Sukses

Tambal Kebutuhan Impor, Batan Tawarkan 2 Varietas Unggul Kedelai

Liputan6.com, Jakarta - Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) melalui Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) menghasilkan dua varietas kedelai unggul yang diberi nama Sugentan 1 dan Sugentan 2.

Produk yang merupakan kependekan dari Super Genjah batan ini merupakan varietas kedelai hasil perbaikan dari varietas Argomulyo. Diharapkan itu mampu menambal kekosongan pasokan komoditas di tengah tingginya harga impor kedelai saat ini.

Kepala Batan Anhar Riza Antariksawan mengatakan, kurangnya pasokan kedelai akan memicu pada naiknya harga kedelai di pasaran sehingga berdampak pada produksi makanan berbahan baku kedelai seperti tahu dan tempe.

"Kedelai merupakan salah satu bahan pangan yang sangat dibutuhkan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Apalagi kedelai terkait erat dengan makanan yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia, yaitu tempe, tahu, dan kecap," ujarnya dalam konferensi pers virtual, Rabu (13/1/2021).

Menurutnya, kelangkaan kedelai ini menjadi hal yang serius dan perlu dicarikan solusinya sesegera mungkin. Terlebih lagi diketahui bahwa kenaikan harga kedelai di Indonesia dikarenakan naiknya harga kedelai impor, sedangkan kebutuhan kedelai nasional saat ini, sebagian besar dipenuhi melalui impor.

"Sebagai lembaga penelitian, Batan melihat hal ini juga sebagai momentum untuk kembali menguatkan program swasembada kedelai secara nasional. Permasalahan ketersediaan benih unggul, lahan, dan harga kedelai perlu dicarikan solusi oleh semua kementerian dan lembaga yang terkait," sambungnya.

Anhar menyampaikan, Batan telah berkontribusi dalam penyediaan benih unggul kedelai. Hingga saat ini, lembaga telah menghasilkan 14 varietas unggul benih kedelai yang sebagian besar telah diperkenalkan kepada para petani melalui program pendayagunaan hasil litbang iptek nuklir yang bekerjasama dengan pemerintah daerah dan perguruan tinggi.

"Varietas unggul kedelai Batan dihasilkan melalui sebuah proses yang memanfaatkan radiasi gamma. Pengembangan produksi varietas unggul baik padi dan kedelai menjadi salah satu program prioritas Batan," ungkapnya.

Diharapkan varietas benih unggul kedelai hasil mutasi radiasi gamma yang dihasilkan Batan dapat dijadikan varietas yang dimanfaatkan secara nasional.

 

2 dari 3 halaman

Faktor Lain

Namun demikian, Anhar menilai, persoalan peningkatan produksi kedelai tidak hanya ditentukanboleh jenisbvarietasnya saja. Tetapi dipengaruhi oleh faktor lain seperti teknik budidaya, ketersediaan lahan, dan harga kedelai di tingkat petani.

"Terkait ketersediaan lahan dan harga kedelai di tingkat petani, bukan merupakan kewenangan Batan sehingga saya berharap ada kebijakan kementerian teknis terkait dan pemerintah daerah yang dapat membantu petani yang bersedia menanam kedelai agar produktivitas kedelai secara nasional benar-benar bisa meningkat," imbuhnya.

Menurut data Batan , kedelai Sugentan 1 dan Sugentan 2 merupakan hasil perbaikan varietas yang telah ada sebelumnya yakni Argomulyo. Dengan penyinaran radiasi gamma pada dosis 250 gray, didapatkan varietas baru yang mempunyai karakter lebih baik dibandingkan varietas induknya.

Jika dibandingkan dengan induknya, Sugentan mempunyai beberapa keunggulan diantaranya umur tanamnya super genjah yakni sekitar 67-68 hari lebih cepat dibandingkan induknya yang mencapai umur antara 86-87 hari.

Produktivitasnya juga lebih tinggi yakni 3,01 ton per ha dengan rata-rata 2,7 ton per ha. Sedangkan induknya pada kisaran 2,2-2,4 ton per ha.

Selain itu, Sugentan 1 dan Sugentan 2 ini diklaim sebagai varietas kedelai yang tahan terhadap penyakit karat daun, hama pengisap polong, dan hama ulat kerayak. Kedua varietas ini tergolong super genjah, sehingga cocok ditanam di lahan sawah atau tegalan.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan berikut ini: