Minat Masyarakat Beli Kendaraan Bekas Masih Tinggi Meski Ekonomi Gonjang Ganjing

OJK memandang meski ekonomi global diwarnai ketidakpastian, termasuk dampak dari kebijakan perdagangan internasional yang ketat, sektor pembiayaan kendaraan bekas di Indonesia tetap tangguh.

Diperbarui 17 April 2025, 17:02 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Di tengah bayang-bayang pelemahan penjualan dan kebijakan tarif proteksionis dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menekan pasar industri otomotif global, prospek pembiayaan kendaraan bekas di Indonesia tetap menunjukkan arah yang positif sepanjang tahun 2025.

Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK (KE PVML), Agusman menyampaikan, pertumbuhan pembiayaan kendaraan bekas pada Februari 2025 tercatat sebesar 15,56% secara tahunan (year-on-year/yoy), dengan nilai mencapai Rp117,06 triliun.

"Pertumbuhan pembiayaan kendaraan bekas pada Februari 2025 tercatat15,56% yoy menjadi sebesar Rp117,06 triliun," kata Agusman dikutip dari jawaban tertulisnya, Kamis (17/4/2025).

Angka ini mencerminkan minat masyarakat yang masih tinggi terhadap kendaraan bekas, serta kepercayaan lembaga pembiayaan dalam menyalurkan kredit pada sektor ini.

Sektor Pembiayaan Tetap Tangguh

Menurutnya, meski ekonomi global diwarnai ketidakpastian, termasuk dampak dari kebijakan perdagangan internasional yang ketat, sektor pembiayaan kendaraan bekas di Indonesia tetap tangguh.

Dengan kinerja yang solid di awal tahun dan potensi pasar yang masih besar, pembiayaan kendaraan bekas diperkirakan akan terus tumbuh secara positif hingga akhir tahun. OJK pun tetap optimistis terhadap daya tahan sektor ini dalam menghadapi dinamika ekonomi domestik maupun global.

"Diperkirakan pembiayaan kendaraan bekas masih dapat tumbuh secara positif pada tahun 2025, di tengah dinamika perekonomian akhir-akhir ini," pungkasnya.

 

Perkembangan sektor PVML

Di sektor PVML, piutang pembiayaan Perusahaan Pembiayaan (PP) tumbuh 5,92 persen yoy pada Februari 2025 menjadi Rp507,02 triliun, didukung pembiayaan investasi yang tumbuh sebesar 12,98 persen yoy.

Profil risiko Perusahaan Pembiayaan (PP) terjaga dengan rasio Non Performing Financing (NPF) gross tercatat turun menjadi 2,87 persen dan NPF net 0,92 persen. Gearing ratio PP tercatat sebesar 2,20 kali dan berada di bawah batas maksimum sebesar 10 kali.

Pertumbuhan pembiayaan modal ventura di Februari 2025 terkontraksi 0,93 persen yoy dengan nilai pembiayaan tercatat Rp16,34 triliun.

Pada industri fintech peer to peer (P2P) lending, outstanding pembiayaan di Februari 2025 tumbuh 31,06 persen yoy dengan nominal sebesar Rp80,07 triliun. Tingkat risiko kredit macet secara agregat (TWP90) berada di posisi 2,78 persen.

 

Pembiayaan BNPL

Berdasarkan SLIK, pembiayaan Buy Now Pay Later (BNPL) oleh Perusahaan Pembiayaan pada Februari 2025 meningkat sebesar 59,1 persen yoy, atau menjadi Rp8,2 triliun dengan NPF gross sebesar 3,68 persen.

Untuk 21 Koperasi di Sektor Jasa Keuangan (open loop) yang telah dialihkan pengaturan dan pengawasannya kepada OJK, tercatat aset mencapai Rp337,30 miliar dengan pembiayaan yang telah disalurkan sebesar Rp213,26 miliar.

Sedangkan terhadap 3 Koperasi open loop yang belum berizin di OJK, telah disampaikan surat pemberitahuan perpanjangan proses pengajuan izin usaha sebagai LJK.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6