Sukses

Shell Bakal Bangun SPBU Kendaraan Listrik

Liputan6.com, Jakarta - PT PLN Distribusi Jakarta Raya (Disjaya) akan melakukan kerjasama dengan perusahaan minyak asal Belanda Shell, untuk pengadaan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU).

General Manager PLN Disjaya M Ikhsan Asaad mengatakan, Shell berniat membangun dua unit SPKLU di Jakarta pada tahun ini, untuk mendukung penggunaan kendaraan listrik di Indonesia.

"Shell mau pasang dua, satu di Cawang satu Tol Jagorawi," kata Ikhsan, di Jakarta, Jumat (8/11/2019).

Menurut Ikhsan, Shell telah memin‎ta masukan dari PLN untuk menetukan letak SPKLU yang aman. Pasalnya, fasilitas pengisian energi kendaraan listrik tersebut dibangun dalam satu area dengan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).

Untuk merealisasikan rencana tersebut, PLN dan Shell dalam waktu dekat melakukan penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MOU).

"Kita di minta masukan lahan, segera Mou, mereka rencananya tahun ini," tuturnya.

Dia melanjutkan, Shell telah berpengalaman menyediakan fasilitas SPKLU di Singapura, namun untuk pengoperasian SPKLU Shell masih menunggu kebijakan tarif listrik khusus untuk kendaraan listrik.

"‎Mereka sudah mengoperasikan di Singapura, di sana dia punya tarifnya setara Rp 5 ribu per kWh, tapi saya kira nggak mungkin (di Indonesia)Rp 5 ribu)," tandasnya.

2 dari 3 halaman

Kendaraan Listrik Ancam Bisnis SPBU Pertamina

Guru besar FEB Universitas Indonesia, Rhenald Kasali, mengatakan percepatan penerapan kendaraan listrik di Indonesia akan membuat bisnis pom bensin milik PT Pertamina terancam. Sebab, kendaraan listrik nantinya hanya akan membutuhkan baterai listrik berbahan litium.

"Komponen terbesarnya adalah ada di baterai dan pajaknya tentunya. Saudara-saudara nanti mungkin SPBU akan berkurang, tidak sebanyak sekarang. Sementara kita masih invest banyak sekali kilang minyak karena kita banyak membangun jalan tol baru," ujarnya di Gedung Dhanapala, Jakarta, Kamis (3/10).

"Mungkin nanti yang terjadi bukan lagi stasiun pengisian pompa bensin, yang kemudian stasiun pengisian kendaraan listrik, bukan itu barang kali. Karena tidak mungkin orang mengisi baterai 1-2 jam di pom bensin atau pom listrik, yang ada adalah orang kasih akinya. Akinya diisi, mirip tabung gas melon itu," sambungnya.

Rhenald melajutkan, ke depan industri komponen mobil juga akan tergantikan dengan industri. Sebagian besar komponen mobil yang ada saat ini akan menyesuaikan dengan komponen mobil listrik yang dikenal lebih simpel.

"Dapatkah anda bayangkan apa yang terjadi dengan Pertamina? apa yang terjadi nanti kalau kendaraan semakin hari semakin banyak mobil berbahan bakar listrik. 40 sampai 60 persen komponen kendaraan yang sudah ada industrinya barangkali sudah tidak relevan lagi. Karena industri kendaraan berbasis listrik itu sangat simpel," jelasnya.

Meski demikian, dia menambahkan, industri listrik nantinya akan diuntungkan dengan adanya kendaraan listrik. Kondisi tersebut juga akan membuat perusahaan menciptakan baterai yang memiliki harga yang mampu bersaing di pasaran.

"Coba saudara bayangkan, apa akibat dari perpres percepatan kendaraan listrik? Kalau kemudian nanti di Morowali, Indonesia berhasil memproduksi baterai berbahan litium, nanti harga baterainya semakin hari pasti semakin murah," tandasnya.

Reporter: Anggun P. Situmorang

Sumber: Merdeka.com 

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Mobil Listrik dan B20 jadi Jurus Pemerintah Tekan Emisi Karbon
Artikel Selanjutnya
Masa Transisi Kendaraan Listrik di Indonesia, Menuju Transportasi Tanpa Polusi