Dosa-dosa Sir Alex Selama di MU

Sayang, Sir Alex mengabaikan kemampuan mengolah bola Pogba yang di atas rata-rata.

Diterbitkan 03 Maret 2015, 18:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Sir Alex Ferguson adalah manajer tersukses di Manchester United. Namun begitu, pelatih asal Skotlandia tersebut pernah melakukan sejumlah kesalahan yang merugikan Setan Merah.

Ferguson membesut MU dari 6 November 1986 hingga 19 Mei 2013. Selama 26 musim menukangi The Red Devils, Fergie sukses mempersembahkan 38 gelar juara termasuk 13 trofi Liga Primer Inggris, dua Liga Champions, dan satu titel juara Piala Dunia Antarklub.

Selain itu, banyak pemain bintang yang lahir berkat tangan dinginnya sebut saja David Beckham, Gary Neville, Phillip Neville, Ryan Giggs, Paul Scholes, Nicky Butt, Eric Cantona, Ole Gunnar Solskjaer, Dwight Yorke, Andy Cole, Roy Keane, Cristiano Ronaldo, Wayne Rooney, Phil Jones dan lain-lain.

Tak hanya itu, mantan anak asuh Ferguson di Manchester United kini juga menjadi beberapa pelatih yang diperhitungkan seperti Bryan Robson, Mark Hughes, serta Steve Bruce.

Akan tetapi, dari sekian banyak prestasi gemilang yang ditorehkan, Sir Alex juga melakukan kesalahan yang berdampak besar terhadap MU. Apakah saja itu?

Simak ulasannya di halaman berikut --->

1.

Menjual Jaap Stam ke Lazio

Mantan penggawa timnas Belanda ini adalah salah satu bek tangguh yang pernah dimiliki The Red Devils. Membela Manchester United di musim 1998 hingga 2001, Stam turut mempersembahkan tiga gelar juara Liga Primer Inggris, satu Piala FA, satu Piala Intercontinental, dan satu trofi Liga Champions.

Tapi di awal musim 2001/02, Ferguson bersama manajemen klub memutuskan menjual Stam ke Lazio dengan bandrol 16,5 juta pundsterling. Keputusan Setan Merah melego Stam tak lepas dari otobiografi si pemain yang berjudul Jaap Stam: Head to Head.  

Dalam bukunya tersebut, pria berkepala plontos itu dituding telah membuka aib para pemain Manchester United termasuk Sir Alex Ferguson. Di buku tersebut Stam menulis jika Ferguson merayunya agar mau pindah ke MU di musim 1998/99 tanpa sepengatahuan PSV Eindhoven (klub lama Stam).

Menjual Stam ke Lazio rupanya berdampak pada rapuhnya lini pertahanan The Red Devils. Di musim 2001/02, MU kebobolan 45 gol dari 38 pertandingan. Mereka pun akhirnya menyudahi musim di urutan ketiga.

Ferguson sendiri pada akhirnya menyesali keputusan menjual Jaap Stam. Dia menyebut, Stam tetap tampil oke meski sudah berkepala tiga saat membela Ajax Amsterdam di musim 2006 hingga 2007.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Enggan Mempermanenkan Carlos Tevez Berseragam MU di musim 2007 dengan status pinjaman selama dua musim, Tevez adalah salah satu sosok penting di lini depan. Meski lebih sering turun sebagai pemain pengganti, namun penyerang asal Argentina ini kerap mencetak gol penentu kemenangan buat Setan Merah.Sayang, performa ciamik Tevez tak menggugah hati Ferguson agar mau mempermanenkan statusnya. Alhasil, Tevez yang dipinjam dari West Ham United merasa kecewa dengan manajemen klub serta Fergie. Kendati pada akhirnya MU menawarkan kontrak berdurasi lima musim plus gaji 25,5 juta poundsterling per tahun, tapi Tevez menolaknya.Dia akhirnya angkat kaki dari Old Trafford dan hijrah ke Manchester City pada bursa transfer musim panas 2009. Bersama The Citizens, penampilan Tevez terus meningkat tajam. Di musim perdana berseragam City, dia sukses mencetak 29 gol dari 42 penampilan.Kepergian Carlos Tevez sedikit banyak memengaruhi performa MU. Apalagi, di musim yang sama mereka juga menjual Cristiano Ronaldo ke Real Madrid. Akibatnya, Manchester United tidak memiliki pemain pelapis sepadan untuk menggantikan peran Wayne Rooney yang beberapa kali harus menjalani perawatan akibat cedera engkel dan ligamen.

Halaman
Show All
Rizki Hidayat, Arry AnggadhaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan