Data China Melemah, Bank Sentral Tahan Suku Bunga Acuan 7 Bulan Berturut-turut

Data China menunjukkan pelemahan ekonomi, namun bank sentral tetap menahan suku bunga acuan untuk ketujuh kalinya berturut-turut.

Diterbitkan 22 Desember 2025, 16:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bank sentral China kembali mempertahankan suku bunga pinjaman acuannya meski sejumlah data China menunjukkan pelemahan ekonomi. Keputusan ini menandai bulan ketujuh berturut-turut tanpa perubahan kebijakan moneter, di tengah perlambatan ekonomi dan krisis berkepanjangan di sektor properti.

Dikutip dari CNBC, Senin (22/12/2025), People’s Bank of China (PBOC) pada Senin waktu setempat menahan Loan Prime Rate (LPR) tenor 1 tahun di level 3 persen dan LPR tenor 5 tahun di 3,5 persen. Keputusan ini sesuai dengan perkiraan mayoritas ekonom dalam survei Reuters.

LPR tenor 1 tahun menjadi acuan utama untuk kredit baru, sementara LPR 5 tahun berperan penting dalam penetapan suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR). Dengan tidak adanya perubahan suku bunga, PBOC memberi sinyal kehati-hatian di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil.

Langkah ini diambil setelah rilis data China terbaru pada November menunjukkan kinerja ekonomi yang lebih lemah dari perkiraan, terutama pada sektor konsumsi dan industri.

Penjualan ritel China pada November hanya tumbuh 1,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut jauh di bawah proyeksi pasar sebesar 2,8 persen, sekaligus melambat dari pertumbuhan 2,9 persen pada bulan sebelumnya.

Sementara itu, produksi industri juga gagal memenuhi ekspektasi. Data China mencatat produksi industri hanya naik 4,8 persen secara tahunan, lebih rendah dari perkiraan kenaikan 5 persen dan menjadi pertumbuhan terlemah sejak Agustus 2024.

 

Dampak Krisis sektor Properti

Tekanan ekonomi semakin berat akibat krisis di sektor properti yang belum mereda. Investasi aset tetap, termasuk properti, tercatat turun 2,6 persen sepanjang periode Januari hingga November dibandingkan tahun lalu. Penurunan ini lebih dalam dibandingkan estimasi ekonom sebesar 2,3 persen.

Harga rumah baru juga terus mengalami penurunan pada November, mencerminkan lemahnya permintaan properti di China. Kondisi ini menambah tantangan bagi pemulihan ekonomi Negeri Tirai Bambu.

Data China menunjukkan harga rumah baru di kota-kota tier-1 seperti Beijing, Guangzhou, dan Shenzhen turun 1,2 persen secara tahunan. Sementara itu, harga rumah bekas anjlok lebih dalam, yakni 5,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

 

 

Stimulus Tetap Dibutuhkan

Menanggapi jeda kebijakan moneter selama tujuh bulan, profesor ekonomi Universitas Cornell, Eswar Prasad, mengatakan stimulus tetap dibutuhkan. Namun ia menilai kebijakan moneter saja tidak cukup efektif, terutama saat sektor swasta masih melemah.

“Dengan momentum pertumbuhan yang melambat, pemerintah perlu membuka keran stimulus, baik moneter maupun fiskal, yang dibarengi dengan reformasi struktural,” ujarnya kepada CNBC.

Sebelumnya, Kementerian Keuangan China mengumumkan rencana penerbitan obligasi pemerintah khusus berjangka sangat panjang pada tahun depan untuk mendanai proyek infrastruktur strategis. Pemerintah juga berjanji mendorong konsumsi guna menghadapi tekanan deflasi.

Di sisi pasar, indeks CSI 300 China naik 0,43 persen pada perdagangan Senin. Nilai tukar yuan onshore stabil di level 7,04 per dolar AS, sementara yuan offshore melemah tipis ke posisi 7,03 per dolar AS.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6