Sukses

Lika-Liku Bos Netflix Rekrut Pegawai, Yang Terbaik Berhak Dapat Gaji 10 Kali Lipat

Liputan6.com, Jakarta Dalam beberapa tahun pertama Netflix berdiri, perusahaan tersebut tumbuh dengan cepat dan harus merekrut lebih banyak teknisi perangkat lunak seperti programmer.

Dengan pemahaman baru bahwa pegawai berbakat dapat menjadi mesin pencetak kesuksesan perusahaan, CEO Of Netflix Reed Hastings rela memberikan bayaran hingga 10 kali lipat bagi yang calon pegawai terbaik.

"Di Sillicon Valley, kebanyakan programmer bekerja pada Google, Apple dan Facebook dengan bayaran tinggi. Sedangkan kami tidak punya cukup uang untuk menarik mereka. Tapi sebagai seorang teknisi, saya akrab dengan konsep yang telah dipahami dunia perangkat lunak sejak 1968 yang dikenal sebagai 'prinsip rocks-tar'," papar Hastings seperti dikutip dari CNBC, Rabu (9/9/2020).

Prinsip tersebut berasal dari sebuah studi ternama yang dilakukan di lahan parkir di Santa Monica, California. Saat itu, sebanyak 9 calon programmer diminta masuk ke dalam sebuah ruangan dengan banyak komputer di dalamnya.

Setiap calon pegawai menerima amplop berisi rangkaian tugas coding dan debugging yang harus diselesaikan dalam waktu dua jam. Para peneliti menduga bahwa programmer terbaik dapat mengungguli pesaingnya dengan selisih sedikit saja.

Faktanya, programmer paling terampil sangat jauh melampaui pelamar dengan kemampuan terendah. Ia mampu melakukan coding 20 kali lebih cepat, 25 kali lebih cepat untuk urusan debugging, dan 10 kali lebih cepat saat eksekusi program dibandingkan dengan programmer dengan nilai terendah.

Studi tersebut menyebar di kalangan industri perangkat lunak sejak hasilnya dirilis. Para manajer menyadari bagaimana sebagian programmer layak mendapatkan pendapatan yang jauh lebih tinggi dibandingkan rekan kerjanya.

"Dengan jumlah gaji tetap dan proyek yang perlu saya selesaikan, saya dihadapkan pada pilihan: Rekrut 10 hingga 25 programmer dengan kemampuan rata-rata atau merekrut seorang 'rock-star' dan membayarnya sangat tinggi lebih dari saya membayar orang lain, jika memang perlu," terang Hastings.

Setelah beberapa tahun, dia menyadari bahwa programmer yang handal tidak hanya menambah nilai perusahaan sebesar 10 kali lipat. Mereka menambah nilai perusahaan hingga 100 kali lipat besarnya.

"Di Netflix, kebanyakan dari posisi kerja bergantung pada kemampuan pegawai untuk berinovasi dan mengeksekusinya dengan kreatif. Pada semua peran kreatif, yang terbaik dapat dengan mudah mendapatkan gaji 10 kali lipat dari rata-rata," ujarnya.

Hastings menegaskan, begitulah cara Netflix merekrut pegawai. Dan pendekatan tersebut terbukti sukses besar.

"Kami benar-benar meningkatkan kecepatan inovasi dan output kami," tandasnya.

2 dari 3 halaman

Kisah Miliarder Netflix Reed Hastings, Jadi Sales Hingga Berharta Rp 73,5 Triliun

Miliarder Reed Hastings kini tengah menikmati buah kerja kerasnya bersama Netflix. Bila dilihat, hidupnya cukup menarik.

Meski telah menghabiskan jutaan dolar untuk reformasi pendidikan, dia kerap menyisihkan waktu 6 pekan per pekan untuk berlibur tiap pekan. Di samping itu, dia juga mengaku tidak mempunyai hobi lain di luar pekerjaannya.

Biaya keterlambatan sewa kaset dari rental senilai USD 40 atau Rp 588 ribu (kurs rupiah Rp 14.700 per dolar AS) pada 1997 mungkin menjadi uang terbanyak yang pernah Hastings belanjakan.

Pengeluaran tersebut memberinya ide untuk membangun Netflix, raksasa industri hiburan yang dia dirikan.

Sejak saat itu, Hastings membangun kekayaan USD 5 miliar atau Rp 73,5 triliun yang dihabiskan untuk mendukung reformasi pendidikan dan mendukung kampanye Partai Demokrat dalam Pilpres Amerika Serikat (AS).

Hastings yang lahir di Boston pada 1960 sebenarnya telah menikmati kehidupan mewah sejak masa kecil.

Dia merupakan putra dari Wilmot Reed Hastings, yang bekerja di Departemen Kesehatan, Pendidikan dan Kesejahteraan AS di bawah Presiden Richard Nixon.

"Kami berkeliling dengan kereta golf, melakukan tur, dan melihat Presiden Nixon memiliki dudukan toilet berwarna emas," kata Hastings seperti dikutip dari businessinsider.com, Jumat (4/9/2020).

Pasca lulus SMA, Hastings sempat bekerja selama setahun sebagai sales vacuum cleaner dari pintu ke pintu. Dia kemudian meraih gelar sarjana dari Universitas Stanford.

"Saya gagal tembus pilihan pertama, yang mana itu adalah MIT (Massachusetts Institute of Technology)," ungkap Hastings.

Perusahaan pertamanya ia dirikan di usia 31 tahun bersama Raymond Peck dan Mark Box, yakni Pure Software pada 1991.

Perusahaan tersebut sangat sukses, dan melipatgandakan pendapatannya tiap tahun sebelum go public pada 1995. Hastings kemudian menjual perusahaannya di 1997 senilai USD 750 juta.

Sebuah pengalaman berharga ia dapatkan pasca berutang USD 40 akibat terlambat membayar sewa kaset dari toko rental pada 1997. Itu membawanya ide untuk mendirikan Netflix bersama Marc Randolph di tahun tersebut.

Di tahun pertamanya, Netflix berhasil menggaet 239 ribu pelanggan. Para pelanggan mengantri untuk mendapatkan kaset DVD bidikannya di Netflix.com sebelum perusahaan mengirimkan pesanannya satu per satu dalam amplop merah.

Subscribers pun dapat menyimpan film sewaannya selama yang mereka inginkan tanpa dikenai biaya keterlambatan.

 

3 dari 3 halaman

Saksikan video di bawah ini: