Investasi Hilirisasi Sentuh Rp 650 Triliun, Energi Surya Jadi Prioritas

Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani menggenjot industrialisasi dapat terjadi di Indonesia dengan menjalankan asas keberlanjutan.

Diterbitkan 06 Oktober 2026, 14:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani mengungkapkan, investasi sektor hilirisasi mencapai sekitar 30% dari total investasi Indonesia pada 2025-2026 atau sekitar Rp 650 triliun.

Rosan mengatakan, pemerintah akan terus meningkatkan investasi hilirisasi untuk menangkap nilai tambah sekaligus mempercepat industrialisasi di dalam negeri dengan prinsip keberlanjutan.

"Kurang lebih sekarang total investasi yang masuk ke Indonesia dari 2025 sampai ke 2026 ini kurang lebih itu 30% dari total investasi. Kalau total investasi kita kurang lebih Rp 2.000 triliun, berarti kalau 30%-nya itu kurang lebih sampai Rp 650 triliun,” ujar Rosan dalam Indonesia Sustainability Forum (ISF) di Jakarta, Selasa (6/10/2026).

Rosan mengatakan, pembentukan kementerian koordinator yang menangani hilirisasi dan transisi energi dapat membuat koordinasi program pemerintah lebih komprehensif dan mempercepat pelaksanaan kebijakan.

Menurut Rosan, hilirisasi menjadi salah satu pilar utama untuk menarik investasi karena kebijakan tersebut memungkinkan Indonesia menangkap lebih banyak nilai tambah dari sumber daya yang dimiliki.

Rosan mengatakan, pemerintah juga mendorong program pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas 100 gigawatt sebagai salah satu program prioritas transisi energi.

Rosan mengatakan, kapasitas listrik Indonesia saat ini berada di kisaran 88-89 gigawatt, sehingga target 100 gigawatt tenaga surya memiliki skala besar dibandingkan kapasitas listrik nasional.

Pemerintah akan menggunakan program tersebut untuk menggantikan pembangkit diesel yang dinilai tidak efisien, dengan kapasitas sekitar 13 gigawatt yang akan digantikan secara bertahap menggunakan tenaga surya.

“Kita mau mengakselerasi dengan menggantikan yang saat ini sangat tidak efisien dengan diesel, kurang lebih ada 13 gigawatt yang kita akan coba replace secara bertahap dengan cepat dengan solar panel,” kata Rosan.

Rosan mengatakan pemerintah akan mengembangkan program lain di bawah koordinasi kementerian koordinator baru untuk mempercepat hilirisasi dan transisi energi.

Rosan mengatakan tren investasi hilirisasi berpotensi terus meningkat karena kebijakan tersebut mendorong nilai tambah dan industrialisasi di Indonesia.

“Paling penting bagaimana industrialisasi ini bisa terjadi di Indonesia dengan menjalankan asas-asas sustainability dan juga berkelanjutan dan berkesinambungan,” ujar Rosan.

ISF 2026 Digelar di Jakarta, 200 Pembicara Bahas Ekonomi Rendah Karbon

Sebelumnya, para pemimpin perusahaan, investor, dan pengambil kebijakan dari berbagai negara akan berkumpul di Jakarta dalam Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2026. Forum ini berlangsung pada 6-7 Oktober 2026 di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta.

Mengusung tema “Investing for a Resilient, Sustainable, and Prosperous World,” ISF 2026 menjadi ruang pertemuan bagi pemerintah, dunia usaha, investor, lembaga keuangan, akademisi, hingga organisasi internasional untuk membahas arah pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan.

Ketua Pelaksana ISF 2026 Rachmat Kaimuddin mengatakan Indonesia melihat agenda keberlanjutan sebagai bagian dari upaya menjaga pertumbuhan sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi.

“Di tengah perubahan arah dan dinamika global, menjaga konsistensi agenda keberlanjutan menjadi semakin penting. Bagi Indonesia, tantangannya adalah bagaimana menjaga momentum pertumbuhan sekaligus mendorong transisi menuju ekonomi yang lebih berkelanjutan,” ujar Rachmat Kaimuddin dalam keterangan tertulis, Jumat (2/10/2026).

ISF 2026 memasuki tahun keempat penyelenggaraan. Forum tersebut akan membahas bagaimana pertumbuhan, inovasi, teknologi, dan pembiayaan dapat digunakan untuk menghadapi tantangan pembangunan.

Pada hari pertama, pembahasan berfokus pada “Powering Low-Carbon Growth”, sedangkan hari kedua mengangkat tema “Enabling a Resilient & Liveable Future”.

Kedua tema tersebut menghubungkan agenda pertumbuhan rendah karbon dengan upaya membangun ekonomi yang tangguh dan inklusif.

 

Ciptakan Nilai Jangka Panjang

Rachmat mengatakan, pertumbuhan hijau perlu ditempatkan sebagai bagian dari strategi pembangunan nasional. Menurut dia, pendekatan tersebut dapat membuka peluang baru sekaligus menciptakan nilai jangka panjang.

“Kami melihat pertumbuhan hijau perlu ditempatkan sebagai bagian dari strategi pembangunan untuk memperkuat ketahanan ekonomi, membuka peluang baru, dan menciptakan nilai jangka panjang bagi masyarakat. Berangkat dari kepentingan nasional justru dapat membuat agenda keberlanjutan lebih relevan, berkelanjutan, dan membuka ruang kolaborasi global.”

Pandangan serupa disampaikan Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Pembangunan Manusia, Kebudayaan, dan Keberlanjutan KADIN Indonesia Shinta Kamdani. Ia menilai keberlanjutan semakin menjadi bagian dari strategi pertumbuhan dan daya saing perusahaan.

“Sustainability semakin menjadi bagian dari bagaimana dunia usaha melihat pertumbuhan, daya saing, dan peluang di masa depan. Bagi perusahaan, transisi ini membuka ruang untuk berinovasi, menciptakan nilai, dan membangun daya saing jangka panjang. ISF 2026 mempertemukan dunia usaha, investor, pemerintah, dan berbagai mitra strategis untuk melihat peluang tersebut dan mendorong kolaborasi yang dapat mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan dan resilient,” Shinta Kamdani menyampaikan

Rachmat menambahkan, ISF 2026 juga menjadi ruang untuk bertukar pengalaman dan mencari solusi yang dapat diterapkan.

“ISF 2026 membuka ruang bagi pemerintah, dunia usaha, investor, dan berbagai pemangku kepentingan untuk bertukar pengalaman, melihat tantangan dari berbagai perspektif, dan mengeksplorasi solusi yang dapat diterapkan.”

Hadirkan 200 Pembicara Internasional

ISF 2026 akan menghadirkan lebih dari 200 pembicara internasional dalam berbagai sesi pleno dan tematik. Para pembicara berasal dari pemerintahan, organisasi internasional, perusahaan, lembaga keuangan, akademisi, serta institusi global.

Sejumlah nama yang telah dikonfirmasi antara lain Armida Salsiah Alisjahbana, Under-Secretary-General & Executive Secretary UNESCAP; Hashim Djojohadikusumo, Special Envoy of the President of the Republic of Indonesia for Climate & Energy; dan Anindya Bakrie, Chairman KADIN.

Turut hadir Sigit Puji Santosa, Chief Technology Officer Danantara Indonesia; Helen Clarkson OBE dari The Climate Group; Justin Ma dari Standard Chartered Bank; serta Allen Tom Abraham dari BloombergNEF.

Selain itu, terdapat Rachmat Kaimuddin dari Danantara Development Management Fund, Shinta W. Kamdani dari APINDO, Frederick Teo dari GenZero, Rino Donosepoetro OBE dari Standard Chartered Bank, hingga Jeremy Oppenheim dari Systemiq.

Secara keseluruhan, ISF 2026 akan menggelar lebih dari 20 sesi dan mempertemukan ribuan peserta dari pemerintah, dunia usaha, akademisi, think tank, investor, serta organisasi filantropi.

Forum ini diharapkan menjadi ruang untuk mempertemukan perspektif Indonesia dan global mengenai investasi, inovasi, teknologi, serta pembiayaan dalam mendorong pertumbuhan yang lebih berkelanjutan dan berdaya tahan.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6