Dunia Sempat Khawatir RI Babat 3 Juta Hektare Hutan Demi Swasembada Pangan

Indonesia berhasil mencapai swasembada pangan 3 tahun lebih cepat dari target tanpa perlu menebang kawasan hutan. Simak penjelasan Hashim Djojohadikusumo.

Diterbitkan 07 Oktober 2026, 21:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, mengungkapkan kekhawatiran sejumlah negara terhadap upaya pencapaian swasembada pangan Indonesia yang sempat diperkirakan bakal merusak kawasan hutan. Namun, ia memastikan target swasembada pangan nasional kini berhasil direalisasikan tanpa harus menebang hutan.

Hashim mengisahkan, ketika program swasembada pangan masih dalam tahap perencanaan dua tahun lalu, hasil perhitungan menunjukkan perlunya pembukaan sekitar 2 hingga 3 juta hektare sawah baru. Rencana tersebut mendatangkan kecemasan dari berbagai negara dan lembaga non-pemerintah (NGO).

"Waktu itu dihitung-hitung perlu 2 juta sampai 3 juta hektare tambahan sawah di Merauke, Kalimantan, dan wilayah lainnya. Ini menimbulkan kecemasan dan rasa gelisah di kalangan dunia internasional," ungkap Hashim dalam acara di Hotel Raffles, Jakarta, Rabu (7/10/2026).

"Di London, New York, Hong Kong, hingga Tokyo, semua cemas. LSM dan NGO khawatir jangan-jangan Pemerintah Indonesia akan kembali menebang hutan primer," lanjutnya.

Adik kandung Presiden Prabowo Subianto ini menjelaskan bahwa Indonesia berhasil mencapai swasembada pangan sekaligus menepis kecemasan global tersebut. Menurutnya, kinerja Kementerian Pertanian di bawah kepemimpinan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mampu mendorong capaian ini berjalan mulus, bahkan tiga tahun lebih cepat dari target awal.

"Seharusnya Pak Prabowo memberikan target hingga 2029 kepada Pak Amran. Ternyata Kementerian Pertanian sudah bisa melaksanakannya tiga tahun lebih awal," kata Hashim.

Keberhasilan swasembada tersebut dibuktikan dengan posisi Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang menyentuh angka 5,3 juta ton. Hashim menegaskan, pencapaian ini diraih tanpa ada alih fungsi kawasan hutan menjadi lahan sawah baru.

"Pak Amran sudah memutuskan dan saya yang mengumumkan bahwa pemerintah tidak perlu lagi melakukan perluasan lahan sawah 2 hingga 3 juta hektare seperti yang diumumkan dua tahun lalu. Kita sudah berhasil mencapai swasembada pangan," jelasnya.

 

Diapresiasi Dunia Internasional

Hashim menambahkan, negara-negara yang sebelumnya menaruh kekhawatiran kini berbalik memberikan apresiasi tinggi kepada Indonesia atas keberhasilan menjamin ketersediaan pangan rakyat, khususnya beras.

"Kemarin saya umumkan dan saya sangat bangga, pemerintah kita mendapat pujian luar biasa dari London, New York, dan berbagai pihak lainnya karena tidak perlu lagi memperluas lahan sawah untuk program cetak sawah maupun swasembada," tuturnya.

"Kita sudah swasembada tahun ini, bahkan menjadi negara pengekspor beras. Ini merupakan suatu prestasi luar biasa yang berhasil dicapai," imbuh Hashim.

 

Obsesi Prabowo Terhadap Swasembada Pangan

Lebih lanjut, Hashim menyebutkan bahwa obsesi Presiden Prabowo Subianto dalam mengejar swasembada pangan banyak dipengaruhi oleh filosofi Presiden ke-2 RI, Soeharto, yang menempatkan ketahanan pangan sebagai fondasi utama stabilitas nasional.

"Selain ketahanan energi, Pak Prabowo dari dulu sangat terobsesi (fixated) dengan ketahanan pangan," jelas Hashim.

Ia mengungkapkan, Prabowo memetik pelajaran penting dari era Soeharto bahwa kecukupan pangan adalah kunci ketenangan masyarakat.

"Beliau belajar dari Pak Harto bahwa asal ada ketersediaan pangan yang cukup, rakyat bisa tenang dan nyaman, serta tidak terjadi kegaduhan. Pelajaran itu didapat Pak Prabowo dari zaman dulu, dan saya memahaminya serta turut mendukung," ujarnya.

Hashim menuturkan bahwa pentingnya ketahanan pangan makin teruji saat dunia dihantam pandemi Covid-19 dan kecamuk perang Rusia-Ukraina yang mengganggu pasokan global.

"Sekarang kita juga melihat ketergantungan pasokan dari kawasan Timur Tengah. Oleh karena itu, kita tidak hanya harus memperkuat ketahanan energi, tetapi juga ketahanan pangan," pungkasnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6