Sukses

Rupiah Mampu Bangkit Lagi karena Kekhawatiran Krisis Sektor Perbankan Memudar

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak menguat pada perdagangan antar bank di Selasa pagi ini. Penguatan nilai tukar rupiah hari ini terjadi di tengah pulihnya sentimen pasar atas kekhawatiran krisis sektor perbankan.

Pada Selasa (21/3/2023), rupiah dibuka menguat 10 poin atau 0,07 persen ke posisi 15.350 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya 15.360 per dolar AS.

"Rupiah berpotensi menguat terbatas oleh koreksi pada dolar AS dan pulihnya sentimen di pasar dari kekuatiran masalah seputar perbankan," kata analis DCFX Futures Lukman Leong dikutip dari Antara. 

Para pedagang kembali ke aset-aset berisiko setelah pengambilalihan Credit Suisse di Swiss oleh UBS yang didukung negara telah menghilangkan beberapa kekhawatiran akan meluasnya krisis perbankan sistemik.

UBS pada Minggu 19 Maret 2023 setuju untuk membeli saingannya Credit Suisse senilai 3,23 miliar dolar AS, dalam merger yang dirancang otoritas Swiss untuk menghindari lebih banyak gejolak di grup perbankan itu.

Namun, sentimen pasar tetap rapuh karena investor berjuang untuk menentukan skala konsekuensi dari pukulan sektor yang dimulai dengan keruntuhan Silicon Valley Bank di Amerika Serikat, membatasi selera risiko dan memberikan beberapa dukungan pada mata uang safe-haven dolar.

Pertemuan the Fed

Lukman mengatakan investor masih cenderung menunggu dan mencermati untuk mengantisipasi pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) atau dewan kebijakan Federal Reserve AS pada Rabu.

Dalam pertemuan tersebut, Bank Sentral AS atau The Fed diperkirakan akan bernada dovish dengan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps).

Menurut alat FedWatch CME, pasar memperkirakan peluang 26,2 persen bahwa Fed akan bertahan ketika mengumumkan keputusan kebijakan moneternya pada Rabu (22/3/2023), dengan peluang 73,8 persen untuk kenaikan suku bunga 25 bps.

Ia memperkirakan kurs rupiah bergerak di kisaran 15.300 per dolar AS hingga 15.400 per dolar AS.

2 dari 3 halaman

Bos BI: Nilai Tukar Rupiah Lebih Gagah dari India-Malaysia

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengungkap nilai tukar mata uang rupiah lebih perkasa dibanding dengan negara tetangga. Diantaranya Malaysia, Thailand, hingga India.

Dia mencatat nilai tukar rupiah terdepresiasi 0,75 persen secara point-to-point di akhir Februari 2023. Namun, jika dilihat secara year-to-date (ytd), nilai tukar rupiah per 15 Maret 2023 menguat 1,32 persen dari level akhir Desember 2022.

Angka ini yang disebut Perry Warjiyo lebih baik dari capaian daei Rupee India, Baht Thailand, dan Ringgit Malaysia.

"Apresiasi ini lebih baik dibandingkan dengan apresiasi Rupee India sebesar 0,16 persen serta depresiasi Baht Thailand dan Ringgit Malaysia masing-masing sebesar -0,04 persen dan -1,8 persen," urainya.

Kedepannya BI memperkirakan kalau nilai tukar rupiah akan terjaga di level stabil. Mengingat ada sejumlah peningkatan ekonomi nasional yang berdampak positif.

"Kedepan BI mem stabilitas nilai tukar rupiah akan tetap terjaga sejalan dengan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tinggi, inflasi rendah, surplus transaksi berjalan, serta imbal hasil aset keuangan domestik yang menarik," katanya.

"BI akan terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah sebagai bagian untuk mengendalikan inflasi. Khususnya inflasi barang impor dan memitigasi dampak rambatan ketidakpastian pasar keuangan global terhadpa nilai tukar rupiah," sambung Perry Warjiyo.

3 dari 3 halaman

Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,3 persen

Bank Indonesia (BI) memprediksi ekonomi Indonesia mampu tumbuh positif di tahun 2023 ini. Angkanya berkisar antara 4,5-5,3 persen sepanjang tahun ini.

Optimisme ini diungkap Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo usai menggelar Rapat Dewan Gubernur Bulanan (RDGB) Maret 2023. Perry melihat ada sejumlah hal positif yang dicacatkan sektor ekonomi nasional.

"Dengan berbagai perkembangan positif tersebut pertumbuhan ekonomi pada 2023 diperkirakaan akan bias ke atas dalam kisaran 4,5-5,3 persen," ujarnya dalam Konferensi Pers, Kamis (16/3/2023).

Perry menjelaskan kalau pertumbuhan ekonomi domestik dikuatkan oleh peningkatan permintaan domestik dan ekspor. Di dalam negeri sendiri konsumsi rumah tangga diperkirakan terus menguat sejalan dengan meningkatnya mobilitas masyarakat di seluruh wilayah. Kemudian, membaiknya penjualan eceran dan bergerak positifnya keyakinan konsumen.

"Investasi juga tumbuh kuat ditopang penyelesaian proyek strategis nasional dan peningkatan aliran masuk penanamana modal asing (PMA)," urainya.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.