Sukses

Bisa Dicontoh, 4 Saran Bos P&G Agar Tim Kerja Kreatif dan Kompak saat Pandemi

Liputan6.com, Jakarta Shailesh Jejurikar adalah CEO dari Fabric & Home Care yang merupakan anak usaha dari Procter and Gamble (P&G). Lini bisnis ini menyumbang lebih dari sepertiga dari penjualan perusahaan sebesar USD 71 miliar setara Rp 994 triliun untuk tahun 2020.

Jejurikar mengawasi 18 ribu karyawan secara global, memiliki puluhan bawahan langsung, dan bersaing dengan raksasa produsen barang kebutuhan sehari-hari seperti Unilever.

Dia juga bertanggung jawab atas lebih dari puluhan merek ikonik mulai dari popok bayi, shampo rambut hingga pembersih rumah.

Dikutip dari BusinessInsider, Selasa (2/3/2021) di tengah pandemi Covid-19 yang menghambat banyak aktivitas, Jejurikar menyebut ia justru telah berhasil melipatgandakan pendapatan dari unitnya.

Pendapatan tumbuh 5 persen di kuartal kedua tahun lalu dan menargetkan tumbuh 12 persen di periode yang sama tahun ini.

Kunci kesuksesan itu ialah 4 prinsip dasar berikut, yang membantu Jejurika dan timnya bekerja dengan mindset yang lebih berkembang dan menciptakan cara kreatif untuk perusahaannya sekalipun sedang dikepung pandemi.

1. Fokus ke Eksternal atau Konsumen

Salah satu kunci untuk membuat produk kreatif ialah memahami kebutuhan konsumen. Dengan mengetahui dan mendengar langsung berbagai masukan dan saran dari calon konsumen, produsen dapat merancang produk yang dibutuhkan banyak orang.

"Terobosan kreatif terbesar kami sebagai sebuah organisasi berasal dari upaya untuk memecahkan masalah konsumen, tetapi Anda hanya dapat menyelesaikan masalah itu jika Anda memahaminya, dan untuk melakukannya Anda harus tetap terhubung," ujar Jejurikar.

Seperti yang ia lakukan kepada karyawannya, di tengah pandemi ia tetap meminta timnya untuk tetap terhubung dengan beberapa mitranya seperti Amazon, Target juga Walmart.

Kemudian meminta timnya terhubung secara langsung melalui panggilan video satu per satu. Melalui pertemuan virtual tersebut, mitranya dapat memberi masukan terhadap produk-produk milik P&G.

 

2 dari 5 halaman

2. Mengandalkan Teknologi yang Berkembang saat Ini

Sebelum pandemi, Jejurikar sangat mengandalkan pertemuan langsung untuk membahas beberapa hal dengan timnya.

Namun semenjak pandemi, ia sempat khawatir untuk memantau kinerja timnya tentang bagaimana melakukan kegiatan riset, manufaktur hingga oemasaran tanpa adanya kontak fisik langsung.

Meski begitu, berkat kehadiran berbagai inovasi teknologi, mulai mampu beradaptasi untuk memindahkan semua aktivitas tersebut secara virtual. Bagi Jejurikar, berbagai perangkat baru tersebut membantunya meningkatkan kreatifitas dan inovasi tim.

"Kami menemukan Microsoft Teams sebagai cara yang sangat efektif untuk terlibat satu sama lain di seluruh dunia dan catatan tempel virtual, MURAL yang ternyata membantu untuk membuat prototipe produk dengan cepat di Design Sprint." ungkapnya.

 

3 dari 5 halaman

3. Menantang untuk Berasumsi

Dihadapkan pada dilema bagaimana membuat produk untuk pasar dengan banyak hal yang tidak diketahui, Jejurikar mengembangkan proses yang disebut "progility", di mana dia menantang timnya untuk mempertanyakan pemahaman tentang apa yang dianggap benar.

Ia meminta karyawannya menggunakan rasa ingin tahu untuk membuka wawasan konsumen. Dia mengarahkan karyawan untuk melihat apa yang terjadi dan dan mencari tahu mengapa orang mengubah perilaku konsumsi mereka atau tiba-tiba menggunakan produk tertentu.

"Pertama-tama kami harus bertanya pada diri sendiri mengapa kami berasumsi bahwa ini (produk baru) dianggap sebagai pembelian diskresi, kemudian kami menyadari bahwa banyak orang belum mencobanya dan memerlukan pengenalan (sesuatu yang baru)."

 

4 dari 5 halaman

4. Menyeimbangkan kehidupan kerja dan kehidupan kantor

Sukses tidak hanya diukur terhadap ekspektasi konsumen dan penjualan tetapi juga dari kepuasan karyawan, kata Jejurikar.

Karena itu, dia membentuk pos pemeriksaan khusus sebagai forum bagi karyawannya untuk berbagi cerita bagaimana pandemi berdampak pada kehidupan mereka dan kendala yang perlu diakomodasi.

"Kami membantu karyawan kami memangkas pekerjaan yang harus dilakukan sehingga mereka dapat mengarahkan energi mereka untuk aktivitas yang tepat dan tetap seimbang dengan prioritas hidup mereka," kata Jejurikar.

Waktu kerja di kantornya dimulai dari pukuk 9 pagi hingga 5 sore, termasuk waktu istirahat yang memungkinkan karyawannya berjalan ke luar kantor dan menelpon dengan kekasih, keluarga ataupun temannya. Dia juga mencontohkan praktik sehat dengan tidak memeriksa email sebelum tidur dan berolahraga setidaknya lima hari seminggu.

Reporter: Abdul Azis Said

5 dari 5 halaman

Saksikan Video Ini