Sukses

Wanita Jerman Hidup Tanpa Uang Selama 16 Tahun

Bukan hal yang aneh melihat banyak orang begitu tergiur dengan uang tunai. Bahkan tak sedikit yang rela melakukan apapun demi uang, dengan cara baik-baik lewat bekerja sampai melakukan tindakan kriminal.

Melansir laman Business Insider, Senin (22/7/2013), ternyata jika diamati lebih dalam, masih ada beberapa orang yang menentang kebiasaan ini dan menghindari penggunaan uang. Sebagian lainnya benar-benar tak mau menyentuh uang dalam menjalani kehidupannya.

Daniel Suelo misalnya, pria berusia 50 tahun ini memulai kehidupan barunya tanpa uang sejak tahun 2.000 dan diketahui tinggal di sebuah gua yang nyaman di Utah.

Namun sebelum Suelo, seorang wanita asal Jerman Heidemarie Schwermer telah memulai lebih dulu hidup tanpa uang. Saat ia baru berusia 50 tahun, Schwermer memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya yang menyenangkan sebagai psikoterapis dan hidup bebas tanpa terkekang uang.

Petualangan hidupnya tersebut telah didokumentasikan dalam sebuah film berjudul 'Living Without Money'.

16 tahun setelah itu, kabarnya tak banyak didengar lagi di tengah masyarakat. Dia diketahui hampir berusia 70 tahun saat ini. Wanita ini pun tak segan-segan membeberkan alasannya memutuskan untuk hidup tanpa gelimang harta, khususnya uang.

Semuanya dimulai saat dia dan keluarganya melarikan diri dari Prusia ke Jerman pada Perang Dunia II pada 1940-an. Ayahnya merupakan seorang pengusaha kopi sukses dimasanya yang sanggup mempekerjakan seorang pengasuh dan tukang kebun dari penghasilannya.

Dia mengatakan, keluarganya sempat bangkrut dan bangkit kembali. Saat memperoleh kekayaannya kembali, keluarganya berupaya keras mempertahankannya. Dalam kondisi begitu, dia selalu bertanya pada dirinya sendiri, apakah keluarganya kaya atau sebenarnya miskin.

Sepanjang hidupnya, dia selalu tertarik untuk mencari cara agar bisa hidup tanpa uang. Mantan guru sekaligus psikoterapis ini pun memulai pusat pertukaran barang pertama di Jerman 'Give and Take Central' pada 1994.

Perkumpulan tersebut membantu penduduk lokal untuk menukar jasa dengan barang, seperti mengasuh anak dan membersihkan barang. Saat itu, wanita lanjut usia ini memiliki keinginan kuat untuk mengurangi kebutuhan uangnya.

Dalam hidupnya, dia telah 4 kali gagal mencoba hidup tanpa uang. Hingga akhirnya pada saat kerabatnya tinggal selama 3 bulan dia membuat keputusan yang tak terduga.

"Saya rasa itulah waktu yang tepat, saya memberikan rumah dan semua yang saya miliki saat itu," kenangnya.

Dia mengaku memberikan semuanya kecuali benda-benda pribadi yang bisa masuk ke dalam koper kecilnya.

Kali ini dia berhasil dan telah hidup tanpa uang selama 16 bulan terakhir. Dia pun mengaku tak ingin kembali ke kehidupan lamanya.

Pada awalnya, dia melakukan pekerjaan sambilan di sekitar perumahannya, seperti menggunting rumput atau membersihkan jendela untuk memenuhi kebutuhannya.

Sedangkan untuk pakaian, dia mengaku selalu menyumbangkan baju-bajunya dan menunggu orang lain memberinya yang baru. Baginya, pemberian orang-orang tersebut bukan sumbangan melainkan mukjizat. "Setiap hari saya melihat banyak keajaiban dalam hidup saya," ujarnya.

Sama seperti saat dia berpikir soal makanan, dia kadang menemukannya di jalanan atau ada juga beberapa orang yang memberinya tanpa bayaran.

Jadwal hariannya cukup ketat. Setiap seminggu sekali dia pergi ke tempat yang baru, kadang dia mengunjungi beberapa universitas untuk mempromosikan film dokumenternya.

Bayaran yang diterimanya tak lebih dari sekadar tiket kereta. Dia menikmati perjalanannya dari satu tempat ke tempat lain sambil menyebarkan ajaran filosofisnya.

Menghadapi kritik masyarakat soal caranya menjalani kehidupan, dia mengaku tak sakit hati menerimanya meski kadang terasa cukup sulit.

"Saya bisa bertahan (atas sentimen para kritikus), tapi jika mereka mengatakannya langsung di hadapan saya, itu terasa sulit," jelasnya saat diwawancara di RAI TV, Roma, Italia.

Namun beberapa kerabat merasa keberatan dengan gaya hidupnya, dia selalu datang dan pergi sesukanya. Saat diminta bertahan lebih lama di satu tempat, dia selalu menolak untuk tinggal apalagi jika harus menetap.

Di Jerman, dia melatih sekelompok mahasiswa ahli lingkungan BUND Youth dari Muenster. Bahkan di pasar lokal, mereka berhasil mengubah pensil menjadi segenggam buah.

'Memberi dan menerima' merupakan kata-kata yang selalu diusung wanita tangguh ini. Dia mengatakan, kehilangan salah satu bagiannya, maka orang akan hidup secara tak seimbang.

Dalam film dokumenter tentang kehidupannya 'Living Without Money', dia terlihat tengah mencari makan dari sisa-sisa sayuran segar di pasar.

Dia kadang meminta sisa sayuran yang akan dibuang pada pemilik toko atau mengambilnya dari tumpukan tanah di luar toko.

Meki begitu dirinya menolak disebut tunawisma, karena dia menganggap keberadaannya tidak mengganggu dan menyusahkan siapapun.

Keluarga dan teman-temannya tak keberatan dengan gagasannya tersebut. Dia selalu menyempatkan diri menengok ke tiga cucunya beberapa kali setahun.

 "Sekarang mereka bangga dengan apa yang saya lakukan. Itu sudah cukup bagi saya," katanya.

Setelah bercerai dengan suaminya 40 tahun yang lalu, wanita dua anak ini belum pernah menikah kembali. Jika memang bisa menikah lagi, dirinya mengaku tak akan menolak.

Bicara soal pensiun, dia mengaku selalu menyumbangkannya. Sebagai orang tua, dia tak suka duduk-duduk dan sangat suka bepergian. (Sis/Nur)