Tim Percepatan Industri Sustainable Aviation Fuel Dibentuk, Ini Tujuannya

Kemenko Infrastruktur menyatakan, Sustanaible Aviation Fuel (SAF) menjadi pilar penting menuju net zero emission 2060.

Diterbitkan 11 November 2025, 18:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah telah membentuk Tim Percepatan Pengembangan Industri Sustainable Aviation Fuel (SAF). Langkah ini sebagai upaya memperluas dekarbonisasi, utamanya untuk bahan bakar pesawat.

Deputi Bidang Koordinasi Konektivitas Kemenko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Odo R. M. Manuhutu, menegaskan SAF menjadi bagian penting dalam peta jalan dekarbonisasi transportasi nasional.

"Saat ini Pemerintah telah mengesahkan Tim Percepatan Pengembangan Industri SAF di Indonesia, yang terdiri dari berbagai kementerian/lembaga terkait," kata Odo, dalam keterangan resmi, dikutip Selasa (11/11/2025).

"Kunci keberhasilan ada pada inovasi dan kolaborasi inklusif. Pemerintah sedang menyusun transport decarbonization plan mencakup darat, laut, dan udara, dan SAF menjadi pilar penting menuju net zero emission 2060,” Odo menambahkan.

Sejalan dengan itu, PT Pertamina Patra Niaga turut menaruh perhatian pada sektor ini. Direktur Pemasaran Pusat & Niaga, Pertamina Patra Niaga, Alimuddin Baso menyebutkan komitmen itu hadir melalui Pertamina Aviation Global Summit.

"Forum ini bukan hanya ruang berbagi gagasan, tetapi juga langkah strategis memperkuat kolaborasi lintas sektor menuju penerbangan yang lebih berkelanjutan dan berdaya saing global,” ujar Alimuddin Baso.

Kantongi Sertifikat

Pertamina juga telah mengantongi sertifikasi keberlanjutan yaitu International Sustainability and Carbon Certification (ISCC) dan tengah menjajaki sistem ISCC Credit Transfer System guna memastikan transparansi dan traceability jejak karbon.

"Ke depan, Pertamina Patra Niaga akan terus memperkuat kapasitas pasokan Pertamina SAF, memperluas pengumpulan bahan baku lokal, serta membangun kemitraan strategis dengan mitra global," katanya.

"Transisi energi di sektor aviasi tidak dapat berjalan sendiri. Sinergi adalah kunci agar Indonesia dapat menjadi bagian penting dalam rantai pasok SAF dunia," Alimuddin menambahkan.

 

Industri SAF Indonesia Menjanjikan

Head of Procurement Operations & Development Cathay Pacific Airways, Kristof Van Passel menilai Indonesia memiliki arah kebijakan dan kemampuan teknis yang menjanjikan.

"Kami melihat keseriusan Pertamina dalam membangun rantai pasok SAF dari hulu hingga hilir. SAF adalah kunci dekarbonisasi aviasi, mampu mengurangi emisi hingga 80% tanpa perlu mengubah infrastruktur atau pesawat,” ujar Kristof.

Cathay Pacific dan Pertamina juga menyepakati penjajakan kerja sama jangka panjang meliputi studi kelayakan bahan baku lokal, pengembangan rantai pasok, hingga potensi offtake agreement dan investasi bersama untuk proyek SAF di Indonesia.

Kemajuan Besar

Sementara itu, Associate Director Commercial Strategy, S&P Global Commodity Insights, Daphne Tan menilai langkah Indonesia melalui Pertamina sebagai kemajuan besar.

"Dengan sumber daya seperti UCO, Indonesia memiliki keunggulan kompetitif untuk menjadi pusat SAF di Asia. Sertifikasi ISCC yang dimiliki Pertamina menjadi bagian penting dalam menjelaskan ketertelusuran atas keberlanjutan rantai nilai SAF secara global,” ujar Daphne.

Forum ini juga dihadiri oleh perwakilan dari berbagai perusahaan energi yang secara serentak menyampaikan apresiasi terhadap peran Indonesia dalam membangun ekosistem SAF di kawasan Asia Pasifik.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6