Pertamina Pastikan Pasokan BBM Aman Setelah Gempa Palu

Pertamina memastikan infrastruktur energi aman dan beroperasi normal setelah Gempa Palu pada Selasa, (16/6/2026).

Diterbitkan 16 Juni 2026, 14:18 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - PT Pertamina Patra Niaga memastikan pasokan bahan bakar minyak (BBM) dan liquefied petroleum gas (LPG) di wilayah Sulawesi tetap aman setelah gempa Palu dan sekitarnya.

Area Manager Communication, Relation, & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Lilik Hardiyanto, mengatakan seluruh infrastruktur energi milik Pertamina berada dalam kondisi aman dan tetap beroperasi normal.

"Terkait informasi gempa yang terjadi di wilayah Palu dan sekitarnya, Pertamina memastikan seluruh infrastruktur energi dalam kondisi aman dan beroperasi normal,” kata Lilik kepada Liputan6.com, Selasa (16/6/2026).

Ia menjelaskan, hingga saat ini tidak ditemukan dampak signifikan terhadap fasilitas distribusi maupun penyaluran BBM dan LPG di wilayah terdampak.

Menurut Lilik, stok BBM dan LPG di Sulawesi juga dalam kondisi aman dan mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Selain itu, proses distribusi energi masih berjalan normal tanpa kendala berarti.

Pertamina terus melakukan pemantauan terhadap kondisi di lapangan serta berkoordinasi dengan berbagai pihak guna memastikan layanan energi kepada masyarakat tetap terjaga.

"Distribusi energi tetap berjalan lancar dan Pertamina terus melakukan pemantauan serta koordinasi dengan pihak terkait untuk memastikan layanan kepada masyarakat tetap optimal,” ujarnya.

Update Gempa Palu: Terjadi 20 Kali Gempa Susulan

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melansir data terbaru pasca gempa Palu berkekuatan Magnitudo 6,7. Hingga pukul 12.00 WIB, telah terjadi 20 aktivitas gempa susulan (aftershock).

"Hingga pukul 12:00 WIB, hasil monitoring BMKG telah terjadi 20 aktivitas gempa bumi susulan (aftershock) dengan magnitudo terbesar 5,1," kata Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama saat jumpa pers, Selasa (16/5/2026) dikutip dari Kanal News Liputan6.com.

Berdasarkan hasil analisis, kata Nelly, mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan turun atau normal fault. Hingga saat ini sudah ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa bumi tersebut.

BMKG mencatat guncangan gempa dirasakan cukup kuat di sejumlah wilayah Sulawesi Tengah dan sekitarnya. Intensitas tertinggi tercatat di Kabupaten Sigi dengan skala VII MMI.

"Pertama dengan skala intensitas VII MMI di Sigi. Kedua, skala intensitas VI MMI di Palu, Parigi Utara, dan Poso. Ketiga, skala intensitas V MMI di Parigi Moutong, Banawa Selatan. Kemudian keempat, skala intensitas IV MMI di Sindue, Balaisang, dan Masamba," katanya.

Diberitakan, gempa bermagnitudo 6,7 yang mengguncang wilayah tenggara Kota Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (16/6/2026), tidak hanya dirasakan kuat di pusat gempa, tetapi juga menjalar hingga Sulawesi Barat (Sulbar), Sulawesi Selatan (Sulsel) dan Gorontalo. Getaran sempat membuat warga di sejumlah daerah berhamburan keluar rumah.

BMKG mencatat gempa terjadi pada pukul 10.27.45 WIB dengan kedalaman dangkal sekitar 10 kilometer. Karakter gempa yang bersumber dari aktivitas sesar aktif membuat getarannya terasa luas hingga lintas wilayah, termasuk Mamuju, Pinrang, hingga Kota Gorontalo.

Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan gempa tersebut termasuk kategori dangkal dengan mekanisme sesar normal. Kondisi itu membuat guncangan lebih terasa di permukaan.

"Gempa bumi yang terjadi merupakan gempa dangkal akibat aktivitas sesar aktif dengan mekanisme pergerakan turun atau normal fault," ujar Wijayanto.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6