Rupiah Makin Merosot, BI Diprediksi Bakal Tahan Suku Bunga Acuan

Bank Indonesia akan mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate sama seperti Desember 2025.

Diterbitkan 20 Januari 2026, 14:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan Bank Indonesia akan mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 4,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 5,50% sama seperti Desember 2025.

Hal itu guna untuk menjaga agar mata uang rupiah tidak terus melemah. Pasalnya, rupiah sudah hampir mendekati Rp 17.000 per dollar AS.

"Guna untuk menopang mata uang rupiah, BI diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan saat rapat kebijakan pada Rabu 21 Januari 2026," kata Ibrahim dikutip Liputan6.com dari keterangannya, Selasa (20/1/2026).

Kata Ibrahim, disisi lain Bank Indonesia juga telah mengerahkan berbagai instrumen untuk menahan pelemahan rupiah, termasuk penyesuaian penerbitan surat berharga bank sentral, intervensi di pasar valuta asing, serta pembelian obligasi pemerintah di pasar sekunder.

Sebagai informasi, mengutip laman Bank Indonesia, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia dilaksanakan hari ini 20 Januari 2026 hingga besok 21 Januari 2026.

Diketahui, pada perdagangan sebelumnya, Senin (19/1) mata uang rupiah melemah dilevel Rp 16.955.

"Pada perdagangan sore (19/1), mata uang rupiah ditutup melemah 68 point  sebelumnya sempat melemah 75 point  dilevel Rp 16.955 dari penutupan sebelumnya di level Rp 16.896," ujarnya.

Proyeksi Rupiah 20 Januari 2026

Lebih lanjut, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan mata uang rupiah akan kembali melemah pada perdagangan hari ini Selasa 20 Januari 2026 direntang Rp 16.950 hingga Rp 16.980.

"Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang  Rp 16.950- Rp 16.980," ujarnya.

Kesehatan Fiskal RI Pengaruhi Rupiah 

Selain itu, kta Ibrahim, kekhawatiran terhadap kesehatan fiskal Indonesia kembali mencuat setelah terungkap pada 8 Januari 2026 bahwa defisit anggaran tahun lalu mendekati batas hukum sebesar 3%, sementara penerimaan negara masih lemah. Kondisi ini menambah tekanan terhadap pergerakan mata uang rupiah.  

Menurutnya, walaupun Bank Indonesia melakukan intervensi untuk mengendalikan volatilitas, terdapat cukup banyak keterbatasan dari sisi kebijakan. Bank Indonesia secara rutin melakukan pembelaan terhadap rupiah baik di pasar DNDF maupun pasar NDF.

"Namun, toleransi Bank Indonesia terhadap pelemahan rupiah yang moderat dapat membatasi efektivitas intervensi tersebut," pungkasnya.

  

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6