Sukses

Emral Abus, Si "Bidan" Pelatih Kondang Indonesia

Liputan6.com, Bandung - Persib Bandung mengumumkan telah menemukan pendamping Djadjang Nurdjaman untuk tampil di Kualifikasi Liga Champions Asia (LCA) 2015. Siapa dia? Boleh dibilang pelatih ini tidak dikenal luas, namun mampu melahirkan pelatih beken seperti Nil Maizar dan Indra Sjafri.

Dia adalah Emral Abus. Meski tidak tenar, Emral bisa disebut "suhu" pelatih di Indonesia, Emral salah satu instruktur pelatih sepakbola terbaik di Indonesia. Uncu--begitu panggilannya (dalam bahasa Minang berarti Paman)--ikut membidani sejumlah arsitek yang kini sudah malang melintang di kancah sepakbola nasional, mulai dari klub hingga tim nasional.

Aji Santoso (pelatih Timnas U-23), Salahuddin (Barito Putera), Jafri Sastra (Semen Padang), Kashartadi (eks-Sriwijaya FC), Wolfgang Pikal (eks-asisten pelatih Timnas Indonesia), dan pelatih Persib kini, Djadjang merupakan segelintir pelatih hasil tempaan Emral.

Bersama Satya Bagja, Emral mengantongi lisensi A AFC dan menjadi instruktur pelatih di Indonesia. Tenaga dan lisensi yang dipegang Emral memang sangat dibutuhkan Persib untuk melakoni Kualifikasi LCA, Februari bulan depan.

Menurutnya, julukan sebagai "suhu" pelatih di Indonesia terlalu berlebihan. Pria kelahiran 20 Desember 1958 yang juga berprofesi sebagai Dosen olahraga di Universitas Negeri Padang ini merendah soal julukan itu. "Saya hanya melakukan tugas, karena sering diminta sebagai tenaga pendidik di PSSI," kata Emral.

Selain menjadi tenaga pengajar pelatih, Uncu merupakan koordinator instruktur pelatih di Indonesia menyandang peran sebagi instruktur di level grassroot FIFA.

2 dari 2 halaman

Pintu Gerbang Nil Maizar & Indra Sjafri ke PSSI

Dilansir dari situs olahraga nasional, Emral masih mengingat betul ketika pertama kali mengenalkan Indra Sjafri pada pengurus PSSI pusat. Bukan karena berasal dari satu daerah, dia lantas merekomendasikan Indra, "Tapi karena dia memang memiliki potensi dan bisa dimanfaatkan oleh PSSI.

Mengenai Nil Maizar, Uncu juga memiliki kisah sendiri. Emral menemukan Nil Maizar ketika berusia 17 tahun. Ketika itu, Nil Maizar memperkuat kota Payakumbuh di Porda Sumatra Barat 1986. Atas rekomendasi Uncu, Nil Maizar menembus Diklat PPLP Sumbar dan menjadi pintu masuk eks-pelatih Timnas Indonesia itu memperkuat Tim Garuda II 1987 dan Timnas Pra Olimpiade 1991.

Sejak jadi pemain, Nil sudah menunjukkan potensi, pemain komplet, punya kemauan belajar yang keras, cerdas, dan memiliki intelektual di atas rata-rata. Jadi saya tidak heran bila melatih pun, dia bisa melakukannya," tambah pria yang pernah kursus pelatih sepakbola di Universitas Leipzig Jerman pada 1993.

Meski memiliki andil besar mencetak pelatih tenar Indonesia, Emral tidak langsung membusungkane dada. Baginya, menjadi kebanggaan sendiri bisa membantu atau membuka jalan pelatih muda untuk berkarier di bidang pelatih. "Terlebih, bila berhasil membawa Indonesia juara."

Selama ini, Emral sendiri tidak banyak berkecimpung sebagai pelatih. Dia lebih suka menjadi instruktur. PSPS Pekanbaru (2001 dan 2005) dan PSDS Deli Serdang (2003) tercatat pernah merasakan racikan Emral.

"Sejak 2008 saya sudah tidak melatih lagi, karena fokus menjadi instruktur. Saya rasa itu lebih cocok buat saya, karena pada dasarnya, saya seorang guru daripada pelatih," kata dia mantan penasehat teknik tim sepakbola Sumbar di PON Remaja 2014 Surabaya.