Sukses

Penurunan Harga BBM Bisa Bantu Bangkitkan Ekonomi Ditengah Corona

Liputan6.com, Jakarta - Penyebaran wabah virus corona (Covid-19) turut berdampak terhadap harga minyak dunia yang terus mengalami kemerosotan. Kendati demikian, harga BBM sampai hari ini tak kunjung turun.

Pengamat Energi Pri Agung Rakhmanto menilai, penurunan harga BBM secara tak langsung akan ikut bantu menggerakkan roda perekonomian di tengah pandemi virus corona.

"Jika harga BBM diturunkan mungkin akan membantu perekonomian di tengah Covid ini. Meskipun karena Covid tersebut dan roda perekonomian belum berputar normal, efeknya tentu juga tidak maksimal ya," ujar dia kepada Liputan6.com, Selasa (21/4/2020).

Merujuk pada pergolakan harga minyak dunia, Pri Agung pun memperkirakan harga BBM bisa terpangkas hingga Rp 1.500 per liter. Namun berapa perhitungan finalnya ia serahkan kepada pemerintah dan PT Pertamina (Persero) selaku BUMN penyedia jasa bahan bakar dan energi.

"Taksiran saya, ruang untuk penyesuaian harga BBM saat ini kemungkinan ada di kisaran Rp 1.000-1.500 per liter. Persisnya berapa, saya kira biar pemerintah dan Pertamina yang nanti menghitungnya," jelas dia.

Angka tersebut didapat dengan mengikuti pergerakan harga minyak dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sejak Januari 2020.

 

2 dari 2 halaman

Sekarang Waktu yang Tepat

Dengan berbagai pertimbangan tersebut, Pri Agung menambahkan, penurunan harga BBM merupakan pilihan yang cukup rasional untuk bisa dilakukan saat ini.

"Proyeksi rata-rata harga minyak di sepanjang tahun 2020 ini kemungkinan juga masih tetap akan rendah, di kisaran 30 (USD per barel) atau lebih rendah kemungkinannya," kata dia.

Namun demikian, ia mengingatkan agar perhitungan harga BBM tetap jelas dan terukur. Dia menekankan agar hal tersebut tidak mengutamakan pertimbangan politis dan populis.

"Perlu dikaji cermat dan dijaga keseimbangan berbagai aspek, membantu menaikkan daya beli masyarakat dan stimulus ekonomi di satu sisi. Namun di sisi lain juga tetap harus memperhatikan keseimbangan indikator makro ekonomi secara keseluruhan baik fiskal maupun moneter, dan juga kesehatan keuangan Pertamina sebagai penyedia di dalam pengadaan BBM dan energi nasional," tuturnya.