Investor Ini Lepas Saham Nvidia dan AMD, Kini Bertaruh di Chip AI Alternatif

David Tepper, investor kawakan Wall Street, melepas saham Nvidia dan AMD, dua raksasa chip AI, dan kini mengincar Broadcom. Apa alasannya?

Diterbitkan 24 Juli 2025, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - David Tepper dikenal sebagai salah satu investor paling sukses di Wall Street. Lewat perusahaan dana lindung nilainya, Appaloosa Management, ia berhasil mencatatkan imbal hasil tahunan rata-rata lebih dari 28% sejak 1993—jauh melampaui pertumbuhan indeks S&P 500 yang hanya sekitar 10,6% per tahun dalam tiga dekade terakhir.

Dikutip dari Motley Fool, Rabu (23/7/2025), strategi Tepper dikenal agresif dan tak biasa. Ia kerap membeli utang perusahaan yang sedang bermasalah—langkah berisiko tinggi, namun terbukti menguntungkan. Di era 1990-an, Appaloosa bahkan dijuluki sebagai “butik obligasi sampah”.

Pendekatan berani ini juga tercermin dalam strategi sahamnya.

Meski sering mengambil langkah berbeda dari pasar, Tepper tidak menutup diri pada tren baru. Ia sempat berinvestasi di saham-saham teknologi yang sedang naik daun, termasuk Nvidia dan AMD—dua pemain utama di sektor kecerdasan buatan (AI). Saham keduanya meroket dalam beberapa tahun terakhir, dan Tepper ikut meraup keuntungan besar.

Namun belakangan, ia mulai melepas saham-saham tersebut dan beralih ke produsen chip AI lainnya—tanda khas strategi kontrariannya kembali muncul.

 

 

GPU Jadi Jantung AI, Tapi Ada Tantangan Baru

Unit pemrosesan grafis (GPU) menjadi komponen penting dalam perkembangan AI karena mampu menangani perhitungan paralel secara efisien—sesuatu yang sangat dibutuhkan untuk melatih model bahasa berskala besar. Dibanding CPU, GPU jauh lebih optimal dalam beban kerja seperti ini.

Nvidia sudah lama menjadi raja GPU, awalnya digunakan untuk kebutuhan grafis dalam gim. Kini, GPU mereka menjadi tulang punggung pusat data AI. Bahkan, berkat lonjakan permintaan, Nvidia kini menjadi perusahaan paling bernilai di dunia dengan kapitalisasi pasar lebih dari USD 4 triliun (sekitar Rp 65.300 triliun).

AMD pun tak mau ketinggalan. Perusahaan ini sedang mengembangkan chip MI400 yang diperkirakan bisa bersaing secara harga dan performa dengan lini Blackwell milik Nvidia. Meski saham AMD sempat anjlok 60% sejak awal 2024, investor kontrarian melihat ini sebagai peluang.

Namun, Tepper justru menjual seluruh saham AMD-nya pada kuartal pertama 2025, setelah baru membelinya pada pertengahan 2023. Ia juga terus memangkas kepemilikan di Nvidia, hingga hanya menyisakan sekitar 3% dari portofolio Appaloosa. Sebagai gantinya, ia mulai mengincar pemain lain dalam arena chip AI.

 

Tepper Beralih ke Broadcom: Alternatif GPU untuk AI

Meski GPU saat ini menjadi standar dalam pelatihan AI, perusahaan-perusahaan teknologi besar seperti Meta dan Google mulai mengembangkan chip khusus bernama ASIC (application-specific integrated circuit). Chip ini dirancang khusus untuk tugas AI tertentu dan menawarkan efisiensi energi yang lebih tinggi dibanding GPU.

Meta, misalnya, telah mengembangkan chip yang mampu melatih model bahasa besar secara mandiri. Google pun menggunakan chip internal bernama TPU (Tensor Processing Unit) untuk melatih model AI mereka, Gemini.

Di balik chip-chip ini ada peran Broadcom (AVGO), yang membantu merancang ASIC untuk raksasa teknologi. Selain itu, Broadcom juga menjadi pemasok utama chip jaringan yang menghubungkan GPU dan ASIC di pusat data, memastikan aliran data yang cepat dan efisien.

Tak hanya fokus pada chip, Broadcom juga memiliki bisnis perangkat lunak yang kuat lewat akuisisi VMware, membuatnya lebih terdiversifikasi dibanding Nvidia atau AMD. Faktor inilah yang mungkin menarik perhatian Tepper—sebuah perpaduan antara potensi pertumbuhan AI dan stabilitas bisnis perangkat lunak.

 

Apakah Saham Broadcom Terlalu Mahal?

Saham Broadcom saat ini diperdagangkan pada valuasi tinggi, dengan rasio harga terhadap laba (P/E) mendekati 40—sejajar dengan Nvidia, dan sedikit lebih rendah dari AMD. Meski mahal, potensi pertumbuhan Broadcom dianggap menjanjikan, terutama jika dominasi ASIC makin meluas di pusat data.

Namun, penting dicatat bahwa pertumbuhan Broadcom mungkin tak secepat Nvidia atau AMD. Karena itu, bagi investor yang tertarik mengikuti jejak Tepper, memantau pergerakan harga Broadcom dan menunggu valuasi yang lebih menarik bisa menjadi strategi yang lebih bijak.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6