Seberapa Rumit Menyusun Jadwal ISL?

Efektif dan efesien menjadi katankunci utama PT Liga Indonesia menyusun jadwal kompetisi.

Diterbitkan 18 Mei 2015, 14:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Kompetisi ISL resmi dihentikan oleh penyelenggara, PT Liga Indonesia imbas dari konflik yang terjadi antara PSSI dan Kementrian Pemuda dan Olahraga.

PT Liga dan PSSI memilih tidak melanjutkan kompetisi karena alasan force majeur menyusul keputusan Menpora Imam Nahrawi membekukan PSSI.

Sejatinya, pemerintah melalui Menpora telah meminta PSSI kembali menggulirkan kompetisi pada 9 Mei 2015. Tapi PSSI dan PT Liga bersikeras tidak bisa melakukan kickoff. Jadwal menjadi pertimbangan utama dua institusi tersebut ogah memutar kompetisi.

Sebenarnya, bagaimana jadwal pertandingan disusun sedemikian rupa agar efisien?

Menghemat biaya operasional klub menjadi fokus utama dan kata kunci regulator. Namun tetap mempertimbangkan berbagai macam agenda seperti pemusatan latihan Tim Nasional, pertandingan internasional dan dua tim yang berlaga di AFC Cup, Persib Bandung dan Persipura Jayapura.

Menyusun jadwal kompetisi di Indonesia sangat rumit dan berbeda, termasuk bila dibandingan negara-negara sepakbola yang telah maju seperti di Eropa

Lebih jauh berikut sistem penjelasan lengkap sistem penjadwalan liga Indonesia.

1

Tantangan PT Liga Indonesia

Penetapan slot waktu penyelenggaraan kompetisi semusim penuh idealnya dijalankan dalam rentang waktu kurang dari satu tahun. Liga-liga Eropa pada umumnya menjalani kompetisi liga selama 8 hingga 10 bulan kalender.

Bila dalam satu tahun terdapat 52 pekan, kompetisi liga dengan 18 klub peserta sejatinya dijalankan selama 34 pekan. Sisa 18 pekan menjadi jatah agenda sepak bola internasional juga libur off season.

Tapi di Indonesia berbeda, banyak agenda lain di luar lapangan hijau yang membuat kompetisi terhenti seperti bulan ramadan, pemilu Kepala Daerah. Bahkan tidak jarang, Polisi tidak mengeluarkan izin keamanan menggelar pertandingan di daerah tertentu demi menjaga stabilitas keamanan.

Tantangan tidak sampai di situ, PT Liga juga harus mempertimbangkan biaya operasional klub di Indonesia yang belum sepenuhnya profesional. Jangan sampai, jadwal tidak efisien dan memakan banyak biaya.

Berkaca dari masalah utama itu, guna mengurangi beban pengeluaran klub peserta dalam menjalani partai kandang, PT. Liga Indonesia (LI) selaku penyelenggara kompetisi memberlakukan sistem penjadwalan yang didasarkan letak geografis klub peserta ISL.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Dengan luas geografis Indonesia yang mencapai 1.919.400 km2, PT Liga membagi kompetisi menjadi tiga zona waktu Barat, Tengah dan Timur. Ini berkaitan dengan siaran langsung televisi pemegang lisensi.

Halaman
Show All
Rejdo PrahanandaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan