Sukses

Menperin Harap Cabot Bantu Tekan Defisit Neraca Perdagangan

Liputan6.com, Jakarta - Cabot Corporation resmi melakukan peletakan batu pertama untuk proyek peningkatan kapasitas produksi serat karbon hitam (carbon black) di Cilegon, Banten, pada Kamis (21/11/2019).

Dengan adanya peningkatan kapasitas produksi ini, Cabot Corporation akan menambah sekitar 80 ribu metrik ton kapasitas produksi tahunan, yang diharapkan akan selesai pada 2021.

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita yang turut hadir pada kesempatan tersebut berharap, Cabot dapat bantu menekan defisit neraca perdagangan yang dialami negara, yakni dengan menghasilkan substitusi impor untuk produksi black carbon.

"Nah ini yang sekarang dilakukan oleh Cabot, dimana Cabot akan menambah produksi dari black carbon yang diproduksi dari fase pertama perkembangan industri ini," ujar Menteri Agus dalam acara persemian di Cilegon, Banten, Kamis (21/11/2019).

Lebih lanjut, Menperin Agus mengutip catatan bahwa kebutuhan serat karbon hitam di industri dalam negeri saat ini masih sangat bergantung dari pasokan impor yang mencapai 70 persen dari total kebutuhan.

"Berdasarkan data yang saya terima, kebutuhan dari carbon black yang berasal dari dalam negeri sebesar 230 ribu ton per tahun. Dan 70 persen dari kebutuhan tersebut masih diimpor dari berbagai macam negara, termasuk China dan India," cibirnya.

Oleh karenanya, ia berharap agar Cabot bisa bantu sokong kebutuhan serat karbon hitam di industri dalam negeri hingga menekan defisit neraca perdagangan, lewat substitusi impor sebesar Rp 1,5 triliun.

Sebagai catatan, angka Rp 1,5 triliun itu merupakan nilai rupiah dari hasil produksi black carbon dari Cabot, yang sekitar 90 ribu metri ton per tahun.

"Maka dengan ekspansi dari Cabot, Kita harapkan substitusi impor yang sebesar 90 ribu ton per tahun atau Rp 1,5 triliun per tahun bisa menekan defisit neraca perdagangan di industri perdagangan,"

2 dari 3 halaman

Mendag dan Menperin Diminta Copot Kepentingan Politis

Pengamat Ekonomi Bhima Yudhistira menilai, banyak pengangkatan menteri pada Kabinet Indonesia Maju periode 2019-2024 yang bersifat politis.

Seperti penunjukan Menteri Perdagangan (Mendag) Agus Suparmanto dan Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita, yang keduanya merupakan politikus.

"Itu kental nuansa kepentingan politis nya dibanding kinerja profesional," ujar Bhima kepada Liputan6.com, Rabu (23/10/2019).

Sebagai informasi, Agus Suparmanto merupakan politikus berbendera Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang juga seorang Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Anggar Seluruh Indonesia (IKASI) untuk masa jabatan 2018-2022.

Sementara itu, Agus Gumiwang Kartasasmita memiliki latar belakang sebagai seorang politisi Partai Golkar. Dia juga bukan merupakan orang baru di kabinet, sebab sempat menjabat menjadi Menteri Sosial (Mensos) menggantikan Idrus Marham sejak Agustus 2018.

Lebih lanjut, Bhima mengimbau kepada duo Agus yang menjadi menteri agar keduanya mau melepaskan kepentingan politis, serta berfokus pada tugas barunya selaku Mendag dan Menperin.

"Ke depan tantangan makin berat, khususnya mencegah berlanjutnya deindustrialisasi dini dan mengurangi defisit neraca dagang. Karena diisi oleh politisi, isu besarnya adalah mengelola agenda politik dan profesionalitas kerja," ungkapnya.

"Harapannya, jangan sampai tahun 2022 fokus terpecah. Ada yang ngurus ekonomi ada juga yang cari dana kampanye. Itu berbahaya," imbuh Bhima. 

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Produksi Sepeda Motor Januari-Oktober Tembus 6,2 Juta Unit
Artikel Selanjutnya
Pabrik Baru Diminta Serap Pekerja Lokal, Ini Jawaban Cabot