Pernikahan Mewah Jeff Bezos di Venesia Picu Gelombang Protes Warga

Pernikahan mewah antara Jeff Bezos dan Lauren Sanchez di Venesia memicu gelombang kritik yang tak bisa diabaikan.

Diterbitkan 01 Juli 2025, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pernikahan mewah antara Jeff Bezos dan Lauren Sanchez di Venesia memicu gelombang kritik yang tak bisa diabaikan. Meski pesta tiga hari itu yang dikabarkan menelan biaya hingga USD 55 juta atau sekitar Rp 895 miliar (estimasi kurs Rp 16.300 per USD) disebut-sebut mampu mendongkrak omzet pariwisata kota hingga 68%, banyak warga justru menyuarakan penolakan.

Setelah pernikahan berlangsung pada hari Jumat, keesokan harinya, ratusan warga turun ke jalan dan berkumpul di stasiun kereta kota untuk menggelar unjuk rasa. Mereka membawa satu pesan yang jelas kepada pendiri Amazon dan istrinya untuk meninggalkan Venesia.

“Bezos, enyahlah! Keluarlah dari laguna kami!” teriak para demonstran dalam bahasa Italia dikutip dari CNN, Selasa (1/7/2025).

Alih-alih menjadi simbol kemajuan ekonomi atau dukungan terhadap pelestarian budaya lokal, pernikahan Bezos justru dituding sebagai bentuk pamer kekayaan yang mengabaikan realitas sosial. Demonstran menyebut kota mereka tengah “disalahgunakan” oleh kekuatan uang dan citra, bukan dihormati sebagai warisan dunia yang rapuh dan sensitif.

 

Ironi

Banyak warga melihat ironi dalam pesta tersebut. Di saat sebagian besar pekerja Amazon yang ikut berdemo mengaku kesulitan membayar sewa dan harus menempuh perjalanan jauh untuk bekerja, bos besar perusahaan itu justru menggelar pesta mewah di kota yang sedang berjuang menghadapi krisis pariwisata massal (overtourism) dan perubahan iklim.

Protes juga menyentuh sisi politik. Seorang perempuan berteriak melalui mikrofon di dekat stasiun, mengecam hubungan Bezos dengan Presiden AS Donald Trump yang dinilai memprioritaskan belanja militer. “Kami mendukung perdamaian!” serunya, disambut tepuk tangan.

Dalam aksi tersebut, beragam bendera tampak berkibar di tengah kerumunan: bendera Palestina, bendera pelangi sebagai simbol kebanggaan LGBTQ+, bendera anti-fasis, dan bendera merah khas Venesia menjadi pemandangan umum. Beberapa demonstran bahkan mengibarkan bendera yang dimodifikasi menampilkan singa emas Venesia yang membawa pedang sambil mengenakan balaclava hitam sebagai bentuk perlawanan simbolik terhadap kekuatan modal.

 

Etika Publik

Kritik terhadap konsentrasi kekayaan bukan hal baru. Tapi kasus ini menunjukkan wajah kapitalisme global yang semakin kontras ketika kota-kota bersejarah menjadi panggung pribadi orang kaya, sementara warganya hanya bisa menyaksikan dari luar pagar.

Bezos mungkin tidak melanggar hukum, tetapi pertanyaan mendasarnya adalah “apakah ia melanggar etika publik?” Di tengah ketimpangan yang menganga, pesta glamor seperti ini tampak seperti lelucon mahal yang hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang dan ditanggung oleh banyak pihak lainnya, baik secara ekonomi maupun moral.

Aksi protes di Venesia tidak sekadar menolak individu, tetapi juga merefleksikan keresahan publik global atas bagaimana uang dan kekuasaan dapat menguasai ruang publik, merusak harmoni sosial, dan mendistorsi nilai-nilai bersama.

Reporter: Linda Maulina Khairunnisa

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6