Sukses

Menteri Rini Buka Peluang Ratu Prabu Gandeng BUMN Garap LRT

Liputan6.com, Indramayu - Menteri BUMN Rini Soemarno menanggapi positif keinginan perusahaan swasta, PT Ratu Prabu Energy Tbk, untuk membangun Light Rail Transit (LRT) di Jabodetabek. Hal ini menjadi bukti bahwa proyek infrastruktur transportasi di Indonesia ternyata diminati perusahaan swasta.

Rini mengaku, saat ini beberapa kota besar memang sangat membutuhkan transportasi masal yang efisien dan murah. Penyebabnya karena peningkatan infrastruktur jalan tidak bisa mengimbangi pertumbuhan kendaraan bermotor.

Dengan banyaknya swasta berpartisipasi dalam proyek infrastruktur, ditegaskan Rini, sangat membantu pemerintah dalam membangun bangsa ini.

"Jadi kami tujuan agar transportasi massal terbangun khususnya di Jakarta dan sekitarnya, yang memang itu menjadi sebuah keharusan untuk sekarang ini. Kalau mau memang ada swasta, ya silahkan saja," ujar Rini di Indramayu, Jawa Barat, Kamis (11/1/2018).

Proyek LRT saat ini dipercayakan pembangunannya kepada BUMN, karena pemerintah membutuhkan percepatan. COntohnya di Palembang,  pembangunan LRT dikebut untuk mengejar pelaksanaan Asian Games 2018. Sementara proyek LRT di Jabodebek ditargetkan rampung pada 2019.

Rini mengatakan pemerintah juga membuka pintu lebar jika perusahaan tersebut ingin menggandeng BUMN dalam pengerjaannya. "Kami kalau bersama-sama boleh, swasta sendiri boleh, kami ikut saja," tambah Rini.

PT Ratu Prabu EnergiTbk (ARTI) berencana membangun LRT di Jakarta dengan total nilai investasi US$ 28 miliar hingga US$ 30 miliar. Pembangunan akan dilakukan secara bertahap, yakni untuk fase pertama dengan nilai investasi US$ 8 miliar.

 

1 dari 2 halaman

Hitungan Pendapatan

Direktur Utama Ratu Prabu Energi B Bur Maras mengatakan, perseroan menyatakan minat karena membangun LRT memberi keuntungan besar.

Dia mencontohkan di Amerika Serikat (AS) setiap penumpang akan membayar US$ 1,5 untuk naik LRT. Jadi, jika dihitung pergi-pulang, setiap orang akan menggelontorkan uang US$ 3.

Jika jumlah penumpang yang naik setiap harinya 5 juta orang, pendapatan per hari bisa menembus US$ 15 juta.

"Seorang bayar US$ 3 dolar sehari kalau ada 5 juta orang naik itu, 5 juta kali US$ 3 sama dengan US$ 15 juta. Aku dapat duit US$ 15 juta sehari," kata dia di kantornya, Jakarta, Selasa (9/1/2018).

Dalam setahun, secara kasar pendapatan yang diterima bisa mencapai US$ 5,4 miliar. Tentu itu juga akan dikurangi dengan biaya operasional.

"Coba kalikan US$ 15 juta sehari kali 365 sama dengan US$ 5,4 miliar setahun. Kalau modal US$ 8 miliar, dengan US$ 5 juta setahun tentu ada ongkos operasi segala macam, kalau untung 30 persen setahun, enam tahun kembali. Sangat bagus bisnis. Itu perhitungan saya," ungkapnya.

Artikel Selanjutnya
Biaya Terlalu Mahal, DPRD DKI Akan Bentuk Pansus LRT
Artikel Selanjutnya
Menteri Rini Asyik Berjoget Dangdut di Sentul