Waralaba di Tengah Ekonomi Tak Menentu, Calon Mitra Pilih-Pilih Peluang

Modal terbatas dan ekonomi tak menentu membuat calon pengusaha lebih berhitung sebelum memilih bisnis waralaba di FLEI 2026.

Diterbitkan 09 Oktober 2026, 17:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Keinginan untuk punya usaha sendiri tak selalu berujung pada keputusan untuk segera memulai. Di tengah kondisi ekonomi yang belum menentu, modal menjadi salah satu pertimbangan utama sebelum seseorang berani melangkah menjadi pengusaha.

Gambaran itu terlihat di Franchise & License Expo Indonesia (FLEI) 2026 di NICE PIK 2, Jakarta, Jumat (9/10/2026). Di antara beragam tawaran bisnis yang memenuhi area pameran, pengunjung datang dengan tujuan berbeda: mencari inspirasi, membandingkan peluang, hingga menghitung apakah sebuah usaha layak dijalankan.

Aurora (25), misalnya, awalnya datang karena tertarik dengan acara kopi yang digelar bersamaan. Namun, ia justru menemukan banyak pilihan bisnis waralaba yang menarik perhatiannya.

"Ternyata di sini banyak sekali pilihan usaha franchise," ujarnya kepada Liputan6.com, Jumat (9/10/2026).

Jarak menuju lokasi pameran yang cukup jauh pun tak mengurangi antusiasmenya. Menurut Aurora, banyaknya pilihan usaha membuat kunjungan tersebut terasa sepadan.

"Ternyata ramai, dan menurut saya worth it untuk datang," katanya.

Sehari-hari, Aurora bekerja sebagai karyawan sekaligus menjalankan usaha kopi. Karena itu, kunjungannya bukan sekadar melihat-lihat. Ia juga mencari peluang bisnis lain maupun pemasok bahan baku untuk kafenya.

Meski tertarik menjajal peluang baru, Aurora tak ingin terburu-buru mengambil keputusan. Baginya, merek yang menarik saja tidak cukup. Calon pengusaha harus memahami biaya yang akan dikeluarkan dan menghitung potensi keuntungan secara realistis.

"Namanya usaha, kita pasti memperhitungkan modal dan perkiraan balik modalnya. Operasionalnya juga harus dipikirkan," kata Aurora.

Ia menilai bisnis waralaba tetap memiliki tantangan. Strategi pemasaran dan pemilihan lokasi yang kurang tepat dapat memengaruhi hasil usaha, sekalipun merek yang dipilih memiliki prospek menjanjikan.

"Kalau kita tahu pasarnya seperti apa dan lokasinya di mana, profit bisa maksimal," ujarnya.

Bagi Aurora, peluang usaha perlu diimbangi perhitungan yang matang. Ia berharap industri waralaba di Indonesia semakin berkembang dan memiliki identitas sendiri. Sementara untuk bisnis yang dijalaninya, ia berharap jumlah pengunjung dan keuntungan terus meningkat.

 

Calon Mitra Masih Berhitung

Sikap hati-hati juga dirasakan Hani (27), yang menawarkan waralaba Teh Tarik Peranakan. Menurutnya, calon mitra kini cenderung lebih selektif karena nilai investasi yang harus disiapkan tidak sedikit.

"Para mitra masih mikir-mikir karena nominalnya tidak rendah. Mereka pilih-pilih dulu, tanya apakah jangka panjangnya baik," kata Hani.

Ia mengatakan, sebagian calon mitra menginginkan model usaha yang praktis. Dalam skema ini, operasional bisnis ditangani pihak pewaralaba, sementara mitra berinvestasi dan memiliki usaha tersebut.

Menurut Hani, calon mitra dengan pola pikir seperti itu terbagi menjadi dua kelompok: mereka yang ingin benar-benar menjalankan bisnis dan mereka yang mengincar pendapatan pasif atau passive income.

"Kira-kira fifty-fifty," ujarnya.

Di sisi lain, Hani melihat minat terhadap waralaba makanan dan minuman masih tumbuh, antara lain karena munculnya produk-produk yang viral. Merek yang dibawanya bahkan tengah menyiapkan versi lokal dari kuliner yang ramai diperbincangkan di Kuala Lumpur, Malaysia, setelah banyak pengunjung menanyakannya.

Namun, popularitas tidak selalu menjamin bisnis bertahan lama. Menurut Hani, daya tahan tren menjadi pertimbangan penting sebelum sebuah produk dikembangkan lebih jauh.

"Kalau viral dan bertahan, makanan bisa tiga sampai empat tahun," kata Hani.

 

Skema Investasi Justru Diminati

Di tengah tekanan daya beli, skema usaha berbasis investasi justru menarik perhatian pengunjung. Robby (30), seorang sales consultant, mengatakan produk crowdfunding termasuk yang paling diminati di pameran tersebut.

"Yang unik, crowdfunding-nya yang laku. Bisnis yang basisnya investasi justru laku," kata Robby.

Ia menjelaskan, hari pertama pameran menjadi kesempatan bagi peserta untuk membaca minat pasar. Berdasarkan respons pengunjung, mereka kemudian menentukan produk yang akan lebih ditonjolkan pada hari berikutnya.

Menurut Robby, pengunjung yang tertarik biasanya kembali keesokan harinya. Kunjungan pertama umumnya dimanfaatkan untuk mengenali berbagai pilihan yang tersedia sebelum mempertimbangkan langkah selanjutnya.

 

Pemerintah Dorong Pemula Terjun ke Waralaba

Pemerintah turut mendorong masyarakat, khususnya anak muda, untuk memanfaatkan model waralaba sebagai salah satu jalan memulai usaha.

Dalam sambutan pembukaan FLEI 2026, Menteri Perdagangan Budi Santoso mengajak anak muda yang masih bingung menentukan langkah awal berbisnis untuk mempertimbangkan menjadi penerima waralaba.

"Ikut menjadi penerima waralaba karena template-nya sudah ada dan kita tinggal menjalankan," ujarnya dalam sambutan pembukaan.

Meski menawarkan model bisnis yang telah memiliki sistem, waralaba tetap membutuhkan pertimbangan investasi yang cermat. Ketua Umum Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia (WALI) Levita Ginting Supit mengingatkan bahwa daya beli masyarakat sedang tertekan, sementara biaya bahan baku dan operasional meningkat.

Konsumen juga semakin kritis dalam menilai rekam jejak sebuah usaha. Karena itu, Levita menekankan pentingnya kelayakan investasi, perlindungan merek, dan kepatuhan terhadap hukum.

Menurutnya, aturan seperti Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2024 tentang Waralaba bukan sekadar urusan administrasi, melainkan fondasi untuk membangun kepercayaan dalam hubungan antara pewaralaba dan mitra.

Di tengah banyaknya pilihan usaha, pameran waralaba akhirnya bukan hanya menjadi tempat mencari peluang. Bagi calon pengusaha, ajang ini juga menjadi ruang untuk membandingkan tawaran, mengukur kemampuan finansial, dan memastikan keputusan bisnis tidak semata-mata didorong tren.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6