Sukses

Rupiah Melemah ke 14.200 per Dolar AS karena Lockdown di Malaysia

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak melemah pada perdagangan Selasa ini. Pelemahan rupiah karena penurunan indeks saham AS dan Asia. Selain itu, lockdown di beberapa negara juga ikut menekan rupiah.

Mengutip bloomberg, Selasa (11/5/2021), rupiah dibuka di angka 14.200 per dolar AS, melemah jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang ada di angka 14.197 per dolar AS. Menjelang siang, rupiah masih melemah ke 14.206 per dolar AS.

Sejak pagi hingga siang hari ini, rupiah bergerak di kisaran 14.191 per dolar AS hingga 14.212 per dolar AS. Jika dihitung dari awal tahun, rupiah melemah 1,05 persen.

Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Selasa berpotensi melemah tertekan kekhawatiran kenaikan inflasi di Amerika Serikat (AS).

Pengamat pasar uang Ariston Tjendra mengatakan, rupiah kemungkinan bisa terkoreksi hari ini mengikuti keresahan pelaku pasar global melihat penurunan dalam indeks saham AS Nasdaq. Indeks saham Asia juga bergerak melemah pagi ini.

"Pelaku pasar mengkhawatirkan kenaikan inflasi AS yang bisa mengubah pendirian bank sentral terhadap kebijakan moneternya. Data inflasi AS akan dirilis Rabu malam," ujar Ariston dikutip dari Antara.

Imbal hasil (yield) obligasi AS tenor 10 tahun juga sempat kembali naik ke atas level 1,6 persen karena kekhawatiran inflasi tersebut.

"Kekhawatiran terhadap kenaikan laju penularan COVID-19 di dunia yang sudah memicu lockdown baru di beberapa negara, termasuk negara tetangga Malaysia dan Singapura, juga bisa menekan rupiah," kata Ariston.

Dari domestik, pagi ini akan dirilis data penjualan ritel Indonesia Maret 2021. Bila hasilnya kembali minus, lanjut Ariston, bisa menjadi tambahan tekanan untuk rupiah.

Ariston mengatakan rupiah hari ini berpotensi tertekan ke kisaran 14.250 per dolar AS dengan potensi support di kisaran 14.180 per dolar AS.

2 dari 3 halaman

BI Tutup Peluang Bitcoin Cs Jadi Alat Pembayaran yang Sah di Indonesia

Sebelumnya, Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Erwin Haryono menegaskan, sejauh ini, tidak ada alasan kuat untuk mengubah Undang-Undang No 7/2011 tentang Mata Uang demi mengakomodasi penggunaan mata uang yang sah di Indonesia selain Rupiah. Termasuk penggunaan mata uang kripto seperti Bitcoin dan lainnya.

"Tidak ada urgensi untuk merubah itu (UU No 7/2011) kalau kemudian ada mata uang lain yang berlaku di Republik ini," ucapnya dalam acara Perspektif Indonesia, Sabtu (8/5/2021).

Erwin menjelaskan, dalam Undang-undang No 7/2011 tentang Mata Uang sendiri telah jelas menyebutkan bahwa satu-satunya alat pembayaran yang sah di Indonesia ialah Rupiah.

"Jadi, kalau dari sisi pembayaran saya kira sudah sangat clear gitu," bebernya.

Pun, dengan mengakui mata uang selain Rupiah sebagai alat pembayaran yang sah dinilai akan mengurangi kedaulatan bangsa. Menyusul turunnya kredibilitas Rupiah sebagai mata uang asli Indonesia.

"Karena Rupiah sebagai simbol kedaulatan (bangsa)," sebutnya.

Dengan begitu, pupus sudah harapan atas penggunaan Bitcoin Cs sebagai alat pembayaran yang sah di tanah air. Menyusul regulasi yang berlaku saat ini justru lebih memperkuat posisi Rupiah sebagai alat pembayaran yang sah di Indonesia.

"Karena undang-undang nya sudah sangat clear mengatakan, alat pembayaran sah satu-satunya hanya Rupiah," ucap dia menekankan.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: