Sukses

Bursa Asia Tertekan, Investor Menunggu Pernyataan Trump Soal China

Liputan6.com, Jakarta - Bursa Asia bergerak melemah pada pembukaan perdagangan Jumat pekan ini. Investor tengah menunggu konferensi pers dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengenai China.

Mengutip CNBC, Jumat (29/5/2020), indeks Nikkei 225 Jepang turun 0,56 persen di awal perdagangan. Pendorong pelemahan indeks saham di Jepang ini karena anjloknya saham perusahaan teknologi Fanuc sebesar 2,13 persen. Untuk indeks Topix juga turun 0,56 persen.

Di Korea Selatan, indeks Kospi merosot 0,55 persen karena saham perusahaan pembuat chip SK Hynix turun lebih dari 2 persen. Sedangkan untuk indeks S&P/ASX 200 Australia turun 0,84 persen.

Secara keseluruhan, indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang yang menjadi patokan bursa Asia diperdagangkan 0,32 persen lebih rendah.

Fokus investor pada Jumat ini melihat reaksi pasar terhadap hasil Kongres Rakyat Nasional China pada Kamis mengenai keamanan nasional untuk Hong Kong.

Sedangkan Presiden AS Donald Trump mengatakan ia akan mengadakan konferensi pers tentang hubungan AS-China, yang diperkirakan akan berlangsung Jumat di Amerika Serikat.

"Ketegangan antara pemerintah AS dan China tentang hukum keamanan untuk Hong Kong terus meningkat," kata kepala ekonom Commonwealth Bank of Australia, Joseph Capurso.

"Kami menganggap ketegangan antara kedua pemerintah soal Hong Kong ini, perang dagang dan juga penanganan virus Corona akan terus mempengaruhi bursa Asia."

2 dari 2 halaman

Wall Street

Wall Street atau Bursa AS ditutup melemah, usai Presiden Donald Trump mengatakan akan memberikan konferensi pers mengenai China, pada hari Jumat waktu setempat.

Melansir laman CNBC, Dow Jones Industrial Average turun 147,63 poin, atau 0,6 persen menjadi 25.400,64. Pada sesi tertinggi, Dow naik 210 poin. Penuruna pada hari Kamis merupakan yang pertama bagi Dow dalam tiga hari.

Adapun indeks S&P 500 turun 0,2 persen menjadi 3.029,73. Nasdaq Composite turun 0,5 persen menjadi 9.366,99. Nasdaq dan S&P 500 sama-sama mematahkan kenaikan beruntun dalam tiga hari.

Pengumuman Trump muncul setelah Kongres Rakyat Nasional China menyetujui dana keamanan nasional untuk Hong Kong.

RUU itu akan mem-bypass legislatif Hong Kong, meningkatkan kekhawatiran akan prinsip "satu partai, dua sistem" Hong Kong, yang memungkinkan kebebasan tambahan yang tidak dimiliki daratan Cina.

"Jika respons HK melibatkan sanksi luas terhadap individu atau entitas, itu akan menjadi masalah yang lebih besar dan bukan sesuatu yang [pasar] dapat dengan mudah abaikan," kata Adam Crisafulli dari Vital Knowledge, melalui catatannya.

Dikatakan nilai saham secara umum terlalu tinggi dan tidak ada ruang untuk kesalahan sementara investor tidak cukup memperhatikan peningkatan ketegangan AS-Cina.