Jelang Pidato Nota Keuangan Prabowo, Rupiah Ditutup Perkasa Rp 16.115

Pelaku pasar menunggu pidato kenegaraan presiden Prabowo Subianto, termasuk Nota Keuangan dan RUU APBN 2026, baru akan disampaikan secara resmi besok Jumat (15/8/2025).

Diterbitkan 14 Agustus 2025, 16:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi, mencatat pada perdagangan Kamis sore ini, mata uang rupiah ditutup menguat 87 poin sebelumnya sempat menguat 120 poin di level Rp 16.115 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp 16.201 per dolar AS.

"Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup menguat direntang Rp 16.060 - Rp 16.120," kata Ibrahim dalam keterangannya, Kamis (14/8/2025).

Adapun penguatan tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor. Untuk faktor eksternal misalnya data inflasi AS terbaru memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (Fed) akan memangkas suku bunga pada pertemuan kebijakan moneternya di bulan September.

Laporan Indeks Harga Konsumen (IHK) AS terbaru menunjukkan bahwa inflasi utama bulanan di bulan Juli meningkat sesuai dengan yang perkiraan sementara tingkat inflasi tahunan sedikit menurun di bawah ekspektasi.

Perkembangan yang lebih menonjol terjadi pada IHK inti, yang mengecualikan pangan dan energi. Kenaikan bulanan dan tahunannya sedikit di atas proyeksi, menggarisbawahi tekanan inflasi yang masih terjadi.

"Namun meskipun hasilnya beragam, pasar optimis karena laporan tersebut memberikan bukti hanya sedikit lonjakan harga konsumen yang terjadi akibat tarif impor baru Presiden Trump yang baru-baru ini diumumkan," ujarnya.

Inflasi yang ringan, dikombinasikan dengan tanda-tanda pasar tenaga kerja yang mendingin, memperkuat ekspektasi pasar terhadap penurunan suku bunga pada bulan September, dengan CME FedWatch Tool kini memperkirakan probabilitas di atas 95% atas penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin.

 

Pertemuan Trump dan Putin

Menurut Ibrahim, para pedagang mengamati dengan saksama pertemuan puncak antara Presiden Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Anchorage pada hari Jumat, akan menyebabkan pelonggaran sanksi minyak mentah Rusia dan bahkan dapat mengakibatkan tindakan lebih lanjut terhadap pembeli.

Trump pada hari Rabu mengancam "konsekuensi berat" jika Putin tidak menyetujui perdamaian di Ukraina. Trump tidak merinci apa konsekuensinya, tetapi ia telah memperingatkan sanksi ekonomi jika pertemuan di Alaska pada hari Jumat tidak membuahkan hasil.

"Trump telah mengancam akan memberlakukan tarif sekunder pada pembeli minyak mentah Rusia, terutama Tiongkok dan India, jika Rusia melanjutkan perangnya di Ukraina," ujarnya.

 

Faktor Internal

Sementara itu, faktor internal yakni pasar menunggu pidato kenegaraan presiden Prabowo Subianto, termasuk Nota Keuangan dan RUU APBN 2026, baru akan disampaikan secara resmi besok Jumat (15/8/2025). Seluruh pihak untuk bersabar dan menghormati disiplin waktu penyampaian.

"Pidato Presiden akan memberi gambaran jelas mengenai postur APBN dan program prioritas pemerintah tahun depan. Dua pidato yang akan dibawakan Presiden Prabowo perlu dinikmati pada waktunya. Presiden Prabowo dijadwalkan menyampaikan dua pidato kenegaraan pada peringatan HUT Ke-80 Kemerdekaan RI, Jumat (15/8), di Gedung MPR dan DPR RI, Senayan Jakarta," ujarnya.

Pidato pertama dijadwalkan berlangsung pukul 09.00 WIB di hadapan MPR seputar laporan hasil kinerja pemerintah yang sudah berjalan hampir 300 hari atau hampir 10 bulan.

Kemudian, pidato kenegaraan kedua akan digelar pukul 14.30 WIB di hadapan Rapat Paripurna DPR RI. Presiden dijadwalkan menyampaikan pengantar Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) Tahun 2026.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6