Sukses

Mendag Muhammad Lutfi Pastikan Pasokan Bahan Pokok Saat Puasa 2021 Terpenuhi

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi menjamin pasokan bahan pokok dan bahan penting lainnya kebutuhan masyarakat Indonesia menjelang puasa 2021 bisa terpenuhi. Dengan terpenuhi pasokan tersebut maka bisa menjaga kestabilan harga bahan pokok.

“Kami memastikan bahwa dalam waktu dekat ke depan akan memastikan bahwa barang pokok dan bahan penting terutama menghadapi Hari raya puasa H-100 sekarang ini dan hari raya Idul Fitri H-130 hari kami pastikan akan ada,” kata Mendag dalam Konferensi pers trade Outlook 2021, Senin (11/1/2021).

Ia menjelaskan, semenjak dirinya diangkat menjadi menteri perdagangan oleh Presiden Joko Widodo pada 23 Desember 2020, dirinya sebagai Mendag akan menjalankan arahan presiden yakni pertama menjaga stabilitas harga terutama inflasi serta meningkatkan daya beli, dan kepercayaan pasar.

Arahan kedua adalah membantu UMKM dalam menembus pasar ekspor. Ketiga yang penting juga adalah membuka pasar-pasar baru di luar negeri dengan cara pembuatan atau kesepakatan dagang antara Indonesia dengan negara-negara terutama negara-negara non tradisional.

“Kita bisa melihat dari rumus-rumus GDP atau rumus-rumus dari pada pertumbuhan ekonomi Kementerian Perdagangan setidaknya memiliki 2 koefisien dalam rumus tersebut yang pertama adalah konsumsi dan yang kedua adalah pertumbuhan daripada ekspor dan impor,” jelasnya.

Maka Kementerian Perdagangan akan memastikan arus barang masuk dengan baik dan memastikan bahwa dua per tiga barang impor Indonesia bahan penolong dan bahan baku bagi perkembangan Indonesia.

Menurutnya jika arus barang jalan berarti perekonomian Indonesia akan berjalan dengan baik juga, bahan baku dan bahan penolong tersebut biasanya dipakai untuk ekspor perekonomian dan manufacturing di dalam negeri.

Demikian Mendag juga memastikan bahan pokok dan barang penting lainnya seperti gula, daging, beras akan dipersiapkan untuk menghadapi dan menyambut hari-hari besar seperti puasa, dan hari raya Idul Fitri 2021.

“Kami sudah mengeluarkan dan memastikan bahwa gula akan cukup menghadapi hari Ramadan dan juga menghadapi Lebaran kita akan mempersiapkan bahan-bahan penting lainnya memastikan bahwa ketersediaan barang ini cukup,” pungkasnya.

2 dari 3 halaman

PBB: Harga Pangan Dunia Naik Pesat, Rekor Tertinggi di Periode Enam Tahun Terakhir

Sebelumnya, harga bahan pangan yang paling banyak diperdagangkan secara global naik secara keseluruhan, demikian menurut laporan dari Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia FAO. Kondisi tersebut dinilai bisa menekan sejumlah negara yang tengah kekurangan.

Menurut FAO, situasi itu mampu memberikan tekanan ekstra khususnya pada 45 negara yang membutuhkan bantuan pangan dari luar untuk memberi makan populasi mereka.

Mengutip laman DW Indonesia, Jumat (4/12/2020), indeks Harga Pangan FAO rata-rata berada di 105 poin selama satu bulan, naik 3,9 persen dari Oktober dan 6,5 persen dari tahun sebelumnya.

 

"Kenaikan bulanan ini adalah yang paling tajam sejak Juli 2012, menempatkan indeksnya pada level tertinggi sejak Desember 2014," kata badan pangan PBB yang berbasis di Roma itu.

Dalam daftar kenaikan bahan pangan tersebut, yang paling besar terjadi pada indeks harga minyak nabati. Melonjak 14,5 persen karena rendahnya stok minyak sawit.

Selain itu, indeks harga sereal juga dilporkan naik 2,5 persen dari Oktober - membuat harganya hampir 20 persen lebih tinggi dibanding tahun 2019 lalu.

Harga ekspor gandum naik, antara lain karena berkurangnya prospek panen di Argentina, begitu pula harga jagung, dengan ekspektasi produksi yang lebih rendah di AS dan Ukraina dan pembelian besar-besaran oleh Cina, kata FAO.

Indeks harga gula naik 3,3 persen dari bulan sebelumnya di tengah "meningkatnya ekspektasi penurunan produksi global" karena cuaca buruk yang membuat prospek panen yang lebih lemah di Uni Eropa, Rusia dan Thailand.

Harga susu juga naik 0,9 persen mendekati level tertinggi selama 18 bulan, sebagian karena ledakan penjualan di Eropa akibat pandemi corona. Harga daging naik 0,9 persen dari Oktober, tetapi telah mengalami penurunan secara signifikan pada tahun lalu, kata laporan itu.

Kenaikan harga merupakan beban tambahan bagi mereka yang mengalami penurunan pendapatan akibat pandemi virus corona, yang menurut FAO terbukti menjadi "pendorong penting tingkat kerawanan pangan global".

"Pandemi memperburuk dan mengintensifkan kondisi yang sudah rapuh yang disebabkan oleh konflik, hama dan guncangan cuaca, termasuk badai baru-baru ini di Amerika Tengah dan banjir di Afrika," kata FAO. Selanjutnya disebutkan, "45 negara, 34 di antaranya di Afrika, terus membutuhkan bantuan eksternal untuk makanan".

Laporan FAO juga mencatat risiko curah hujan di atas rata-rata di Afrika Selatan dan Asia Timur, sementara sebagian Asia dan Afrika Timur curah hujan diperkirakan berkurang dan merupakan "kondisi yang dapat mengakibatkan guncangan produksi yang merugikan".

 
3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan berikut ini: