Stok Bensin AS Makin Tipis, 4 Wilayah Alami Penurunan Tajam

Pasokan bensin AS kian ketat akibat penurunan stok di 4 wilayah utama. Kondisi ini dorong negara anggota G7 sepakat lepas 100 juta barel cadangan darurat.

Diterbitkan 08 Oktober 2026, 15:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Stok bensin di sebagian besar wilayah Amerika Serikat kembali menyusut pekan lalu. Menurut data Badan Informasi Energi (EIA) yang dirilis Rabu 7 Oktober 2026, stok bensin di empat dari lima wilayah utama AS terpantau merosot cukup tajam.

Kondisi ini menunjukkan pasokan bensin di AS masih belum merata, tepat di saat negara-negara maju yang tergabung dalam G7 mulai mengucurkan cadangan minyak darurat demi menenangkan pasar energi global.

Mangutip Anadolu, Kamis (8/10/2026), di wilayah Midwest, stok bensin tergerus 421.000 barel menjadi 41,41 juta barel pada pekan yang berakhir 2 Oktober. Jumlah ini turun 12,7% dibanding periode yang sama tahun lalu.

Penurunan paling drastis terjadi di wilayah Gulf Coast, di mana stok bensin anjlok 1,83 juta barel menjadi 75,04 juta barel. Penurunan pasokan juga terjadi di wilayah West Coast dan Rocky Mountain.

Namun, penurunan di empat wilayah tersebut tertutupi oleh kenaikan stok di wilayah East Coast yang melonjak 2,8 juta barel. Kenaikan ini membuat total stok bensin secara nasional di AS justru naik tipis 382.000 barel menjadi 204,74 juta barel.

Meski total nasional naik pekan lalu, pasokan bensin AS secara keseluruhan masih 6,5% lebih rendah dibanding tahun lalu. Seluruh lima wilayah mencatatkan persediaan yang lebih sedikit dibanding pekan yang sama di tahun 2025, dengan Midwest sebagai wilayah yang mengalami penurunan paling parah.

G7 Lepas 100 Juta Barel Cadangan Minyak Darurat

Merespons kondisi energi global, para pemimpin G7 sepakat pada 2 Oktober untuk melepas 100 juta barel cadangan minyak darurat secara bertahap selama empat bulan melalui Badan Energi Internasional (IEA). Rencana ini juga mencakup penggelontoran pasokan diesel dalam jumlah besar pada 20 hari pertama.

Langkah ini merupakan perwujudan dari komitmen yang sudah disepakati pada Maret lalu, dengan tetap memperhitungkan jumlah cadangan minyak yang sudah dikeluarkan sebelumnya.

G7 juga berjanji akan mengatur jadwal perawatan kilang minyak agar tidak dilakukan secara bersamaan. Selain itu, mereka berencana menaikkan kapasitas produksi kilang untuk sementara waktu jika memungkinkan, serta mendorong peningkatan produksi BBM olahan global, terutama diesel.

Terakhir, negara-negara G7 menegaskan tidak akan membatasi ekspor energi ke sesama anggota dan mengimbau para produsen minyak dunia untuk tidak menerapkan larangan ekspor yang bisa makin memperkeruh kondisi pasar.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6