Cetak Rekor Sejarah, Pengadaan Beras Perum Bulog Tembus 4,1 Juta Ton

Perum Bulog memecahkan rekor pengadaan beras tertinggi sepanjang sejarah perusahaan dengan realisasi mencapai 4,11 juta ton per 8 Oktober 2026.

Diterbitkan 09 Oktober 2026, 15:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Perum Bulog mencatat rekor pengadaan beras tertinggi sepanjang sejarah perusahaan dengan realisasi mencapai 4.115.014 ton setara beras per 8 Oktober 2026. Jumlah tersebut setara 102,88 persen dari target penugasan pemerintah sebesar 4 juta ton sepanjang tahun ini.

Capaian tersebut melampaui realisasi pengadaan pada 2025 yang mencapai 3.191.969 ton setara beras. Rekor sebelumnya tercatat pada 2012 dengan pengadaan sebesar 3,65 juta ton.

Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan, pencapaian tersebut merupakan hasil kerja bersama seluruh jajaran Bulog dalam menyerap hasil panen petani di berbagai wilayah Indonesia.

“Capaian lebih dari 4 juta ton setara beras yang memecahkan rekor capaian tertinggi sepanjang Bulog berdiri ini bukan sekadar angka. Di baliknya ada kerja keras, dedikasi, dan semangat seluruh insan Bulog di berbagai penjuru Indonesia,” ujar Ahmad Rizal, Jumat (9/10/2026).

Menurut dia, pengadaan beras dilakukan untuk memperkuat Cadangan Beras Pemerintah (CBP), sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem pangan nasional dari sisi produsen maupun konsumen.

Bulog juga mengoptimalkan jaringan pembelian di wilayah sentra produksi dengan melibatkan petani, kelompok tani, mitra penggilingan, serta berbagai pemangku kepentingan terkait.

 

Antisipasi El Nino dan Musim Paceklik

Dalam konferensi pers di Kantor Pusat Perum Bulog, Jakarta, Jumat (9/10/2026), Ahmad Rizal menjelaskan bahwa pengadaan dalam jumlah besar juga menjadi langkah antisipasi menghadapi potensi El Nino dan musim paceklik.

Dia mengatakan, Bulog mempercepat penyerapan gabah dan beras setelah memperoleh informasi mengenai potensi kondisi tersebut. Langkah ini dilakukan agar pemerintah tetap memiliki persediaan yang memadai untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

“Bersyukurlah sekarang Bulog punya stok banyak sebagai langkah antisipasi menghadapi El Nino dan musim paceklik ini,” ujar Rizal.

Menurut Rizal, stok yang cukup penting untuk memastikan bantuan pangan tetap dapat disalurkan ketika produksi atau pasokan beras menghadapi tekanan. Dia juga menyoroti kemungkinan negara pemasok beras, seperti India, Vietnam, dan Thailand, menghadapi tantangan iklim serupa yang berpotensi memengaruhi ketersediaan beras untuk diperdagangkan ke negara lain.

 

Stok Beras Capai 4,5 Juta Ton

Rizal menyampaikan, total stok beras yang dikuasai Bulog mencapai sekitar 4,5 juta ton per 9 Oktober 2026. Angka stok tersebut mencakup akumulasi persediaan dan berbeda dengan realisasi pengadaan 4.115.014 ton yang tercatat hingga 8 Oktober 2026.

Dia menjelaskan, penguatan stok dilakukan agar pemerintah tetap mampu menyalurkan bantuan pangan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Untuk bantuan pangan periode Juli, Agustus, dan September 2026, Bulog mencatat realisasi penyaluran sebanyak 967.512 ton atau sekitar 98 persen kepada penerima manfaat yang ditargetkan. Program tersebut menyasar sekitar 33,2 juta penerima manfaat dari kelompok desil 1 hingga desil 4.

Bulog menyatakan akan melanjutkan upaya penyerapan hingga akhir 2026 melalui penguatan jaringan pembelian, kesiapan sarana penyimpanan dan pergudangan, serta percepatan penyerapan pada momentum panen.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6