Sukses

Sejumlah Investor Asing Jajaki Kerja Sama dengan REI

Liputan6.com, Jakarta - Pasar properti Indonesia menjadi incaran banyak developer atau pengembang asing. Dalam 2-3 tahun terakhir investasi langsung pengembang asing sudah mulai terlihat, baik di dalam maupun luar Jabodetabek. Sementara sebagian lagi masih melakukan penjajakan dan bersiap masuk ke Indonesia.

Saat ini sejumlah pengembang yang telah masuk berinvestasi di Indonesia mayoritas berasal dari Jepang, Singapura, China, Hong Kong dan juga Swiss.

Wakil Ketua Umum DPP Persatuan Realestat Indonesia (REI) Rusmin Lawin menilai Indonesia masih memiliki potensi besar untuk menarik investasi asing di industri properti dalam beberapa tahun mendatang.Selama ini Indonesia mampu menjaga stabilitas politik dan iklim makro ekonomi yang kondusif sehingga menarik asing untuk berinvestasi.

Perkembangan proyek-proyek infrastruktur juga turut berdampak positif terhadap sektor properti atau real estat di Indonesia. Hal tersebut karena pengembangan suatu kawasan maupun permukiman selalu mengikuti perkembangan infrastruktur.

"REI melihat masuknya banyak investasi pengembang atau ritel asing itu cukup positif. Karena itu justru akan membawa energi baru bagi perekonomian nasional. Investasi langsung asing atau Foreign direct investment (FDI) itu adalah salah satu mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia. Jadi semakin banyak, semakin tinggi tentu akan semakin bagus," ungkap Rusmin Lawin kepada Liputan6.com, Senin (10/4/2017).

Dia menambahkan, saat ini banyak sekali investor yang sudah dan akan datang berkunjung ke REI untuk menjajaki kerja sama pembangunan properti di Indonesia. Tidak hanya di Jabodetabek, tetapi juga di daerah lain. Bahkan beberapa kepincut untuk bisa turut berkontribusi dalam pembangunan rumah rakyat (low cost housing) di sejumlah daerah.

Beberapa investor asing yang sudah bertemu dan menyampaikan minatnya berinvestasi kepada REI antara lain investor Kamboja, Jepang, Thailand, Korea Selatan, Hongkong, China dan Arab Saudi.

Lakukan Roadhow

Dalam waktu dekat, menurut Rusmin, delegasi REI juga akan melakukan roadshow untuk mempromosikan potensi pasar properti Indonesia ke Jepang, Hongkong dan Macau.

"Pengembang Jepang banyak yang tertarik mau masuk kemari, karena mereka lihat developer China agresif di sini. Selama ini mereka mengeluh susah dapat lahan untuk pengembangan di Indonesia," kata pengusaha muda yang juga menjabat Sekretaris Jenderal Federasi Real Estate Internasional (FIABCI) Asia Pasifik.

Rusmin menegaskan REI akan fokus bekerjasama dengan pengembang-pengembang asing tadi dengan tiga syarat. Yakni transfer permodalan, transfer pengetahuan dan pengalaman, serta transfer teknologi. Menurut dia, Korea Selatan dan Jepang memiliki keunggulan dalam sisi teknologi terutama bangunan tahan gempa yang hingga kini teknologi mereka belum ada tanding.

Selain itu, semua kerja sama tersebut wajib bersinergi dengan pengembang anggota REI terutama di daerah seperti misi REI untuk memberdayakan pengembang daerah. Jadi intinya, Rusmin menuturkan, REI harus mampu memberikan manfaat bagi anggotanya terutama di daerah.

Pola kerja samanya, menurut dia, nanti bisa joint operation (JO) atau joint venture (JV). Jadi lahan bisa milik pengembang REI, dan investor asing menjamin pasokan dana dan teknologinya.

 

 

Loading