Bos Medco Energi Puji Hilirisasi RI, Jadi Masa Depan Cerah

CEO Medco Energi, Roberto Lorato memuji perkembangan hilirisasi pada sektor energi Indonesia yang menghadirkan peluang ekonomi.

Diterbitkan 21 Mei 2025, 13:31 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta CEO Medco Energi, Roberto Lorato memuji perkembangan hilirisasi pada sektor energi Indonesia yang menghadirkan peluang ekonomi.

Roberto memaparkan, sektor hilir minyak dan gas global diproyeksikan tumbuh sebesar 4% per tahun hingga 2028 mendatang, dengan kawasan Asia-Pasifik memimpin pertumbuhan global.

“Di Indonesia, momentum ini terbukti dalam investasi di bidang penyulingan dan petrokimia, yang dipercepat untuk memenuhi permintaan domestik yang meningkat, dan mendukung industrialisasi nasional,” ujar Roberto dalam kegiatan IPA Convex 2025 di ICE BSD City, Tangerang, Rabu (25/5/2025).

Soroti Target Ambisius Indonesia

Roberto pun menyoroti target ambisius Indonesia untuk menarik investasi senilai lebih dari USD 68 miliar atau Rp1,1 kuadriliun dari sektor minyak dan gas antara tahun 2023 dan 2040, dan memangkas ekspor bahan mentah lebih dari 70% pada tahun 2027.

“Jadi, hilirisasi bukan sekadar kebijakan ekonomi, tetapi merupakan keharusan pembangunan nasional bagi Indonesia. Khususnya di bidang minyak dan gas, hilirisasi di Indonesia juga akan selaras erat dengan tujuan transisi energinya,” tuturnya.

“Hilirisasi minyak dan gas diharapkan dapat memberikan dampak sosial ekonomi yang signifikan bagi Indonesia,” lanjutnya.

 

Peran Sektor Hulu

Namun, upaya hilirisasi di bagian hilir akan ada jika hulu berhasil. Lantas, apa peran hulu dalam mendukung ambisi pemerintah di sektor hilir?

Roberto melihat, hilirisasi migas bukanlah konsep baru. Bahkan, hilirisasi migas sudah dilakukan jauh sebelum hilirisasi di sektor mineral dan pesisir.

“Maka, tugas sektor hulu migas saat ini adalah terus memperluas dan mendukung perluasan sektor hilir melalui peningkatan produksi migas dalam negeri secara substansial?” imbuhnya.

 

Devisa Hasil Ekspor Harus jadi Penggerak Hilirisasi dan Ekonomi Daerah

Diwartakan sebelumnya, Pemerintah resmi memperkuat kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 8 Tahun 2025. Aturan ini mewajibkan eksportir sumber daya alam (SDA), termasuk sektor pertambangan dan energi (minerba), untuk menempatkan seluruh hasil devisa ekspornya di bank nasional selama 12 bulan.

Tujuannya adalah memperkuat cadangan devisa, menjaga nilai tukar rupiah, dan memperkuat ekonomi nasional.

Anggota Komisi XII DPR RI, Alfons Manibui, menyatakan dukungannya terhadap kebijakan ini. Ia menekankan bahwa DHE harus dikelola secara strategis agar hasil ekspor tidak hanya menguntungkan luar negeri, tetapi juga berkontribusi langsung ke pembangunan dalam negeri.

“Kebijakan ini adalah langkah strategis untuk memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia. Sudah saatnya hasil ekspor kita dimanfaatkan untuk memperkuat industri nasional,” tegas Alfons Manibui, Legislator dari Daerah Pemilihan Papua Barat itu.

 

Manfaat Utama DHE

Menurut Alfons, salah satu manfaat utama DHE adalah mendorong hilirisasi. Dana ekspor bisa digunakan untuk membangun smelter, mengembangkan industri turunan, hingga riset dan teknologi.

“Kalau dana ekspor diputar di dalam negeri, hilirisasi bisa dipercepat. Kita bisa naik kelas dari penjual bahan mentah jadi eksportir produk bernilai tambah,” ujar politisi Partai Golkar ini.

Lebih jauh, DHE juga bisa mendorong pertumbuhan ekonomi. Dengan lebih banyak dana yang berputar di dalam negeri, investasi akan naik, lapangan kerja bertambah, dan belanja masyarakat meningkat. Efeknya terasa langsung, terutama wilayah penghasil seperti daerah-daerah di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6