Kena PHK, Wanita Ini Mampu Tutup Pengeluaran Rp 70 Juta per Bulan Berkat YouTube

Kisah Symone Austin, wanita 33 tahun yang di PHK namun tetap mampu menutup pengeluaran USD 4.400 per bulan. Ia bertahan dengan monetisasi YouTube.

Diterbitkan 23 November 2025, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bagi Symone Austin (33), awal tahun 2025 menjadi masa yang tak terlupakan. Di tengah rutinitasnya sebagai desainer UX di sebuah perusahaan ritel, sebuah email dari HRD yang masuk pukul 11 siang langsung membuat dadanya sesak.

Ia diminta mengosongkan jadwal dan bersiap untuk rapat satu jam kemudian.

Instingnya langsung bekerja. Ini adalah panggilan yang selama enam bulan terakhir ia takuti. Saat manajer dan sejumlah rekan kerja lebih dulu diberhentikan pada 2024, Austin sudah merasa waktunya akan tiba.

“Saya takut, gugup, cemas. Bahkan menangis,” ujarnya dikutip dari CNBC Make It, Minggu (23/11/2025).

Dan benar saja, dalam pertemuan Zoom tersebut, ia resmi kena PHK bersama sekitar 20 karyawan lainnya.

Namun siapa sangka, keputusan tidak menyenangkan itu justru menjadi titik balik hidupnya.

YouTube Jadi Penyelamat

Sebelum kehilangan pekerjaan, Austin berpenghasilan USD 131.000 per tahun atau sekitar Rp 2,18 miliar (estimasi kurs dolar Rp 16.671). Saat di PHK, ia masih menerima gaji terakhir, bonus, serta pesangon kecil. Tunjangan pengangguran selama 12 minggu memberi tambahan USD 7.200.

Tetapi sumber pendapatan utamanya justru datang dari hobi lamanya membuat video YouTube.

Austin memulai kanal “Life and Numbers” pada 2015, awalnya sebagai wadah kreatif. Namun setelah ia membagikan kisah di PHK, videonya mendadak viral ditonton lebih dari 700.000 kali di YouTube dan 1,6 juta kali di TikTok.

Sebulan sebelum video itu, penghasilannya hanya USD 900. Pada Februari, angkanya melonjak menjadi USD 5.900. Sepanjang tahun ini, ia sudah meraup sekitar USD 21.000 hanya dari iklan YouTube.

Tak berhenti di situ, ia juga memperoleh pemasukan dari sponsor dan kerja sama brand, fitur “super thanks”, penjualan produk digital dan merchandise sekitar USD 3.000.

Selain itu, ia bekerja paruh waktu sebagai asisten virtual studio Pilates yang memberinya USD 300 per bulan plus kelas gratis.

Pengeluaran USD 4.400 per Bulan

Tanpa pekerjaan tetap, Austin tetap harus menutup pengeluarannya yang mencapai USD 4.400 atau sekitar Rp 70 juta tiap bulan.

Pengeluaran itu meliputi:

  • Hipotek + utilitas: USD 2.962
  • Makanan: USD 475
  • Utang: USD 423
  • Asuransi kesehatan: USD 352
  • Bensin, telepon, dan pengeluaran kecil lainnya

Rumah dua kamar tidur yang ia beli pada 2024 membuatnya punya cicilan di atas USD 2.800 per bulan. Kekhawatiran soal biaya perumahan sempat membuatnya berpikir untuk pindah, namun ia akhirnya memutuskan menerima teman untuk tinggal bersama mulai Januari mendatang agar bebannya lebih ringan.

Austin juga masih membayar pinjaman mahasiswa sebesar USD 33.000 serta utang kartu kredit sekitar USD 15.000 yang berasal dari pembelian furnitur rumah.

“Saya bertekad tidak menambah utang baru,” ujarnya.

Mengandalkan Tabungan, Tapi Tidak Banyak Menyentuhnya

Austin memulai tahun dengan dana darurat USD 40.000. Menariknya, ia hampir tidak pernah benar-benar menyentuhnya karena pendapatannya meskipun tidak tetap mampu menutup sebagian besar kebutuhan.

“Setiap kali saya menarik tabungan, selalu ada pemasukan yang datang dari tempat lain,” katanya.

Baginya, itu sebuah berkah setelah 10 bulan menjalani ketidakpastian.

 

Bertahan Berkat Teman, Keluarga, dan Iman

 

Menjalani hampir setahun tanpa pekerjaan tentu menguras mental. Austin mengaku sering dilanda kecemasan dan kadang depresi. Namun ia mengandalkan aktivitas fisik, meditasi, serta dukungan keluarga dan teman untuk tetap waras.

Teman-temannya bahkan beberapa kali menanggung biaya traveling agar Austin tetap bisa menikmati hidup. Kakaknya juga membelikan tiket konser Beyoncé sebagai penyemangat.

“Saya punya rasa syukur yang jauh lebih besar terhadap support system saya tahun ini,” ujarnya.

Siap Kembali Bekerja

Meski kanal YouTube membantunya bertahan, Austin tetap mengincar pekerjaan tetap. Ia baru saja mengantongi sertifikasi desain aksesibilitas dan terbuka pada posisi UX, kontrak, atau pekerjaan kreator konten.

Jika sudah stabil, tujuan keuangannya adalah melunasi utang kartu kredit, melunasi pinjaman mahasiswa, membangun fondasi menuju FIRE (Financial Independence, Retire Early)

Pesannya untuk mereka yang sedang mengalami PHK?

“Jangan terlalu menyalahkan diri sendiri. Ini tidak akan berlangsung selamanya.”

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6