apik Monchi ini sangat membantu Emery yang juga punya sentuhan apik. Di tangan eks pelatih Valencia tersebut, mereka menjadi amunisi mematikan.

Halaman
Show All
Defri SaefullahTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan