5 Pelatih Terbaik Sepak Bola Indonesia

Siapa saja mereka?

Diterbitkan 10 Mei 2016, 19:41 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Milomir Seslija

2. Milomir Seslija
 
Pelatih Arema Cronus, Milomir Seslija tampaknya tak butuh waktu lama untuk menunjukkan kehebatannya dalam melatih. Pria kelahiran 21 Juli 1964 di Sarajevo, Bosnia mampu membawa Arema menjuarai dua trofi turnamen besar beberapa waktu lalu.
 
Ya, pelatih yang akrab disapa Milo ini sukses membawa Cristian Gonzales dan kawan-kawan menjuarai Bali Island Cup dan Piala Bhayangkara. Persembahan dua turnamen itu sudah cukup memperlihatkan kehebatan Milo dalam meracik strategi Singo Edan.
 
Menariknya, prestasi yang dimiliki Milo bukan hanya terjadi di Arema. Klub sebelumnya yang dia latih juga sempat merasakan kejayaan di bawah tangan dingin Milo. Pada tahun 1996, klub Sabah FA yang mendapuk Milo sebagai pelatih juga sukses juara Liga Malaysia.
 
Kini menghadapi TSC 2016, Milo untuk sementara juga pantas mendapatkan pujian. Sebab, berkat kerja kerasnya, dia sukses membawa Arema memuncaki klasemen sementara dengan koleksi empat poin hasil dari satu menang dan satu imbang.

Nil Maizar

3. Nil Maizar
 
Nil Maizar adalah pelatih paling ekspresif yang pernah dimiliki Indonesia. Dia selalu vokal dalam memberikan arahan kepada anak asuhnya saat bertanding.
 
Tak hanya sering berteriak di pinggir lapangan, Nil juga gemar memakai gerak tubuh sebagai sarana komunikasi. Tak hanya itu, gaya berpakaian pelatih asal Sumatera Barat ini juga menarik untuk dipandang.
 
Pelatih yang terinspirasi dengan gaya berpakaian Joachim Loew ini kadang menggunakan kemeja putih berdasi hingga jaket kulit. Menarik memang jika Semen Padang bermain dan ada Nil di pinggir lapangan.
 
Akan tetapi, gaya nyentrik saat melatih dan berbusana tak hanya menjadi andalan Nil. Dia juga merupakan salah satu pelatih terbaik di Indonesia saat ini.
 
Nil mulai menarik perhatian sepak bola Indonesia ketika berhasil membawa Semen Padang ke peringkat empat ISL 2010-2011. Padahal waktu itu Nil baru melakukan debutnya sebagai pelatih di level tertinggi.
 
Prestasinya terus meningkat setelah dia ditunjuk sebagai pelatih timnas Indonesia. Meski bisa dibilang tak terlalu cemerlang bersama timnas, Nil Maizar tetap tak kehilangan kehebatannya ketika kembali melatih Semen Padang dan juga Persisam Samarinda.
 
Pada beberapa waktu terakhir, Nil Maizar juga sukses membawa Semen Padang lolos ke partai final Piala Jenderal Sudirman. Sayang, dia harus gagal meraih juara usai takluk 1-2 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (24/1/2016).

Indra Sjafri

4. Indra Sjafri
 
Sumatrea Barat memang sangat mendominasi dalam mengirimkan pelatih-pelatih hebat yang berlaga di TSC 2016. Selain Jafri Sastra dan Nil Maizar, ada satu nama lagi yang tak boleh ditinggalkan. Dia adalah pelatih Bali United, Indra Sjafri.
 
Indra pertama kali dikenal publik ketika membawa timnas U-19 menjuarai AFF U-19 2013 dan lolos ke Piala Asia U-19 2014. Satu kehebatan yang dimiliki Indra adalah jeli dalam mencari bibit-bibit muda.

Lihat saja dalam skuat timnas U-19, nama-nama bintang muda seperti Evan Dimas, Ilham Udin Armayn, Putu Gede Juni Antara hingga Hansamu Yama Pranata berhasil diorbitkan pelatih berusia 53 tahun itu .
 
Bakat itu pula yang mendasari Bali United menyodorkan kontrak berdurasi lima tahun. Rencananya, Indra bakal didapuk untuk mengembangkan persepakbolaan Bali dengan mengandalkan bibit-bibit muda lokal.
 
Pada gelaran beberapa turnamen besar seperti Piala Jenderal Sudirman hingga Piala Bhayangkara, Indra memang gagal meraih juara. Namun, gaya bermain yang atraktif dengan mengandalkan umpan-umpan pendek patut mendapat pujian.
 
Kini di TSC 2016, Indra juga bisa dibilang sukses dalam menjalankan tugasnya. Sebab, I Gede Sukadana dan kawan-kawan berhasil dibawanya berada di peringkat ke-8 dengan koleksi dua poin hasil dari dua imbang.

Dejan Antonic

5. Dejan Antonic
 
Dejan Antonic ditunjuk sebagai pelatih Persib Bandung setelah dianggap sukses membawa Pelita Bandung Raya berbicara banyak di ISL 2014. Namanya pun berada di daftar teratas untuk menggantikan Djadjang Nurdjaman yang pergi meninggalkan Maung Bandung.
 
Djadjang pergi untuk menimba ilmu di Italia bersama klub Inter Milan. Pelatih yang biasa disapa Djanur ini sukses memberikan gelar bergengsi ISL 2014.
 
Pencapaian Djadjang membuat tekanan berat bagi Dejan. Alhasil, dia membongkar tim dengan mendatangkan pemain seperti, Samsul Arief (striker), Purwaka Yudi (bek), Juan Belencoso (striker/Spanyol), dan Robertino Pugliara (gelandang serang/Argentina).
 
Hal ini tentu sebagai pengganti gerbong bintang Persib yang melakukan eksodus usai ditinggal Djadjang Nurdjaman. Mereka adalah Firman Utina, Achmad Jufriyanto, Supardi, M. Ridwan ke Sriwijaya, lalu Makan Konate dan Illija Spasojevic yang meneruskan karier di Malaysia.
 
Tangan dingin Dejan memang belum mempersembahkan trofi untuk klub kebanggaan Kota Kembang itu. Namun prestasi seperti menjadi runner-up Bali Island Cup dan Torabika Bhayangkara Cup serta juara turnamen segitiga PSGC Ciamis sudah cukup untuk membuktikan kualitas Dejan.
 
Kini pada gelaran TSC 2016, Dejan juga mampu membawa Persib belum terkalahkan dan bertengger di peringkat kesembilan. Hariono dan kawan-kawan meraih dua hasil imbang pada dua laga awal TSC 2016.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Jonathan Pandapotan PurbaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan