Rupiah Dibuka Loyo Lagi Lawan Dolar AS, Tembus Level Segini

Simak gerak nilai tukar rupiah dan dolar AS pada pembukaan perdagangan hari ini Selasa 14 April 2026.

Diterbitkan 14 April 2026, 11:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa pagi ini. Kurs rupiah melemah 25 poin atau 0,15 persen menjadi Rp17.130 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.105 per dolar AS.

Kurs Rupiah Kemarin

Kemarin nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah tipis pada perdagangan Senin. Rupiah turun 1 poin atau 0,01 persen menjadi Rp 17.105 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp 17.104 per dolar AS.

Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, khususnya di kawasan Timur Tengah.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai tekanan terhadap rupiah dipicu rencana blokade Selat Hormuz oleh Amerika Serikat.

“Dipengaruhi upaya blokade AS menyusul kegagalan perundingan perdamaian antara AS dan Iran pada akhir pekan lalu,” ujarnya dikutip dari Antara, Senin (13/4/2026). 

Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa Angkatan Laut AS akan memulai blokade di Selat Hormuz. Langkah ini dinilai berisiko memperburuk situasi setelah gencatan senjata antara AS dan Iran tidak berlanjut.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital distribusi energi global. Ketegangan di wilayah ini berpotensi memicu gejolak pasar keuangan, termasuk nilai tukar mata uang negara berkembang seperti rupiah.

 

Blokade Hormuz dan Proyeksi Ekonomi Indonesia

Komando Pusat AS menyebutkan bahwa blokade akan diterapkan terhadap seluruh lalu lintas kapal yang masuk dan keluar pelabuhan Iran. Kebijakan ini berlaku bagi kapal dari berbagai negara yang beroperasi di kawasan Teluk Arab dan Teluk Oman.

Di sisi lain, Garda Revolusi Iran memperingatkan bahwa setiap kapal militer yang mendekati Selat Hormuz akan dianggap melanggar gencatan senjata dan akan ditindak tegas.

Ketegangan ini menambah ketidakpastian global, meskipun dari sisi domestik, prospek ekonomi Indonesia masih cukup stabil.

Asian Development Bank (ADB) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,2 persen pada 2026. Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan realisasi tahun sebelumnya sebesar 5,1 persen, meski masih di bawah target pemerintah sebesar 5,4 persen.

“Proyeksi tersebut masih dalam rentang target inflasi Bank Indonesia (BI) sebesar 2,5±1 persen,” kata Ibrahim.

Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), juga melemah ke Rp17.122 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.112 per dolar AS.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6