Makana FA: Saat Sepak Bola Bersinar di Dalam Penjara

Kini, Robben Island termasuk salah satu "Warisan Dunia" yang dilindungi PBB.

Diterbitkan 31 Desember 2015, 07:59 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Robben Island pernah jadi simbol hitam sejarah Afrika Selatan (Afsel). Selama lebih dari 400 tahun, wilayah yang dikelilingi lautan, sekitar tujuh kilometer dari Cape Town, wilayah terindah di Afsel ini , dijadikan penjara, tempat pengasingan bagi lawan-lawan rezim yang berkuasa.

Sejak 1961, Robben Island ditingkatkan dengan pengamanan maksimum, khususnya untuk tahanan politik rezim Apartheid (pemisahan warna kulit) di bawah The National Party yang berkuasa ketika itu.

Baca Juga

  • Klopp: Guardiola Tak Akan Gabung City
  • Tekad Gelandang MU Bayar Dukungan Fans
  • Lini Tengah Arsenal Kena Badai Cedera, Wenger Siap Belanja

Hampir semua tokoh-tokoh penting pergerakan Afsel, pernah mendekam di penjara yang luasnya mencapai 500 hentar ini. Termasuk tentu saja Nelson Mandela, Bapak Afsel, yang harus menerima kekejaman rezim Apartheid di penjara ini selama 18 tahun. Mantan presiden Afsel lainnya,  Kgalema Motlanthe, dan Jacob Zuma, presiden Afsel saat ini, juga pernah merasakan kelamnya penderitaan di Robben Island.

Penjara Robben Island memang dikenal sadis. Para sipir dan petugas kerap menyiksa tahanan tanpa perikemanusiaan. Para tahanan juga harus melakukan kerja paksa tanpa diberi makanan.

Namun, ada saatnya Robben Island menyembulkan sinar harapan, melalui sepak bola. Di penjara ini pernah muncul liga sepak bola, dengan nama Makana Football Asociation (FA). Nama Makana diambil dari nama pahlawan Xhosa, salah satu suku asli Afsel, yang juga pernah ditahan di tempat ini, pada abad 18.

Ini pertama kalinya di dunia, sebuah "liga" dimainkan di dalam penjara. Oleh FIFA, Makana FA kemudian diberikan status sebagai anggota kehormatan pada tahun 2007.

Kisah Makana FA sempat difilmkan dengan judul "More Than Just a Game" oleh sutradara Junaid Ahmed pada tahun 2007. Tiga tahun kemudian, Charles Korr, seorang profesor sejarah dari University of Missouri, Amerika Serikat, bersama Marvin Close, juga menulis buku tentang Makana FA. Judulnya nyaris serupa: "More Than Just a Game Football vs Apartheid".

Berawal Tahun 1964

Berawal Tahun 1964
Kisah Makana FA berawal pada tahun 1964, saat rezim Apartheid mengirim tokoh-tokoh dari lawan politik mereka, seperti African National Congress(ANC) dan Pan Africanist Congress of Azania (PAC) bersama dengan Mandela dan tokoh-tokoh pergerakan lainnya ke Robben Island. Di Robben Island, mereka merasa tersiksa dan terisolasi, sehingga muncul ide untuk bermain bola sebagai sarana pelampiasan kesedihan, kekecewaan, kemarahan.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Mereka, para tahanan, pun mulai bermain sepak bola di dalam sel-sel tahanan yang begitu sempit. Mereka menggunakan gulungan kertas-kertas bekas sebagai bola. Seiring dengan itu, dimotori empat tokoh: Anthony Suze, Lizo Sitoto, Mark Shinners, dan Sedick Isaacs, mereka tak hentinya memohon, mengajukan proposal agar pihak berwenang memperbolehkan mereka memainkan sepak bola di halaman penjara, di luar sel. Selama lebih dari tiga tahun, usaha itu tak juga membuahkan hasil. Baru pada tahun 1967, dengan bantuan Palang Merah Internasional, permohonan mereka dikabulkan. Liga Makana FA pun diluncurkan. Para tahanan bersorak. Mereka percaya, sepak bola bisa menyatukan mereka, para tahanan, yang berasal dari berbagai partai, latar belakang, namun punya harapan sama: kebebasan."Kami banyak belajar dari konsep fair play sepak bola," ujar Shinners, seperti dirilis theglobeandmail. "Sepak bola mengajarkan kami untuk mengerti bahwa Anda tidak bisa selamanya menang. Untuk membangun masyarakat yang baik berkaitan dengan rasa memberi dan menerima. Itu ada dalam sepak bola."

Halaman
Show All
Edu Krisnadefa, Marco TampubolonTim Redaksi
Copy Link
Batalkan