Sukses

UU Cipta Kerja Bakal Bawa IHSG ke Level 6.800 di 2021?

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyebut implementasi Undang-Undang Cipta Kerja ke depan akan membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di lever tertinggi. Bahkan, di 2021 lembaga investasi di Amerika Serikat perkirakan IHSG berada di level 6.800.

"Kami mendukung beberapa lembaga memberikan komentar positif terhadap Undang-Undang Cipta Kerja. Bahkan JP Morgan memproyeksikan IHSG akan mencapai 6.800 tahun 2021," kata dia dalam Penutupan Perdagangan BEI 2020, di Jakarta, Rabu (30/12).

Dia menambahkan, selain UU Cipta Kerja perencanaan vaksinasi di tahun depan juga akan meningkatkan mobilitas masyarakat. Dengan begitu, secara tidak langsung akan mendorong kegiatan perekonomian lainnya.

Seperti diketahui, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan 2020 dengan ditutup di zona merah. Indeks saham Indonesia saat pembukaan sempat menguat. Namun tak mampu bertahan di zona hijau dan akhirnya tergelincir.

Pada penutupan perdagangan saham, Rabu (30/12/2020), IHSG melemah 57,1 poin atau 0,95 persen ke posisi 5.979,07. Sementara, indeks saham LQ45 juga melemah 1,13 persen ke posisi 934,88.

Selama perdagangan, IHSG berada di posisi tertinggi pada level 6.055,97 dan terendah 5.962,01.

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

2 dari 4 halaman

Investor Ritel Domestik Semakin Dominasi Transaksi Saham di 2020

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso mengatakan, pandemi yang dialami Indonesia hampir sepanjang tahun 2020 tidak menyurutkan semangat para pelaku industri untuk kehilangan kesempatan memanfaatkan peluang.

Misalnya, di tengah arus dana keluar asing di pasar modal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih mampu menunjukkan penguatan.

"Arus dana asing yang keluar yaitu Rp 47,89 Triliun di pasar saham per 29 Desember kemarin dan Rp 86,83 Triliun di pasar SBN per 28 Desember lalu mengalami penguatan didorong oleh investor domestik, termasuk investor ritel," kata Wimboh dalam penutupan perdagangan saham Bursa Efek Indonesia (BEI) secara virtual, Rabu (30/12/2020).

Dari sisi demand, ujarnya, 2020 menjadi tahun kebangkitan bagi investor ritel domestik, mengingat investor domestik khususnya investor ritel yang semakin mendominasi transaksi saham.

Selain itu, pasar modal nasional juga tercatat semakin likuid dan dalam, tercermin dari naiknya rata-rata frekuensi perdagangan menjadi yang tertinggi di ASEAN serta kenaikan jumlah investor pasar modal dan kuatnya investor domestik.

"Kenaikan jumlah investor pasar modal menjadi 3,87 juta investor atau naik 56 persen dibandingkan tahun lalu dan semakin solidnya dominasi investor ritel," ujarnya.

Di sisi supply, antusiasme korporasi untuk menggalang dana melalui penawaranumum ternyata masih terjaga di masa pandemi, dimana terdapat 53 emiten baru sepanjang 2020.

"Dari jumlah tersebut 51 perusahaan telah tercatat di bursa dan hal ini menjadi yang tertinggi di ASEAN," tuturnya.

"Sementara total penghimpunan dana melalui penawaran umum di tahun 2020 telah mencapai Rp 118,7 Triliun," tandasnya.

Wimboh bilang, OJK bersama dengan Pemerintah, Bank Indonesia dan LPS akan terus berupaya untuk menyiapkan berbagai kebijakan dan inisiatif yang diperlukan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan dan mempercepat pemulihan ekonomi nasional.

"Besar harapan kami, capaian yang baik di tahun ini menjadi katalis positif bagi kinerja pasar modal di tahun depan dan berkontribusi untuk bangkitnya perekonomian Indonesia," tandasnya. 

3 dari 4 halaman

Infografis Rupiah dan Bursa Saham Bergulat Melawan Corona

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: