Sukses

Wali Baptis Pangeran George Inggris Sumbang Rp 196,2 Miliar untuk Perangi Corona

Liputan6.com, Jakarta Miliarder Inggris Hugh Grosvenor, Duke of Westminster ke-7, menyumbangkan USD 12,5 juta (Rp 196,2 miliar) untuk bantuan mengatasi virus corona di negaranya.

Adapun rinciannya, sebanyak USD 6,2 juta (Rp 97,3 miliar) diberikan kepada NHS Charities Together untuk membangun yayasan bagi pekerja Layanan Kesehatan Nasional dan keluarga mereka.

"Atas nama keluarga saya dan semua orang di Grosvenor Estate, saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua staf NHS kami yang luar biasa dan semua orang yang menyediakan layanan garis depan yang kritis. Kami semua merasa rendah hati dan sangat bersyukur bahwa Anda bekerja tanpa lelah untuk menjaga kami tetap aman dan menjaga negara berfungsi," kata Grosvenor, seperti mengutip laman CNN, Kamis (16/4/2020).

Kemudian, senilai USD 3,8 juta (Rp 59,6 miliar) lainnya akan digunakan untuk penelitian dan pengembangan medis untuk covid-19.

Sementara USD 2,5 juta (Rp 39,2 miliar) akan diberikan kepada badan amal dan organisasi yang membantu orang-orang yang menghadapi dampak ekonomi dan sosial terbesar dari pandemi covid-19.

"Sementara dampak dari krisis ini segera dirasakan, virus tersebut sayangnya akan mempengaruhi kehidupan orang-orang jauh di masa depan. Itu sebabnya saya ingin mendukung respon terhadap perhitungan sosial-ekonomi jangka panjang atas epidemi. Melalui donasi ini, Yayasan saya akan bekerja dengan berbagai badan amal dan organisasi fantastis yang dapat membantu orang yang rentan di bulan-bulan sulit ke depan, "katanya.

Sebelumnya, pada Maret lalu, Grosvenor memberikan USD 3,1 juta untuk badan amal yang membantu memberikan makanan bagi keluarga yang biasanya hanya bergantung pada makanan gratis dari sekolah untuk anak-anak mereka.

Sebagai informasi, Grosvenor yang saat ini berusia 29 tahun, berada di peringkat nomor 102 pada Indeks Billionaires Bloomberg dan memiliki kekayaan bersih sekitar USD 12,7 miliar.

Keluarganya memiliki salah satu perusahaan real estat milik swasta terbesar di dunia dan memiliki beberapa properti paling eksklusif dan mahal di London.

Grosvenor dinobatkan sebagai salah satu dari tujuh wali baptis Pangeran George pada 2013.

 

**Ayo berdonasi untuk perlengkapan medis tenaga kesehatan melawan Virus Corona COVID-19 dengan klik tautan ini.

 

 

2 dari 2 halaman

Rencana Rilis Tes Antibodi, Harta Miliarder Italia Bertambah Rp 7,2 Triliun

Perusahaan asal Italia, DiaSorin milik miliarder bioteknologi Gustavo Denegri, berencana merilis tes serologi untuk mendeteksi antibodi covid-19, pada akhir April.

Kabar  tersebut mendorong saham perusahaan naik hampir 6 persen pada Selasa kemarin, dan naik lebih dari 13 persen untuk minggu ini. Alhasil, kekayaan Denegri bertambah hampir USD 434 juta (Rp 7,2 triliun), dari total saat ini sekitar USD 3,9 miliar (Rp 64,3 triliun).

Berbeda dengan tes swab yang menentukan apakah seseorang saat ini memiliki virus, tes serologi adalah tes darah jari untuk menemukan keberadaan antibodi COVID-19.

Ketika hasilnya positif, berarti orang tersebut sebelumnya telah terinfeksi covid-19 dan kemungkinan telah mengembangkan sistem kekebalan tubuh terhadap virus.

Melansir dari laman Forbes, Rabu (15/4/2020), DiaSorin menyatakan bahwa pihaknya sedang berupaya mendapatkan otorisasi untuk pengujian dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan AS dan Uni Eropa pada akhir April.

"Tes baru untuk mendeteksi antibodi IgG akan membantu mengidentifikasi mereka yang telah mengembangkan tanggapan kekebalan terhadap virus karena mereka sudah terinfeksi," kata CEO DiaSorin, Carlo Rosa.

Otoritas regional di Tuscany dan Veneto berencana untuk memulai pengujian tes serologi, dengan tujuan akhirnya mengeluarkan apa yang disebut "lisensi imunitas" kepada mereka yang dinyatakan positif untuk antibodi.

Ini bukan upaya pertama Denegri dalam perang melawan covid-19. Sebelumnya, pada awal Maret, DiaSorin merilis tes covid-19 cepat yang memangkas waktu pengujian dari 6-7 jam menjadi hanya 60 menit.

Perusahaan, yang didirikan di Saluggia, Italia, pada tahun 1968 itu, juga melakukan tes diagnostik untuk penyakit menular lainnya, termasuk virus zika dan flu babi H1N1.