Sukses

Inflasi Januari 2022 Diperkirakan 0,55 Persen, Minyak Goreng dan Cabai Jadi Pendorong

Liputan6.com, Jakarta Bank Indonesia (BI) memperkirakan perkembangan harga pada Januari 2022 tetap terkendali dan diperkirakan inflasi sebesar 0,53 persen secara month-to-month (mtm). Perkiraan tersebut hampir sama dengan beberapa ekonom salah satunya adalah ekonom CELIOS.

"Inflasi Januari 2022 diperkirakan 0,55 persen sampai dengan 0,6 persen (mtm) atau 2,1 persen (yoy)," kata Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira saat dihubungi merdeka.com, Jakarta, Senin (31/1/2022).

Bhima menilai, meskipun secara tahunan inflasi bulan Januari hanya 2 persen, namun angka ini dinilai cukup tinggi. Mengingat pada awal tahun ini tingkat permintaan berada di fase terendah dan masuknya varian omicron ke Indonesia mengganggu kepercayaan masyarakat untuk berbelanja.

"Dari sisi permintaan Januari itu low season, dan adanya varian omicron cukup berdampak ke kepercayaan masyarakat berbelanja," kata dia.

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.

2 dari 2 halaman

Pendorong Inflasi

Kenaikan inflasi di bulan Januari masih didorong oleh kenaikan harga minyak goreng, telur ayam, daging ayam ras dan cabai rawit. Menurut Bhima kebijakan minyak goreng satu harga yakni Rp 14.000 per liter masih belum bisa menekan kontribusi minyak goreng terhadap inflasi.

"Naiknya harga minyak goreng yang belum bisa diselesaikan dengan kebijakan subsidi karena stok minyak goreng subsidi terbatas," kata dia.

Bhima mengatakan kemungkinan kenaikan harga akan terus terjadi hingga 2-3 bulan ke depan. Inflasi akan lebih tinggi pada bulan April karena ada momentum bulan Ramadan.

"Sejauh ini volatile food atau pangan, tapi pakaian jadi juga bisa mengalami kenaikan karena biaya bahan baku tekstilnya naik akibat disrupsi rantai pasok. Ada delay pengiriman juga yang sebabkan inflasi," kata dia mengakhiri.

Reporter: Anisyah Al Faqir

Sumber: Merdeka.com

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.