Sukses

Gara-Gara Iklan Kontroversial, Pembeli Bakar Sepatu

Liputan6.com, Beaverton - Perusahaan perlengkapan olahraga Nike memicu kontroversi karena memakai atlet NFL Colin Kaepernick sebagai wajah iklan terbaru mereka. Seperti diketahui, Kaepernick memang memiliki kontroversi berbau politis.

Fans di Amerika Serikat (AS) tidak terima dengan penunjukkan itu, bahkan ada yang sampai membakar sepatu atau merusak kaos kaki Nike sembari disebar di media sosial. Kontan aksi tersebut menjadi perhatian media AS.

Ada apa dengan Colin? Tentunya jarang seorang atlet bisa membuat kontroversi begitu besar. Bahkan, Reuters saham Nike turun lebih dari 2 persen setelah Colin mengepos iklan tersebut di akun media sosialnya.

Colin Kaepernick adalah atlet American Football yang dulu bermain di San Fransisco 49ers. Dia menjadi sumber kontroversi ketika menolak berdiri saat lagu kebangsaan dimainkan sebelum pertandingan. Awalnya, dia duduk saja di bangku saat pemain berdiri saat lagu kebangsaan dinyanyikan, setelahnya dia memutuskan untuk duduk berlutut.

Dia mennjustifikasi aksinya karena negaranya disebut menindas orang-orang kulit hitam. "Saya tidak akan berdiri untuk menunjukkan kebanggaan bagi sebuah negara yang menindas orang-orang kulit hitam dan kulit berwarna," jelas dia pada 2016 lalu seperti dikutip NFL.

Pihak tim 49ers sendiri mengaku tak bisa menggugat hak Colin untuk tidak berdiri saat lagu kebangsaan, sebab itu hak pilihan pribadi. Tetapi, masih di 2016, Kaepernick memutuskan tidak melanjutkan kontraknya.

Dalam iklan Nike yang merayakan 30 tahun hari lahir perusahaan itu, wajah Colin tampil dalam foto hitam-putih, bertuliskan "Percaya pada sesuatu. Bahkan bila itu mengorbankan segalanya."

2 dari 2 halaman

Diprotes, Nike Naikkan Gaji 7.000 Karyawan

Sekitar 7.000 pegawai Nike di seluruh dunia akan mendapatkan kenaikan gaji. Langkah ini diambil Nike atas respons terhadap tudingan pelanggaran di tempat kerja dan diskriminasi terhadap perempuan.

Dilansir dari New York Times, menurut memo internal perusahaan, Nike sedang berupaya menjaga budaya perusahaan di mana para pegawai merasa dilibatkan dan diberdayakan.

Kenaikan gaji ini akan diberikan pada 10 persen dari 74 ribu pegawai yang ditempatkan di seluruh dunia, dan merupakan hasil dari peninjauan internal terkait gaji.

Sebelumnya, pegawai perempuan Nike sempat protes keras. Akarnya adalah mereka tidak tahan pada perusahaan yang dianggap menoleransi perilaku buruk dan tidak menyertakan perempuan di pekerjaan level atas. 

Dua bulan sebelumnya, CEO Nike Mark Parker sudah berjanji akan mengubah kompensasi dan program pelatihan manajemen agar lebih mencerminkan tujuan dalam penyetaraan gaji dan keragaman tenaga kerja.

Parker pun meminta maaf karena tidak menyadari ketidaknyamanan yang dirasakan pegawai. Terhitung setidaknya ada 11 manajer senior yang hengkang setelah adanya investigasi terkait pelecehan dan diskriminasi.

Nike juga mengumumkan perubahan menghitung bonus pegawai yang sebelumnya didasarkan pada kombinasi performa korporat, tim, dan individual. Sekarang, perhitungan bonus diutamakan dihitung oleh hasil perusahaan.