Sukses

Krisis Turki Bikin IHSG Tersungkur 3,2 Persen pada Sesi Pertama

Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona merah selama sesi pertama perdagangan saham Senin pekan ini. IHSG bahkan alami penurunan tajam imbas krisis Turki dan rupiah yang tertekan.

Pada penutupan sesi pertama perdagangan saham, Senin (13/8/2018), IHSG anjlok 3,29 persen atau 200,13 poin ke posisi 5.877,04. Indeks saham LQ45 susut 4 persen ke posisi 924,57. Seluruh indeks saham acuan tertekan.

Sebanyak 369 saham melemah sehingga menyeret IHSG ke zona merah. 32 saham menguat dan 70 saham diam di tempat.

Pada sesi pertama perdagangan saham, IHSG sempat berada di level tertinggi 6.034,56 dan terendah 5.875,35.

Transaksi perdagangan saham cukup ramai. Total frekuensi perdagangan saham 227.289 kali dengan volume perdagangan saham 4,9 miliar saham.

Nilai transaksi harian saham Rp 4,1 triliun. Investor asing jual saham Rp 505,96 miliar di pasar regular. Posisi dolar Amerika Serikat (AS) di posisi Rp 14.622.

10 sektor saham kompak tertekan. Sektor saham keuangan turun 4,08 persen, dan catatkan penurunan terbesar. Disusul sektor saham industri dasar tergelincir 3,99 persen dan sektor saham aneka industri melemah 3,64 persen.

Saham-saham yang mampu menguat di tengah tekanan IHSG antara lain saham FILM naik 24,59 persen ke posisi 760 per saham, saham ASJT melonjak 11,11 persen ke posisi 380 per saham, dan saham JIHD mendaki 7,96 persen ke posisi 488 per saham.

Sedangkan saham-saham yang tertekan antara lain saham SDRA merosot 13,79 persen ke posisi 750 per saham, saham FREN susut 12,21 persen ke posisi 115 per saham, dan saham  TRUK melemah 11,28 persen ke posisi 173 per saham.

10 sektor saham kompak tertekan. Indeks saham Hong Kong Hang Seng melemah 1,76 persen, indeks saham Korea Selatan Kospi turun 1,66 persen, indeks saham Jepang Nikkei merosot 1,68 persen.

Selain itu, indeks saham Shanghai turun 1,79 persen, indeks saham Singapura merosot 1,22 persen dan indeks saham Taiwan tergelincir 2,11 persen.

Analis PT Binaartha Sekuritas, Nafan Aji menuturkan, pelemahan IHSG dipengaruhi faktor eksternal yaitu krisis keuangan Turki.

Hal itu timbul akibat penerapan kenaikan tarif baja dan aluminium dari Turki serta tidak adanya langkah pencegahan dari otoritas Turki yang sebabkan terjadinya depresiasi lira yang begitu signifikan terhadap dolar Amerika Serikat.

"Keadaan tersebut juga mempengaruhi depresiasi rupiah yang begitu signifikan karena sempat senth level 14.699 per dolar AS. Di sisi lain, adapun sentimen positif dari dalam negeri masih minim,” ujar Nafan saat dihubungi Liputan6.com.

 

1 dari 2 halaman

Bursa Asia Melemah Imbas Krisis Turki

Bursa saham Asia tergelincir pada perdagangan saham awal pekan ini. Bahkan euro capai posisi terendah dalam satu tahun.

Hal itu lantaran mata uang Turki lira melemah berimbas ke mata uang Afrika Selatan rand dan mendorong permintaan aset investasi yang aman antara lain dolar Amerika Serikat, frans Swiss dan yen Jepang.

Krisis Turki pun menyeret indeks saham MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun 1,3 persen ke posisi terendah dalam lima minggu. Indeks saham Jepang Nikkei melemah 1,6 persen dan indeks saham acuan lainnya di bursa Asia tertekan.

Indeks saham S&P 500 futures melemah 0,4 persen. Imbal hasil surat berharga Amerika Serikat (AS) bertenor 10 tahun turun ke posisi 2,85 persen.

Indeks saham unggulan di China pun merosot 1,4 persen. Indeks saham Hong Kong Hang Seng tergelincir 1,6 persen seiring dolar Hong Kong juga tertekan.

Euro pun melemah, diikuti lira Turkis berada di posisi terendah di kisaran 7,2400. Lira sedikit dapat dukungan saat Menteri Keuangan Turki Berat Albayrak mengatakan sedang susun rencana aksi untuk meredakan kekhawatiran investor. Pengawas perbankan pun batasi transaksi swap.

Mata uang Lira jatuh pada kekhawatiran atas Presiden Turki Tayyip Erdogan yang meningkatkan kontrol ekonomi dan memburuknya hubungan dengan Amerika Serikat (AS).

"Lira yang tertekan yang dimulai pada Mei sekarang terlihat pasti mendorong ekonomi Turki ke dalam resesi dan mungkin memicu krisis perbankan,” ujar Ekonom Capital Economics, Andrew Kenningham.

Ia menambahkan, hal tersebut akan menjadi pukulan bagi aset emerging market atau negara berkembang.

Kenningham mencat, produk domestik bruto (PDB) tahunan Turki sekitar USD 900 miliar atau hanya satu persen dari ekonomi global dan sedikit lebih kecil dari Belanda.

"Pasar saham Turki kurang dari dua persen dari ukuran pasar Inggris. Hanya 20 persen dipegang non-residen. Meski demikian, masalah Turki adalah angin lebih lanjut untuk euro dan bukan kabar baik untuk aset negara berkembang,” ujar dia.

Terhadap dolar Amerika Serikat, euro sentuh posisi titik terendah sejak Juli 2017 di posisi USD 1,13700. Dolar Amerika Serikat (AS) melemah terhadap yen ke posisi 110,21. Akan tetapi, sedikit menguat terhadap sejumlah mata uang ke posisi 96,43.

Peso Argentina dan rand Afrika Selatan juga melemah terhadap dolar AS. “Risiko penularan terjadi di bank-bank Spanyol, Italia dan Prancis yang terkena utang mata uang asing Turki, Argentina, dan Afrika Selatan,” tulis analis ANZ.

Di pasar komoditas, harga emas berada di posisi USD 1.208,21 per ounce. Sedangkan harga minyak Brent susut 14 sen menjadi USD 72,67 per barel. Sementara itu, minyak mentah AS naik dua sen menjadi USD 67,65.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

Saksikan Live Streaming Sidang Tahunan MPR & Pembacaan Nota RAPBN 2018

Tutup Video
Artikel Selanjutnya
Sri Mulyani: Rupiah Tembus 14.600 per Dolar AS Imbas dari Krisis Turki
Artikel Selanjutnya
Bursa Asia Kompak Melemah Imbas Krisis Turki