[Kolom] Drama Cinta di Trigoria

Totti semakin istimewa karena menjadi sosok pemain langka yang mau bertahan di satu klub meski diminati banyak klub elite.

Diterbitkan 05 Maret 2016, 14:50 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Totti Terusir dari Kerajaannya

Alih-alih gentar dan menuruti kemauan Totti, Spalletti justru bereaksi lebih keras. Setelah mendengar curhat Totti yang menjadi trending topic di televisi, dia batal menjalankan rencana menjadikan Totti starter melawan Palermo. Dia justru memulangkan sang kapten dari training camp, dicoret dari tim!

Totti “terusir” dari “kerajaannya” sendiri! Bukan hanya dalam pertandingan melawan Palermo, tetapi juga saat meladeni Empoli - yang keduanya berakhir gemilang bagi Roma tanpa magis Totti.

Totti mungkin terlambat menyadari bahwa dia bukan bintang segala bintang seperti dulu. Dulu, siapa pun yang berani melawan keinginannya, dipastikan bakal tersingkir. Sekarang, di saat Spalletti sedang menunjukkan kinerja bagus-bagusnya, justru Totti yang harus menelan ludah kekecewaan. Bahkan Presiden Roma yang tinggal di AS, James Pallotta, lebih membela Spalletti ketimbang Totti.

Sej

ak 30 Januari 2016 saat mulai melatih Roma, Spalletti mengembalikan timnya ke jalur yang benar. Enam kemenangan beruntun di Serie-A, posisi terdongkrak ke urutan 3, mulai berani berharap bisa bersaing dengan Napoli dan Juventus di puncak klasemen dan zona Liga Champions.

Untung Totti tak berlarut-larut patah hati. Menjelang big match versus Fiorentina, suasana diarahkan ke satu titik: Totti menerima jika tak lagi diistimewakan, Spalletti menegaskan legacy sang kapten dan akan memberinya waktu bermain lebih banyak, Pallotta siap memperpanjang kontrak icon roma itu.

Hasilnya, kemenangan ketujuh secara beruntun diraih atas Fiorentina, 4-1, ditandai masuknya Totti di menit 76 dengan applaus meriah. Cinta di Roma bersemi kembali usai prahara yang sempat diperkirakan bakal menghambat keganasan sang serigala Roma.

Persis seperti orang patah hati, Totti mungkin juga sempat merasa hancur saat Roma justru mulai mengaum ganas di saat kontribusinya dipinggirkan. Sakit. Sama sakitnya dengan Spalletti yang merasa dikhianati saat tengah menyiapkan treatment terbaik untuk kaptennya itu.

Cinta, sama dengan kontribusi untuk sebuah tim, tak pernah bisa dipaksakan. Cinta hanya bisa mekar jika ada kesepakatan dua pihak untuk membangun dan melestarikannya. Kontribusi bagi sebuah tim melulu karena sang pemain bagus dan dinilai oleh pelatih bisa mengisi kebutuhan tim.

Keduanya mustahil dibangun berdasarkan nostalgia masa lalu belaka, apalagi hanya mengandalkan simpati publik untuk mendesakkan kemauan.

Kita lihat seberapa jauh dendang cinta di Trigoria sanggup membawa AS Roma melambung dalam persaingan super ketat. Tengah pekan depan sudah menunggu Real Madrid di tengah jalan menuju kejayaan ajang Liga Champions. Kalah atau menang, Roma pasti lebih memilih menjalaninya dengan suasana cinta yang memenuhi Olimpico.

Mission impossible! But who knows..?

Kata orang, cinta bisa mengalahkan segala.

Maka bagi kita yang masih susah move on dengan cinta lama, cepatlah bangun dari tidur! Ganti dan isi nostalgia masa lalu dengan rasa baru. Rasanya semua akan menjadi lebih berat dijalani dengan luka menganga tergores cinta yang sudah tiada dan mustahil diadakan lagi...

- Sency, 4 Maret 2016, saat cinta tak selalu sama -

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Edu KrisnadefaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan