Sukses

Kebijakan Trump Akhiri Shutdown AS Sumbang Penguatan Rupiah

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump setuju mengakhiri penutupan sebagian pemerintahan AS atau shutdown AS yang sudah berlangsung selama 35 hari.

Dia setuju membuka penutupan pemerintahan AS tanpa mendapatkan dana yang dia minta dari kongres untuk tembok perbatasan.

Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual mengatakan, kebijakan AS menutup dan membuka kembali pemerintahan turut membuat rupiah menguat. Ini karena pasar melihat ada ketidakpastian kebijakan di negara Paman Sam tersebut.

Pasar juga mulai menimbang-nimbang ketika ingin melakukan investasi di AS. Hal itu terlihat dari tindakan beberapa pengusaha meminta bunga yang lebih tinggi untuk investasi jangka waktu 2 tahun dibandingkan 10 tahun. 

"Mungkin rupiah tidak melemah lagi. Saya lihat orang sekarang di AS sudah minta bunga yang lebih tinggi untuk jangka waktu 2 tahun dibandingkan 10 tahun. Itu ciri-ciri negara bisa jadi krisis atau resesi karena kalau jangka pendek berarti dia melihat ada ketidakpastian di AS," ujar dia di Kantor ISEI, Jakarta, Senin (28/1/2019).

David melanjutkan, kondisi tersebut membuat aliran modal perlahan kembali masuk ke Indonesia. Ke depan, rupiah diprediksi masih menguat jika pasar menilai kondisi kebijakan di AS belum cukup ramah untuk investor.

"Jadi aliran dana sudah mulai masuk Indonesia lagi. Jadi kalau nanti tidak shutdown, belum tentu dipenuhi juga anggarannya, demokrat sekarang cukup kuat juga. Jadi akan ada banyak friksi-friksi yang membuat ketidakpastian. Jadi saya rasa ini momentum bagus buat kita untuk itu," ujar dia.

 

Reporter: Anggun P.Situmorang

Sumber: Merdeka.com

2 dari 2 halaman

Empat Hal Ini Bikin Rupiah Perkasa terhadap Dolar AS

Sebelumnya, nilai tukar Rupiah terhadap USD terus menguat dalam beberapa waktu terakhir. Hari ini Rupiah dibuka pada level Rp 14.035, menguat jika dibandingkan dengan posisi penutupan perdagangan sebelumnya sebesar Rp 14.092 per USD.

Gubernur Bank Indonesia Perry Wajiyo mengatakan ada empat faktor yang membuat Rupiah mengalami perbaikan positif. Pertama, kepercayaan investor asing menanam dananya di Indonesia terus menguat dilihat dari aliran dana masuk.

"Satu bahwa confident investor asing terus kuat dan itu terbukti dari terus masuknya aliran modal asing tidak hanya PMA tapi juga investasi portofolio baik di obligasi saham maupun jenis-jenis aset lain," ujar Perry di Kantor ISEI, Jakarta, Senin 28 Januari 2019.

Kedua, penguatan sinergi kebijakan antara pemerintah, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Beberapa di antaranya adalah menghilangkan prosedur yang tidak penting dalam rangka mendorong ekspor dan melakukan penataan logistik.

"Selanjutnya kita akan kontribusi dan kerja sama dengan pemerintah untuk dorong ekspor baik otomotif, elektronik, garmen maupun mamin. Di samping mempersiapkan kebijakan lanjutan untuk substitusi impor baik di baja maupun farmasi," ujar dia.

Ketiga adalah mekanisme pasar yang semakin berkembang bahwa pasar tidak hanya bergantung pada spot, swap tapi juga Domestic Non Delivery Forward (DNDF). "Dari waktu ke waktu volume DNDF terus berlangsung. Kami pastikan bahwa likuiditas valas ada. Baik di spot, swap dan DNDF," tutur dia.

Faktor keempat, kata Perry adalah ketahanan eksternal Indonesia yang semakin membaik termasuk sisi transksi berjalan lebih rendah dan aliran modal asing.

"Surplus neraca modal yang semakin meningkat, jadi secara keseluruhan sisi fundamental neraca pembayaran lebih baik dengan CAD yang menurun dan siklus neraca modal semakin meningkat," tandasnya.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

Loading
Artikel Selanjutnya
Tensi 2 Negara Masih Tinggi Jelang Pertemuan Bilateral Erdogan - Trump
Artikel Selanjutnya
Rupiah Kembali Tertekan Imbas Trump Sebut China Curang