Sukses

Miliarder Bill Gates: Ahli di 3 Bidang Ini akan Sukses di Masa Depan

Liputan6.com, Jakarta Bill Gates, miliarder asal Amerika Serikat (AS) dan salah satu pendiri Microsoft sangatlah terobsesi dengan masa depan.

Gates sendiri sering bekerja dengan para penemu, memperkaya dirinya dengan membaca buku tentang masa depan kemanusiaan, hingga mendanai proyek yang bermanfaat bagi komunitas.

Mengutip dari CNBC, Selasa (20/10/2020) berdasarkan data yang dia kumpulkan, Gates menyimpulkan bahwa orang yang memiliki 3 latar belakang bidang ini akan menjadi yang paling banyak dicari. Ketiganya yakni, sains, teknik dan ekonomi.

“Pekerja yang mahir dalam subjek tersebut akan menjadi agen perubahan untuk semua instititusi,” ujar Bill Gates.

Namun Anda tidak perlu menjadi ahli dalam pengkodean atau tabel periodik, tetapi memiliki kemampuan untuk berpikir seperti yang dilakukan para ahli akan sangat membantu Anda.

“Belum tentu Anda akan menulis kode, tetapi perlu untuk memahami apa yang dilakukan oleh para insinyur dan apa yang tidak dapat mereka lakukan,” ujar salah satu pendiri Micorosoft.

 

Reporter: Tasya Stevany

2 dari 3 halaman

Usai IPO di Bursa Saham New York, CEO Miniso Resmi jadi Miliarder Dunia

Pendiri perusahaan ritel Miniso, Ye Guofu saat ini masuk dalam orang terkaya dunia. Perusahaan yang bermarkas di Guangzhou, China tersebut menjadi toko terbesar di seluruh dunia yang menjual barang-barang rumah tangga murah dibawah Rp 100.000.

Dilansir dari Forbes, CEO & Founder Miniso itu memutuskan membawa perusahaan yang didirikannya itu melantai di bursa New York, AS. Miniso melepas 30,4 juta lembar saham kepada publik dan memperoleh dana USD 608 juta atau Rp 9 triliun.

Didukung oleh raksasa web China Tencent, Miniso akan memulai perdagangan di Bursa Efek New York pada hari Kamis. Perusahaan mengumpulkan USD 608 juta dengan menjual 30,4 juta Saham Penyimpanan Amerika dengan harga masing-masing USD 20, di atas kisaran yang ditunjukkan sebelumnya dari USD 16,5-18,50.

Dengan begitu, kekayaan Ye meningkat dengan 65 persen saham Miniso setelah IPO, sehingga kekayaannya saat ini menembus USD3,9 miliar atau Rp57 triliun.

Perusahaan berencana menggunakan dana tersebut untuk membuka lebih banyak toko dan memperluas jaringan logistiknya. Pandemi telah memaksa beberapa toko tutup pada paruh pertama tahun ini, dan juga berkontribusi pada penurunan penjualan 4,4 persen menjadi USD 1,3 miliar atau Rp 19,1 triliun untuk tahun fiskal 2020 yang berakhir Juni.

"Tidak ada pesaing yang dekat di pasar sekarang. Selama kita tidak membuat kesalahan besar, kita akan memiliki ruang pertumbuhan yang sangat menjanjikan," kata miliarder itu.

Seorang analis, Jason Yu mengatakan, konsumen yang pendapatannya dipengaruhi oleh pandemi akan meningkatkan perburuan produk bernilai untuk uang seperti yang disediakan oleh Miniso.

Miniso sendiri menjual berbagai macam barang seperti kosmetik, perkakas, dan peralatan kecil yang dirancang sendiri atau diberi merek dengan kekayaan intelektual berlisensi dari perusahaan seperti Disney. Dengan memotong perantara dan mengambil langsung dari pabrik, Miniso menghemat biaya dan harga 95 persen dari penawarannya di bawah USD 7,1 di Cina, menurut prospektusnya.

Miniso sudah memiliki 4.200 toko secara global, termasuk 1.680 di pasar luar negeri. Perusahaan masih dianggap belum untung, tetapi kerugian menyempit menjadi USD 37 juta pada tahun fiskal 2020, turun 12 persen dari tahun lalu.

Analis Yu mengatakan, Miniso memiliki keunggulan sebagai penggerak pertama karena telah melayani pembeli hemat selama bertahun-tahun. "Perusahaan telah memposisikan mereknya dengan baik, tapi itu juga perlu terus memperkuat citra merek dan mengelola rantai pasokan dengan baik karena mencakup begitu banyak kategori produk," katanya.

Reporter Magang : Brigitta Belia

Sumber: Merdeka.com

 

3 dari 3 halaman

Saksikan video di bawah ini: